pesanan-baju-kaos
30 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 1 November, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
2 days ago
in Tafsir
0
Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Foto: Panjimas

Landasan Teologis

اَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ ۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

”Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Teman Paling Baik Menurut Al-Qur’an

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Transaksi Terbaik Orang Beriman dengan Allah

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Al-Kalbi dan Muqatil mengatakan, ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, satu tahun setelah hijrah. Pada suatu hari, mereka bertanya kepada Salman Al-Farisi, “Ceritakanlah kepada kami tentang Taurat, karena di dalamnya terdapat hal-hal yang menakjubkan.”

Maka, Salman menjelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur’an merupakan kisah yang lebih baik daripada kisah-kisah lainnya.



Setelah itu, mereka berhenti bertanya kepada Salman selama waktu yang dikehendaki Allah. Kemudian, mereka kembali bertanya kepada Salman tentang hal serupa. Mereka pun kembali berhenti bertanya kepadanya selama waktu yang dikehendaki Allah.

Setelah itu, mereka kembali lagi dan berkata, “Ceritakanlah kepada kami tentang Taurat, karena di dalamnya terdapat hal-hal yang menakjubkan.”

Maka, turunlah ayat ini, “Belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman untuk tunduk dan khusyuk hati mereka dalam mengingat Allah?” (QS Al-Hadid: 16). Maksudnya adalah menampakkan ketundukan secara lahiriah dan melalui lisan.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman.

Ibnu Abbas berkata: “Allah menganggap hati orang-orang beriman lambat dalam mencapai kekhusyukan. Oleh karena itu, Allah menegur mereka ketika telah berlalu tiga belas tahun sejak turunnya Al-Qur’an.”

Maka Allah berfirman, “Bukankah telah tiba waktunya?” (QS Al-Hadid: 16). Maksudnya, bukankah telah tiba saatnya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka menjadi khusyuk, lembut, dan tunduk ketika mengingat Allah?

Interpretasi Para Mufasir

Tafsir Al-Qurthubi menyebutkan, ayat ini mengandung dorongan agar seseorang bersungguh-sungguh dalam melembutkan dan mengkhusyukkan hatinya kepada Allah Ta’ala serta terhadap kitab dan hikmah yang telah Dia turunkan.

Ayat ini juga mengajarkan agar orang-orang Mukmin senantiasa mengingat nasihat-nasihat Ilahi dan hukum-hukum syariat pada setiap waktu, serta melakukan introspeksi terhadap diri mereka berkenaan dengan hal tersebut.

Ayat ini juga mengandung beberapa pelajaran penting: 1) Hati perlu senantiasa dilembutkan dengan mengingat Allah dan membaca Al-Qur’an; 2) Keimanan membutuhkan pemeliharaan melalui ketaatan, nasihat, dan introspeksi diri; 3) Kelalaian yang berkepanjangan dapat mengeraskan hati dan kepekaannya terhadap kebenaran berkurang; 4) Jangan menunda untuk memperbaiki hati.

Sementara itu dalam tafsir Al-Baghawi disebutkan, ayat ini memberikan pelajaran penting, yaitu:

  • Hati membutuhkan nasihat secara terus-menerus. Membaca Al-Qur’an tidak cukup hanya dilakukan secara lahiriah, tetapi hendaknya disertai perenungan sehingga hati menjadi lembut dan tunduk kepada Allah.
  • Waktu yang panjang dapat menjadi ujian bagi keimanan. Apabila seseorang terus-menerus lalai dan tidak mengambil pelajaran dari Al-Qur’an, hatinya dapat menjadi keras.
  • Jangan sampai interaksi dengan Al-Qur’an hanya sebatas lisan. Membacanya harus disertai upaya memahami, merenungkan, dan mengamalkan petunjuknya.
  • Teguran Allah merupakan peringatan agar orang beriman memperbaiki keadaan hatinya. Ayat ini mengingatkan bahwa kekhusyukan dan kelembutan hati perlu senantiasa dijaga.

Sedangkan Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan, hati yang hidup akan menerima kebenaran dan tunduk kepada Allah. Sebaliknya, hati yang dibiarkan mengikuti hawa nafsu dan tenggelam dalam kelalaian dapat menjadi keras, hingga seseorang lebih menyukai ajaran yang sesuai dengan keinginannya daripada kebenaran yang datang dari Allah.

