pesanan-majalah-edisi-khusus
33 °c
Pecenongan
Mon
Tue
Sunday, 6 September, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
6 September 2026
in Tafsir
0
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Foto: WorldPress.com

Landasan Teologis

وَاِنۡ كَانَ ذُوۡ عُسۡرَةٍ فَنَظِرَةٌ اِلٰى مَيۡسَرَةٍ​ؕوَاَنۡ تَصَدَّقُوۡا خَيۡرٌ لَّـكُمۡ​ اِنۡ كُنۡتُمۡ تَعۡلَمُوۡنَ‏

“Dan jika (orang berutang itu) dalam kesulitan, maka berilah tenggang waktu sampai dia memperoleh kelapangan. Dan jika kamu menyedekahkan, itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui.” (QS Al-Baqarah: 280)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Penegakan Hukum yang Adil: Wujudkan Keamanan dan Harmoni

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Tafsir Al-Baghawi menyebutkan makna firman Allah: “Dan jika orang yang berutang itu berada dalam kesulitan.” Maksudnya, apabila orang yang mempunyai kewajiban membayar utang berada dalam keadaan tidak mampu atau mengalami kesulitan, maka hendaklah diberikan penangguhan.

Adapun makna maisarah (sampai dia memperoleh kelapangan),  Imam Nafi‘ membaca maisarah dengan dhammah pada huruf sin, sedangkan para qari lainnya membacanya dengan fathah. Maknanya yaitu kemudahan, kelapangan, dan kemampuan finansial.

Adapun makna “Dan jika kamu menyedekahkan (sebagian atau seluruh utang itu), maka hal itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” Maksudnya yaitu kamu meninggalkan atau membebaskan pokok utang yang menjadi kewajiban orang yang sedang mengalami kesulitan tersebut.

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan beberapa pelajaran penting:

  1. Orang yang sedang kesulitan wajib diberi tenggang waktu sampai memiliki kemampuan membayar.
  2. Membebaskan utang lebih utama daripada sekadar memberikan penangguhan.
  3. Meringankan beban orang yang kesulitan merupakan amal yang besar pahalanya, bahkan menjadi sebab mendapatkan pertolongan dan naungan Allah.
  4. Orang yang mampu membayar tetapi sengaja menunda pembayaran, itu zalim.
  5. Islam mengajarkan etika dalam utang-piutang, baik bagi pemberi utang maupun orang yang berutang.
  6. Utang merupakan perkara yang sangat serius, sehingga seorang Muslim hendaknya berhati-hati dalam berutang dan bersungguh-sungguh dalam melunasinya.
  7. Memberikan kemudahan kepada orang lain merupakan bentuk rahmat dan kepedulian sosial.

Tafsir As-Sa’di menyebutkan, ayat ini mengajarkan kepada kita agar orang yang memiliki piutang tidak menekan orang yang sedang mengalami kesulitan ekonomi. Ia wajib memberikan kelonggaran waktu sampai debitur mampu membayar. Bahkan, sikap yang lebih utama yaitu membebaskan seluruh atau sebagian utang sebagai bentuk sedekah dan kepedulian sosial.

Dalam ayat ini terdapat nilai-nilai pendidikan yang kuat, yaitu: kasih sayang, empati, kesabaran, toleransi, kepedulian sosial, dan kedermawanan, khususnya dalam menghadapi orang yang sedang mengalami kesulitan.

Sementara itu dalam Tafsir Ibnu Katsir disebutkan beberapa nilai penting yang dapat diambil:

  1. Memberikan kesempatan kepada orang yang sedang kesulitan, bukan menambah tekanan kepadanya.
  2. Tidak mengeksploitasi kesulitan ekonomi orang lain dengan meminta jumlah pembayaran yang lebih daripada yag dipinjam.
  3. Membebaskan utang merupakan sedekah yang sangat utama.
  4. Memberikan kemudahan kepada sesama akan mendatangkan kemudahan dari Allah.
  5. Menunda pembayaran padahal mampu merupakan kezaliman, sedangkan menunda penagihan karena memahami kesulitan orang lain merupakan akhlak mulia.
  6. Utang merupakan amanah serius yang harus dilunasi ketika seseorang telah memiliki kemampuan.
  7. Islam membangun ekonomi dengan kasih sayang, bukan hanya dengan tuntutan hak.
  8. Menolong orang yang kesulitan menjadi sebab mendapatkan ampunan, naungan, dan pertolongan Allah.
  9. Pendidikan Islam mendorong seseorang menjadi pribadi yang mulia.

Sedangkan Tafsir al-Qurṭubī menegaskan bahwa QS Al-Baqarah ayat 280 membangun etika utang-piutang yang sangat manusiawi. Hak pemberi utang tetap diakui, tetapi ketika debitur benar-benar berada dalam kesulitan, ia tidak boleh ditekan atau dizalimi. Ia harus diberi kesempatan sampai memperoleh kelapangan. Bahkan, membebaskan utang dipandang lebih utama daripada sekadar menangguhkannya, karena merupakan bentuk sedekah dan kepedulian kepada sesama.

Adapun dalam Tafsir Ath-Thabari disebutkan dua prinsip besar dalam utang piutang. Pertama, hak pemberi utang atas pokok hartanya tetap diakui. Orang yang mampu membayar wajib melunasi utangnya. Kedua, orang yang benar-benar tidak mampu membayar tidak boleh dizalimi atau dipaksa. Ia harus diberi kesempatan sampai memperoleh kelapangan. Bahkan, membebaskan utangnya merupakan perbuatan mulia.

Nilai-nilai Pedagogis

QS Al-Baqarah ayat 280 mengandung sejumlah nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, nilai kasih sayang dan kepedulian. Ayat ini mengajarkan agar seseorang memperhatikan kondisi orang lain, khususnya mereka yang sedang mengalami kesulitan. Dalam pendidikan, pendidik perlu memahami keadaan peserta didik dan tidak hanya berorientasi pada hasil.

Guru dan orang tua harus menanamkan nilai kasih sayang dan kepedulian yang besar kepada peserta didik agar peserta didik tumbuh dengan cinta dan kasih sayang yang membuat peserta didik tertanam nilai senang membantu, menyayangi orang lain dan peduli kepada sesama.

Kedua, nilai kesabaran. Pemberian tenggang waktu kepada orang yang kesulitan menunjukkan pentingnya sikap sabar. Pendidikan juga membutuhkan kesabaran karena setiap peserta didik memiliki kemampuan, karakter, dan kecepatan belajar yang berbeda.

Kesabaran itu sangat penting untuk ditanamkan karena dengan bersabar kita belajar menerima segala apa yang terjadi, berusaha memperbaiki kesalahan, tidak  mudah terpancing emosi dan senantiasa mencari solusi. Guru dan orang tua yang sabar akan mendapati peserta didik yang berhasil dan sukses sebagai buah dari kesabarannya.

Ketiga, nilai pendidikan sosial. QS Al-Baqarah ayat 280 ini mengajarkan bahwa pendidikan harus membentuk manusia yang memiliki kepedulian sosial. Peserta didik tidak cukup hanya memiliki kecerdasan intelektual, tetapi juga perlu memiliki kesadaran untuk membantu dan menghargai sesama.

Guru dan orang tua harus membimbing peserta didik untuk memahami arti kepedulian sosial dan mendidik akhlak yang mulia kepada sesama manusia. Anak yang terdidik dengan baik akan tumbuh menjadi pribadi yang cerdas, senang membantu dan berakhlak mulia.

Keempat, nilai empati. Ayat ini mendorong seseorang untuk melihat persoalan dari sudut pandang orang yang sedang mengalami kesulitan. Islam mengajarkan agar umat Islam memberikan kemudahan, kelonggaran dan tidak mempersulit orang lain.