Pembelajaran yang diambil dari penjelasan Tafsir Ibnu Katsir:

  • Kekhusyukan merupakan perkara yang sangat penting dalam agama.
  • Hati dapat mengeras apabila terlalu lama dibiarkan dalam kelalaian.
  • Bahaya mengikuti hawa nafsu dalam urusan agama.
  • Jangan menjadikan tokoh agama sebagai pengganti petunjuk Allah.
  • Amar makruf dan nahi mungkar berkaitan erat dengan keadaan hati.
  • Kekhusyukan perlu dijaga sepanjang waktu dengan tersentuh oleh peringatan, janji, maupun ancaman Allah.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa Al-Khalil berkata bahwa ‘itāb yaitu teguran, merupakan bentuk komunikasi yang menunjukkan kedekatan dan kasih sayang, sekaligus mengingatkan seseorang akan perasaan tidak senang terhadap suatu perbuatan.

Adapun firman Allah, “agar hati mereka menjadi khusyuk”, berarti agar hati mereka tunduk dan menjadi lembut ketika mengingat Allah serta mengingat kebenaran yang telah diturunkan-Nya.

Inti pesan ayat ini yaitu bahwa ketika hati mulai lalai, keras, atau jauh dari Allah, seseorang hendaknya segera kembali kepada-Nya. Jangan menunda pertobatan, karena pertanyaan “Belum tibakah waktunya?” merupakan pengingat agar kita tidak terus-menerus menangguhkan perubahan menuju kebaikan.

Sedangkan dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan makna kekhusyukan hati, pengaruh panjangnya waktu terhadap hati manusia, serta peringatan agar umat Islam tidak meniru umat terdahulu yang hatinya menjadi keras.

Orang beriman hendaknya senantiasa menjaga kelembutan dan kekhusyukan hatinya dalam mengingat Allah serta menerima kebenaran Al-Qur’an. Jangan sampai berlalunya waktu, kebiasaan buruk, dan mengikuti hawa nafsu membuat hati menjadi keras sebagaimana yang terjadi pada sebagian umat terdahulu.

Sebuah riwayat dari Syaddad bin Aus menekankan pentingnya kekhusyukan sebagai salah satu sifat yang dapat hilang dari manusia. Kekhusyukan tidak hanya berarti merasa takut, tetapi juga mencakup ketaatan, kelembutan hati, dan kesediaan menerima kebenaran yang diturunkan Allah.

Inti Reflektif

Surat Al-Hadid ayat 16 mengingatkan kita bahwa persoalan terbesar bukanlah ketika kita tidak lagi mendengar nasihat, melainkan ketika hati tidak lagi tersentuh oleh kebenaran. Kita masih membaca Al-Qur’an, mendengar ceramah, dan mengingatkan orang lain, tetapi perlahan kehilangan kepekaan untuk menasihati diri sendiri.

Hati yang keras bukan selalu hati yang tidak mengetahui kebenaran, melainkan hati yang mengetahui kebenaran tetapi terus menunda untuk berubah.

Maka, sebelum bertanya mengapa nasihat tidak lagi menyentuh hati orang lain, marilah bertanya kepada diri sendiri: Sudahkah nasihat yang kita dengar mengubah cara kita hidup?

Sebab, hidayah bukan sekadar tentang seberapa banyak nasihat yang kita dengar, tetapi seberapa tulus kita membuka hati untuk menerima dan mengamalkannya. Jangan sampai telinga kita akrab dengan ayat-ayat Allah, tetapi hati kita semakin jauh dari-Nya.

Nilai-nilai Pedagogis

Surat Al-Hadid ayat 16 mengandung sejumlah nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Nilai Pendidikan Keimanan (Tarbiyah Imaniyah). Ayat ini mengajarkan bahwa iman harus senantiasa dipelihara dan ditingkatkan. Keimanan bukan sekadar identitas keagamaan, melainkan kekuatan spiritual yang mempengaruhi pikiran, perasaan, dan perilaku manusia.

Guru dan orang tua harus menumbuhkan kesadaran  peserta didik bahwa setiap perbuatan berada dalam pengawasan Allah, memberikan contoh teladan nilai tauhid dalam pembelajaran dan kehidupan sehari-hari dan mengajak mengevaluasi kualitas keimanannya. Anak yang tertanam nilai keimanan sejak kecil akan tumbuh menjadi hamba Allah yang bertakwa.