Secara pedagogis, guru hendaknya mampu memahami latar belakang dan kebutuhan peserta didik sebelum memberikan penilaian atau tindakan. Guru harus mengajarkan peserta didik untuk memiliki nilai empati kepada orang lain yang sedang mengalami kesulitan agar peserta didik tumbuh dengan memahami kondisi orang lain sehingga terhindar dari sikap meremehkan orang lain.

Landasan Teoretis

QS Al-Baqarah ayat 280 di atas memberikan dasar penting bahwa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan merupakan perbuatan yang bernilai ibadah. Konsep ini tidak terbatas pada persoalan utang-piutang, tetapi dapat dikembangkan menjadi prinsip kehidupan sosial. Seorang Muslim hendaknya berusaha menjadi pribadi yang menghadirkan kemudahan, bukan menambah kesulitan bagi orang lain.

Adapun secara bahasa, “memudahkan” berarti menjadikan sesuatu lebih ringan, tidak menyulitkan, atau memberikan jalan keluar dari suatu kesulitan.

Dalam perspektif Islam, memudahkan urusan sesama dapat dimaknai sebagai segala bentuk tindakan positif yang bertujuan membantu seseorang menyelesaikan kebutuhan, mengurangi kesulitan, meringankan beban, memberikan kesempatan, atau membuka jalan keluar dengan cara yang sesuai dengan syariat.

Allah SWT berfirman:

وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوٰىۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِثْمِ وَالْعُدْوَانِۖ وَاتَّقُوا اللّٰهَۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَابِ

“…Tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah sangat berat siksaan-Nya.” (QS Al-Ma’idah: 2)

Ayat ini menjadi landasan bahwa kehidupan sosial seorang Muslim hendaknya dibangun atas dasar ta’awun, yaitu saling membantu dalam kebaikan. Memudahkan urusan orang lain merupakan salah satu bentuk nyata dari ta’awun. Namun, kemudahan yang diberikan harus tetap berada dalam koridor kebaikan dan ketakwaan.

Allah SWT berfirman:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۗ اُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُۗ اِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ

“Orang-orang Mukmin, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) makruf dan mencegah (berbuat) mungkar, menegakkan shalat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi rahmat oleh Allah. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” (QS At-Taubah: 71)

Ayat di atas menunjukkan bahwa kehidupan orang beriman memiliki dimensi sosial. Seorang Muslim tidak hidup hanya untuk kepentingan dirinya sendiri, tetapi memiliki tanggung jawab moral untuk memperhatikan dan membantu orang lain.

Allah memuji kaum Anshar karena mereka mendahulukan kepentingan saudaranya meskipun mereka sendiri membutuhkan.

Allah SWT berfirman:

…وَيُؤْثِرُوْنَ عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌۗ

“…Mereka mengutamakan (Muhajirin) daripada dirinya sendiri meskipun mempunyai keperluan yang mendesak…” (QS Al-Hasyr: 9)

Rasulullah SAW bersabda:

وَمَنْ يَسَّرَ عَلَىٰ مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ

“Barangsiapa memberikan kemudahan kepada orang yang sedang mengalami kesulitan, niscaya Allah memberikan kemudahan kepadanya di dunia dan akhirat.” (HR Tirmidzi, No. 1930)

Hadis ini memberikan sebuah prinsip timbal balik spiritual: ketika manusia berusaha meringankan kesulitan orang lain karena Allah, Allah menjanjikan kemudahan baginya.

Dengan demikian, membantu orang lain bukanlah kerugian namun merupakan investasi akhirat yang mendatangkan ridha Allah.