Kedua, Nilai Pendidikan Kelembutan Hati (Tarbiyah Qalbiyah). Ayat ini menunjukkan bahwa hati merupakan pusat perhatian dalam pendidikan Islam. Hati yang lembut lebih mudah menerima nasihat, mengakui kesalahan, memaafkan, dan merasakan penderitaan orang lain. Sebaliknya, hati yang keras cenderung sulit menerima kebenaran, merasa paling benar, dan kurang memiliki kepekaan sosial.

Pendidikan harus menyentuh hati, bukan hanya memenuhi pikiran dengan informasi. Guru dan orang tua harus mendidik dengan kasih sayang, memberikan nasihat yang menyentuh, menghindari penghinaan, dan menumbuhkan empati peserta didik.

Ketiga, Nilai Pendidikan Kesadaran Diri dan Introspeksi (Muhasabah). Dalam ayat ini, Allah tidak langsung menyebut orang-orang beriman sebagai manusia yang gagal, tetapi mengajukan pertanyaan yang menggugah hati agar mereka menyadari perlunya perubahan.

Demikian, pendidikan harus melatih kemampuan seseorang untuk mengevaluasi dirinya sendiri sebelum menilai kesalahan orang lain. Guru dan orang tua harus membiasakan peserta didik untuk refleksi harian, evaluasi perilaku, pengakuan kesalahan, dan perencanaan perbaikan diri. Sehingga anak memahami dan berusaha memperbaiki diri menjadi pribadi yang lebih baik.

Keempat, Pendidikan melalui Nasihat yang Menyentuh Hati (Mau’izhah Hasanah). QS Al-Hadid ayat 16 menunjukkan metode teguran yang kuat secara makna, tetapi diarahkan untuk membangkitkan kesadaran melalui nasihat yang menyentuh hati.

Nasihat yang efektif bukan hanya membuat seseorang mengetahui kesalahannya, melainkan mendorong kesadaran untuk memperbaikinya. Guru dan orang tua harus memberikan teguran dengan hikmah kepada peserta didik, memilih waktu yang tepat, serta menjaga martabat anak ketika melakukan kesalahan. Sehingga anak akan tersentuh dan berusaha memperbaiki kesalahan yang pernah dilakukan.

Landasan Teoretis

Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulum ad-Din mengatakan bahwa hati memiliki peranan sentral dalam kehidupan moral dan spiritual manusia. Penyakit hati seperti kesombongan, riya, hasad, dan kecintaan berlebihan kepada dunia dapat menghalangi manusia untuk menerima kebenaran. Nasihat tidak lagi menyentuh hati apabila seseorang memiliki penyakit hati yang menghalangi penerimaan kebenaran.

Maka diperlukan tarbiyah qalbiyah untuk mengembalikan hati yang menolak kebenaran dengan pendekatan pendidikan yang menekankan pembinaan hati melalui iman, dzikir, ibadah, muhasabah, dan pembiasaan akhlak.

Dengan demikian, nasihat merupakan pintu kesadaran, sedangkan pembiasaan merupakan salah satu jalan untuk menjadikan kesadaran itu sebagai karakter.

Rasulullah SAW bersabda:

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia hati.” (HR Bukhari No. 52 dan Muslim No. 1599)

Para ulama mengatakan dalam kitab Jaami’ul ‘Ulum bahwa hati adalah malikul a’dhoo (rajanya anggota badan), sedangkan anggota badan adalah junuduhu (tentaranya).

Bahaya Hati Tak Lagi Tersentuh Nasihat

Apa bahaya ketika hati tidak lagi tersentuh oleh nasihat? Pertama, semakin sulit menerima kebenaran. Allah SWT berfirman:

ثُمَّ قَسَتْ قُلُوْبُكُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ اَوْ اَشَدُّ قَسْوَةً

“Setelah itu, hatimu menjadi keras sehingga ia (hatimu) seperti batu, bahkan lebih keras.” (QS Al-Baqarah: 74)

Ayat ini menunjukkan betapa seriusnya bahaya hati yang keras.

Kedua, kesombongan semakin menguasai diri. Orang yang tidak bersedia menerima nasihat berisiko menempatkan pendapat dan kepentingannya sendiri di atas kebenaran. Rasulullah SAW bersabda:

الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ

“Kesombongan adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” (HR Muslim)

Hadis ini mengingatkan bahaya dari menolak kebenaran dan berbuat sombong serta merendahkan orang lain.

Ketiga, kehilangan pengaruh dalam kehidupan. Seseorang mungkin masih menjalankan aktivitas keagamaan, tetapi belum berhasil menjadikan nilai-nilainya sebagai pedoman perilaku. Allah SWT berfirman:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-’Ankabut: 45)

Lalu apa penyebab nasihat tidak lagi menyentuh hati? Pertama, terlalu sering melakukan dosa tanpa bertobat. Allah SWT berfirman:

كَلَّا بَلْ ࣝ رَانَ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ مَّا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang selalu mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka.” (QS Al-Muthaffifin: 14)

Ayat ini menggambarkan bahwa perbuatan buruk dapat memberikan pengaruh terhadap keadaan hati. Ketika seseorang terbiasa melakukan kesalahan tanpa berusaha bertobat maka dosa itu akan menutupi hatinya.

Kedua, menyombongkan diri dan merasa paling benar. Allah SWT berfirman:

سَاَصْرِفُ عَنْ اٰيٰتِيَ الَّذِيْنَ يَتَكَبَّرُوْنَ فِى الْاَرْضِ بِغَيْرِ الْحَقِّ ۗ

“Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar dari tanda-tanda (kekuasaan-Ku).” (QS Al-’Araf: 146)

Kesombongan membuat seseorang lebih sibuk mempertahankan harga dirinya daripada mencari kebenaran. Ia mungkin menolak nasihat bukan karena nasihat itu keliru, tetapi karena tidak ingin terlihat salah.

Ketiga, merasa tidak membutuhkan nasihat. Sebagian orang beranggapan bahwa nasihat hanya diperlukan oleh orang yang kurang berilmu. Padahal, semakin luas ilmu seseorang, semestinya semakin besar pula kesadarannya terhadap keterbatasan dirinya.Rasulullah SAW bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ

“Agama itu nasihat.”  (HR Muslim No. 55)

Hadis ini menunjukkan kedudukan penting nasihat yang tulus dalam kehidupan beragama.

Keempat, terlalu mencintai kehidupan dunia. Ketika kedudukan, kekayaan, popularitas, dan pencapaian duniawi menjadi perhatian utama, seseorang dapat kehilangan waktu dan perhatian untuk mengejar akhirat. Dunia bukan sesuatu yang harus ditinggalkan seluruhnya, tetapi tidak boleh membuat manusia melupakan Allah. Allah SWT berfirman:

اَلْهٰىكُمُ التَّكَاثُرُ ۙ

“Berbangga-bangga dalam memperbanyak (dunia) telah melalaikanmu.” (QS At-Takatsur: 1)

Kelima, tidak membiasakan muhasabah. Tanpa evaluasi diri, manusia mudah menganggap perilakunya sudah benar. Muhasabah membantu seseorang menghubungkan nasihat dengan tanggung jawab pribadinya. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَّا قَدَّمَتْ لِغَدٍ ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ خَبِيْرٌۢ بِمَا تَعْمَلُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-Hasyr: 18)

Keenam, menunda tobat dan menunda memperbaiki diri. Allah SWT berfirman:

وَلَيْسَتِ التَّوْبَةُ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السَّيِّاٰتِ ۚ حَتّٰىٓ اِذَا حَضَرَ اَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ اِنِّيْ تُبْتُ الْـٰٔنَ وَلَا الَّذِيْنَ يَمُوْتُوْنَ وَهُمْ كُفَّارٌ ۗ اُولٰۤىِٕكَ اَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابًا اَلِيْمًا

“Tidaklah tobat itu (diterima Allah) bagi orang-orang yang melakukan keburukan sehingga apabila datang ajal kepada seorang di antara mereka, (barulah) dia mengatakan, ‘Saya benar-benar bertobat sekarang.’ Tidak (pula) bagi orang-orang yang meninggal dunia, sementara mereka di dalam kekufuran. Telah Kami sediakan azab yang sangat pedih bagi mereka.” (QS An-Nisa’: 18)

Kembali Menyentuh Hati

Berikut ini cara agar nasihat kembali menyentuh hati. Pertama, menghadirkan kerendahan hati. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ اللَّهَ أَوْحَى إِلَيَّ أَنْ تَوَاضَعُوا حَتَّى لَا يَفْخَرَ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ وَلَا يَبْغِ أَحَدٌ عَلَى أَحَدٍ

“Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku agar kalian bersikap tawadhu’ (merendahkan diri), sehingga tidak ada seorang pun yang bersikap sombong kepada yang lain dan tidak ada seorang pun yang menganiaya yang lain.” (HR Muslim)

Kerendahan hati membantu seseorang menerima kebenaran meskipun disampaikan oleh orang yang lebih muda, kurang terkenal, atau memiliki kedudukan sosial lebih rendah.