Cara Memudahkan Urusan Sesama

Lalu bagaimana cara memudahkan urusan sesama agar menggapai ridha Allah SWT? Pertama, membantu orang yang mengalami kesulitan. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ نَفَّسَ عَنْ مُؤْمِنٍ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ الدُّنْيَا نَفَّسَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرَبِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَمَنْ يَسَّرَ عَلَى مُعْسِرٍ يَسَّرَ اللَّهُ عَلَيْهِ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ… وَاللَّهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ

“Barangsiapa melepaskan satu kesusahan dunia dari seorang Mukmin, pasti Allah akan melepaskan darinya satu kesusahan pada hari kiamat. Barangsiapa menjadikan mudah urusan orang lain, pasti Allah akan memudahkannya di dunia dan di akhirat. Dan Allah senantiasa menolong hamba-Nya selama hamba-Nya itu suka menolong saudaranya.” (HR Muslim)

Kedua, tidak mempersulit urusan orang lain. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ ضَارَّ مُسْلِمًا ضَارَّهُ اَلله, وَمَنْ شَاقَّ مُسَلِّمًا شَقَّ اَللَّهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa memberi kemudharatan kepada seorang Muslim, maka Allah akan memberi kemudharatan kepadanya, barangsiapa merepotkan (menyusahkan) seorang Muslim maka Allah akan menyusahkannya.” (HR Abu Dawud, No. 3635 dan At-Tirmidzi, No. 1940)

Ketiga, memberikan kesempatan. Rasulullah SAW bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ وَاحِدٍ مَرَّتَيْنِ

“Tidak selayaknya seorang Mukmin dipatuk ular dari lubang yang sama sebanyak dua kali.” (HR Bukhari dan Muslim)

Dalam hadis ini dinyatakan bahwa kesempatan kedua merupakan ujian kejujuran niat. Apakah kita sungguh ingin memperbaiki diri, atau sekadar mencari alasan agar terhindar dari celaan manusia atas dosa dan kesalahannya? Jangan sampai kita masuk ke lubang yang sama dua kali. Seyogianya ketika memperbaiki kesalahan dan memberikan kesempatan kedua kepada orang lain.

Keempat, memaafkan kesalahan. Memaafkan merupakan bentuk memudahkan urusan batin seseorang. Allah SWT berfirman:

..وَلْيَعْفُوْا وَلْيَصْفَحُوْاۗ اَلَا تُحِبُّوْنَ اَنْ يَّغْفِرَ اللّٰهُ لَكُمْۗ وَاللّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak suka bahwa Allah mengampunimu? Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur: 22)

Memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan, tetapi memilih untuk menyelesaikan persoalan dengan cara yang lebih baik ketika keadaan memungkinkan.

Keempat, memberikan nasihat dengan cara yang baik. Ketika seseorang mengalami masalah, dia membutuhkan seseorang yang mau mendengarkan dan memberikan nasihat yang baik. Allah SWT berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِيْنَ

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik serta debatlah mereka dengan cara yang lebih baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling tahu siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia (pula) yang paling tahu siapa yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl: 125)

Keenam, memberikan kelonggaran waktu atau menghapus utangnya. Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا أَوْ وَضَعَ عَنْهُ ، أَظَلَّهُ اللهُ فِـيْ ظِلِّهِ

“Barangsiapa memberi kelonggaran waktu kepada orang yang kesulitan membayar utang atau menghapus utangnya, maka Allah akan menaunginya dalam naungan-Nya.” (HR Muslim, No. 3006)

Demikianlah, memberikan kelonggaran kepada orang yang kesulitan atau menghapus utangnya, merupakan perbuatan mulia dan mendatangkan pahala sedekah dan ridha Allah.

Ketujuh, bermanfaat untuk sesama. Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia yaitu yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR Ahmad, Ath-Thabrani, dan Ad-Daruqutni)

Kita dapat memberi manfaat kepada sesama berupa ilmu, tenaga, waktu luang, harta dan akhlak yang baik, yang mendatangkan ridha Allah SWT.