Kedua, membiasakan tadabbur Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا

“Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS Muhammad: 24)

Tadabbur berarti merenungkan makna dan pesan ayat serta hubungannya dengan kehidupan. Orang yang senang tadabbur akan mengambil hikmah dari pesan yang disampaikan untuk memperbaiki diri dan menerima kebenaran.

Ketiga, memperbanyak dzikir dengan penuh kesadaran. Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram.” (QS Ar-Ra’d: 28)

Dzikir bukan hanya aktivitas lisan, tetapi juga usaha menghadirkan ingatan kepada Allah dalam hati. Dzikir menjadikan hati tenang dan terbuka menerima kebenaran.

Keempat, segera bertobat ketika menyadari kesalahan. Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا التَّوْبَةُ عَلَى اللّٰهِ لِلَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ السُّوْۤءَ بِجَهَالَةٍ ثُمَّ يَتُوْبُوْنَ مِنْ قَرِيْبٍ فَاُولٰۤىِٕكَ يَتُوْبُ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ ۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

“Sesungguhnya tobat yang pasti diterima Allah itu hanya bagi mereka yang melakukan keburukan karena kebodohan, kemudian mereka segera bertobat. Merekalah yang Allah terima tobatnya. Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS An-Nisa’: 17)

Tobat yang sungguh-sungguh mencakup meninggalkan dosa, menyesalinya, dan bertekad tidak mengulanginya.

Kelima, memilih lingkungan yang mendukung kebaikan. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَكُوْنُوْا مَعَ الصّٰدِقِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tetaplah bersama orang-orang yang benar!” (QS At-Taubah: 119)

Lingkungan yang baik membantu seseorang mempertahankan kesadaran yang diperoleh dari nasihat dan saling mengingatkan dalam kebaikan dan takwa. Lingkungan yang baik akan membawa ketaatan kepada Allah dan menghindari segala bentuk maksiat dan kesombongan diri.

Kisah Teladan

Dalam Kitab Syarh Riyadhus Shalihin karya Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullahu disebutkan kisah teladan tentang ulama yang menegur atau mendidik dengan kelembutan hati yang menyentuh jiwa dapat ditemukan dalam berbagai literatur klasik Islam. Salah satunya kisah interaksi antara seorang ulama besar dan seorang penggembala.

Ketika seorang ulama melihat seseorang bertindak keras atau keliru di jalan, beliau tidak menegurnya dengan amarah atau cacian, melainkan menggunakan kalimat yang penuh hikmah dan kasih sayang.

Sang ulama berkata dengan lembut kepada penggembala tersebut bahwa pendekatan keras tidak akan menyelesaikan masalah dan kecerdasan seseorang tidak pantas ditunjukkan lewat kekerasan.

Sekat permusuhan runtuh seketika, penggembala tersebut langsung meletakkan tongkat pemukulnya, melunak hatinya, dan berangkat menunaikan shalat dengan penuh ketenangan.

Ini contoh tentang bagaimana cara menyampaikan sesuatu. Apabila cara menyampaikan dilakukan dengan cara yang baik maka akan mewujudkan maksud yang diinginkan. Lain halnya jika niatnya baik namun caranya dengan cara-cara yang kasar maka akan terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.

Dalam kisah tersebut, yang terjadi yaitu orang pertama menyikapi penggembala unta dengan keras. Bukannya si penggembala mau diajak pergi ke masjid, namun orang yang diajak marah dan memukul orang yang mengajak. Sedangkan orang yang kedua berhasil mengajak pergi ke masjid, sebabnya karena dia bersikap lembut.

Kelembutan merupakan sesuatu yang bermanfaat. Jauh lebih memberikan manfaat daripada manfaat yang dirasa atau didapatkan dengan cara-cara yang kasar dan keras.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

“Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.” (QS Ali ‘Imran: 8) []

Tags: HatiNasihatProf Dr H Sofyan Sauri MPd
Share18Tweet12Send
Previous Post

Perkuat Branding & Promosi Kampus, UNIDA Gontor Gandeng Primago Consulting Depok

Next Post

PAS Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

Filosofi Ayam Mengerami Telur: Warisan Istiqamah KH Jamhari Abdul Jalal

29 October 2026
Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

Mengenang KH Jamhari Abdul Jalal, Kiai yang Mengajarkan Arti Pengabdian di Luar Pesantren

29 October 2026
Perkuat Branding & Promosi Kampus, UNIDA Gontor Gandeng Primago Consulting Depok

Perkuat Branding & Promosi Kampus, UNIDA Gontor Gandeng Primago Consulting Depok

30 October 2026
UNIDA Gontor Selenggarakan Pelatihan Sinematografi

UNIDA Gontor Selenggarakan Pelatihan Sinematografi

29 October 2026
Peluncuran Rumah Qur’an Magnet Rezeki: Target Bebaskan Indonesia dari Buta Huruf Al-Qur’an

Peluncuran Rumah Qur’an Magnet Rezeki: Target Bebaskan Indonesia dari Buta Huruf Al-Qur’an

28 October 2026
Gontor Putri Kampus 7 Riau Sukses Gelar Ulangan Umum Semester Kedua

Gontor Putri Kampus 7 Riau Sukses Gelar Ulangan Umum Semester Kedua

0
PAS Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building

PAS Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building

0
UNIDA Gontor Ikuti Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge PAI

UNIDA Gontor Ikuti Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge PAI

0
Pascasarjana UNIDA Gontor Gelar Kuliah Pakar tentang Integrasi AI dalam Pembelajaran dan Pengajaran Beretika

Pascasarjana UNIDA Gontor Gelar Kuliah Pakar tentang Integrasi AI dalam Pembelajaran dan Pengajaran Beretika

0
Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

0
Gontor Putri Kampus 7 Riau Sukses Gelar Ulangan Umum Semester Kedua

Gontor Putri Kampus 7 Riau Sukses Gelar Ulangan Umum Semester Kedua

31 October 2026
UNIDA Gontor Ikuti Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge PAI

UNIDA Gontor Ikuti Workshop Nasional Penguatan Body of Knowledge PAI

31 October 2026
Pascasarjana UNIDA Gontor Gelar Kuliah Pakar tentang Integrasi AI dalam Pembelajaran dan Pengajaran Beretika

Pascasarjana UNIDA Gontor Gelar Kuliah Pakar tentang Integrasi AI dalam Pembelajaran dan Pengajaran Beretika

31 October 2026
PAS Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building

PAS Baitul Qur’an Ponorogo Gelar Seminar Nasional Character Building

31 October 2026
Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

Ketika Nasihat Tak Lagi Menyentuh Hati

30 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Alhamdulillah, Pre-Order dibuka lagi, kini tersedia Crewneck Sweatshirt. Tersedia saat ini Warna :

1. Black
2. Navy
3. Maroon
4. Army
5. Light Pink

Silahkan di pesan melalui link :
https://tinyurl.com/pesan-baju/

atau bisa lihat link di profile

#majalahgontor
#gontornews
  • Bazar Buku. Silahkan japri untuk pemesanan via instagram hari ini.
  • Buku ini ditulis untuk kamu yang sedang atau pernah menjalani kehidupan di pesantren. Pesan sekarang atau kunjungi stan Majalah Gontor di ESPECTO BAZAR.
  • ESPECTOR BAZAR AL HASSAN BEKASI 24 - 25 OKTOBER 2026.  DAPATAKAN DISKON 15% BAGI PEMESAN BUKU INI VIA INSTAGRAM. 
BELUM TERMASUK ONGKIR. 
UNTUK PEMESANAN BISA JAPRI ADMIN.
  • Assalamu
  • Pre Order dibuka kembali hingga 25 Oktober 2026

Link pembelian bisa dilihat di bagian akhir gambar atau di profile.
atau bisa langsung ke link dibawah ini :
https://tinyurl.com/pesan-baju

#majalahgontor 
#gontornews
  • Telah terbit dan bisa dipesan
Majalah Gontor Edisi Oktober 2026
pemesanan bisa ke nomor :
081234160133

untuk edisi khusus 100 tahun gontor bisa dipesan melalui link dibawah ini
https://bit.ly/pesan-majalah

#majalahgontor 
#gontornews 
#pesanmajalah
  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.

#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025

Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan: 
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-

Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802

Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews 

#majalahgontor 
#majalahgontor

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Pondok Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result