Kisah Teladan

Dalam kitab Al-Mufashshal fi Tarikhil ‘Arab Qablal Islam disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf, sebagaimana profesi sahabat Nabi di Mekkah pada umumnya, merupakan sosok yang sangat konsen di usaha sektor bisnis perdagangan. Saat itu, salah satu tempat yang ramai menjadi tempat usaha ini yaitu Pasar Bani Qainuqa’, salah satu pasar milik orang Yahudi.

Dikisahkan, saat umat Islam Mekkah hijrah ke Madinah pada 622 M, Rasulullah SAW mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar yang tujuan utamanya untuk menciptakan kerukunan dan menghindari ketimpangan ekonomi. Rasulullah SAW menyadari, Muhajirin sebagai imigran telah meninggalkan semua hartanya di kampung halaman. Mereka pindah ke Madinah dengan tangan hampa.

Rasulullah SAW mempersaudarakan Abdurrahman bin Auf dengan Sa’ad bin Rabi’, orang terkaya dari kaum Anshar saat itu. Hebatnya, Sa’ad tidak saja dengan senang hati menerima Abdurrahman yang sudah jatuh miskin sebagai saudaranya, tetapi juga menawarkan separuh hartanya, bahkan rela andaikan ia harus menceraikan salah satu istrinya untuk Abdurrahman.

“Aku orang Anshar yang paling kaya, maka akan aku beri separuh hartaku untukmu. Kemudian lihatlah di antara kedua istriku, siapa yang engkau suka, nanti akan aku ceraikan untukmu, jika ia telah halal maka nikahilah,” kata Sa’ad.

Tidak diduga, Abdurrahman justru menolak tawaran Sa’ad. Bukan karena sombong tidak mau menerima uluran tangan, hanya ia ingin hidup mandiri dengan jeri payah sendiri.

Di saat tak memiliki harta sepeser pun, lelaki Muhajirin itu masih menunjukkan pribadinya sebagai seorang pekerja keras yang tidak menggantungkan hidupnya pada pemberian orang lain.

“Semoga Allah memberkahi harta dan keluargamu. Tapi maaf, aku tidak membutuhkan itu. Begini saja, apakah ada pasar yang sedang berlangsung transaksi jual beli saat ini?” tanya Abdurrahman. Sa’ad pun menunjukannya ke Pasar Bani Qainuqa’.

Dalam riwayat lain disebutkan, setelah tahu harga sewa di Pasar Bani Qainuqa’ mahal, ia bekerja sama dengan Sa’ad untuk membeli tanah di sana dan menyewakannya kepada para pedagang. Dari jasa sewa tanah inilah ia berhasil meraup banyak untung. Demikian, Abdurrahman sukses di jalur bisnis perdagangan dan membuat dia memiliki banyak harta dan aset.

Kesuksesan Abdurrahman tidak saja karena etos kerja yang dimilikinya, tetapi juga karena semangat ibadahnya yang tidak pernah redup. Salah satu amal shalihnya yaitu gemar bersedekah. Menjadi miliarder tidak membuat sahabat Nabi ini larut dalam kesibukan duniawi, sampai-sampai ia pernah mengungkapkan, “Aku orang terkaya di Mekkah. Tapi semua ini justru membuatku takut. Jangan-jangan hartaku sendiri yang akan menjerumuskanku.”

Sejarawan Muslim, Jawwad Ali, melaporkan tentang kedermawanan Abdurrahman bin ‘Auf ini. Menurutnya, ia tidak tanggung-tanggung menyedekahkan separuh hartanya, pernah juga bersedekah 40.000 dinar, 500 ekor kuda dan 500 kendaraan untuk keperluan perang, dan memerdekakan 30.000 hamba sahaya, dan masih banyak lagi kisah kemurahannya.

Abdurrahman bin A’uf juga pernah bersedekah kepada seluruh tentara Muslim yang masih hidup dalam Perang Badar masing-masing 400 dinar. Saat itu jumlah mereka ada 100 orang. Kekayaan yang dimilikinya merupakan hasil dari bisnis berjualan.

Dari kisah Abdurrahman bin ‘Auf di atas dapat dipetik hikmah. Kerja keras, usaha yang halal, serta tetap taat beribadah kepada Allah SWT merupakan kunci kesuksesan di dunia dan akhirat. Dia juga senang memudahkan urusan orang lain, dermawan, rajin berbagi, dan membantu orang lain merupakan cara dia menyelamatkan dirinya dari kekayaan yang dimiliki. Ketika dia mengeluarkan seluruh hartanya di jalan Allah, maka Allah semakin memberikan rezeki yang berlimpah ruah tanpa batas sebagai balasan atas kebaikan yang dilakukannya.

اللَّهُمَّ لَا سَهْلَ إِلَّا مَا جَعَلْتَهُ سَهْلًا، وَأَنْتَ تَجْعَلُ الْحَزْنَ إِذَا شِئْتَ سَهْلًا

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah. Dan Engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki, pasti akan menjadi mudah.“ (HR Ibnu Hibban)  []

Tags: Abdurrahman bin AufBani Qainuqa'Prof Dr H Sofyan Sauri MPd
Share1Tweet1Send
Previous Post

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

YMI Peduli Wakafkan 100 Sepeda kepada Gontor

3 September 2026
Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

Rekonstruksi Pendidikan Akhlak: Dari Generasi Stroberi Menuju Generasi Kemiri untuk Mewujudkan Indonesia Emas yang Berkeadaban 2045

2 September 2026
60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Ikuti Haflah Tilawatil Qur’an Ke-5

5 September 2026
Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

Gontor Gelar GIHES 2026 di Jakarta

30 August 2026
IKPM Banten Gelar Silaturahmi dan Pelepasan Santriwati Gontor

IKPM Banten Gelar Silaturahmi dan Pelepasan Santriwati Gontor

1 September 2026
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

0
Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

0
PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

0
GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

0
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

0
Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

6 September 2026
Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

Lulus Tahsin, 60 Siswa SIT Insantama Leuwiliang Naik Level ke Program Tahfizh

6 September 2026
GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

GIHES 2026: Realisasi Pendidikan Islam Holistik Jadi Agenda Bersama

6 September 2026
PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

PMDG: Pesantren Model Pendidikan Islam Holistik Khas Indonesia

6 September 2026
Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

Pendidikan Pesantren Solusi Holistik Untuk Indonesia dan Dunia

6 September 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah.  Alumni Gontor 2007 wakaf 100 unit sepeda untuk guru-guru di Gontor
Insya Allah akan diserahkan secara simbolis pada acara peringatan 100 tahun Gontor.#majalahgontor #gontornews #gontor #pondokmoderngontor @risang.wijanarko @pondok.modern.gontor
  • Global Islamic Holistic Education Summit.
Lokasi : Hotel Borobudur Jakarta, Indonesia
Tanggal : 5 - 6 September 2026Akhir Pendaftaran : 27 Agustus 2026Dalam rangka Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, kami mengundang Bapak/Ibu untuk berpartisipasi dalam Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026.GIHES 2026 merupakan forum Internasional yang mempertemukan pimpinan pesantren, lembaga pendidikan Islam, akademisi, pembuat kebijakan, dan tokoh pendidikan untuk berbagi perspektif, membahas tantangan strategis, serta membangun sinergi dan kolaborasi bagi kemajuan pendidikan dan generasi mendatang.#gontornews #majalahgontor #gihes
  • Dari Los Angeles, California, Amerika Serikat, tepatnya di Hollywood Sign dengan jarak kurang lebih 14.000 kilometer dari pondok Modern Darussalam Gontor. Doa-doa kebaikan disampaikan kepada Pondok Modern Darussalam Gontor dan Keluarga Besar Gontor.#majalahgontor #gontornews #100tahungontor #gontorponorogo

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result