pesanan-baju-kaos
31 °c
Pecenongan
Wed
Thu
Tuesday, 6 October, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Oleh Prof Dr H Sofyan Sauri MPd, Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
22 August 2026
in Tafsir
0
Kemerdekaan Sejati dalam Perspektif Al-Qur’an

Foto: MUI Sulsel

Landasan Teologis

اَلَّذِيْنَ يَتَّبِعُوْنَ الرَّسُوْلَ النَّبِيَّ الْاُمِّيَّ الَّذِيْ يَجِدُوْنَهٗ مَكْتُوْبًا عِنْدَهُمْ فِى التَّوْرٰىةِ وَالْاِنْجِيْلِ يَأْمُرُهُمْ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهٰىهُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُحِلُّ لَهُمُ الطَّيِّبٰتِ وَيُحَرِّمُ عَلَيْهِمُ الْخَبٰۤىِٕثَ وَيَضَعُ عَنْهُمْ اِصْرَهُمْ وَالْاَغْلٰلَ الَّتِيْ كَانَتْ عَلَيْهِمْۗ فَالَّذِيْنَ اٰمَنُوْا بِهٖ وَعَزَّرُوْهُ وَنَصَرُوْهُ وَاتَّبَعُوا النُّوْرَ الَّذِيْٓ اُنْزِلَ مَعَهٗٓۙ اُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَࣖ

“(Yaitu) orang-orang yang mengikuti Rasul (Muhammad), Nabi yang ummi (tidak pandai baca tulis) yang (namanya) mereka temukan tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada pada mereka. Dia menyuruh mereka berbuat yang makruf, mencegah dari yang mungkar, menghalalkan segala yang baik bagi mereka, mengharamkan segala yang buruk bagi mereka, serta membebaskan beban-beban dan belenggu-belenggu yang ada pada mereka. Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan bersamanya (Al-Qur’an), mereka itulah orang-orang beruntung.” (QS Al-A‘rāf: 157)

Interpretasi Para Mufasir

BACA JUGA

Landasan Etika Bertutur dalam Pergaulan

Transaksi Terbaik Orang Beriman dengan Allah

Menggapai Ridha Allah dengan Memudahkan Urusan Sesama

Meneladani Nabi Muhammad SAW dalam Berbagai Situasi dan Kondisi

Teguhkan Adab (Akhlak) untuk Masa Depan Pendidikan

Tafsir Al-Baghawi menyebutkan, kata ummi dinisbatkan kepada umat yang ummi, yaitu orang yang masih berada dalam keadaan sebagaimana ketika ia dilahirkan, tidak belajar membaca dan menulis.

Ibnu Abbas RA berkata: “Nabi kalian SAW adalah seorang yang ummi. Beliau tidak menulis, tidak membaca, dan tidak menghitung.”

An-Nahhas mengatakan bahwa Nabi SAW disebut ummi karena dinisbatkan kepada Mekkah, Ummul Qura.

Sedangkan ‘Atha’ menafsirkan tentang menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang mungkar. Beliau berkata: “Yang dimaksud dengan menyuruh kepada yang makruf adalah meninggalkan segala sesembahan selain Allah, memiliki akhlak yang mulia, menyambung tali silaturahmi. Sedangkan melarang yang mungkar berarti melarang penyembahan berhala dan melarang memutuskan tali silaturahmi.

Tafsir As-Sa’di menyebutkan, konteks pembicaraan ayat ini berkaitan dengan keadaan Bani Israil, bahwa beriman kepada Nabi Muhammad SAW merupakan syarat bagi mereka untuk memperoleh keimanan yang benar. Orang-orang yang beriman kepada beliau, mengikuti ajarannya, dan menaati beliau, adalah orang-orang yang memperoleh rahmat Allah secara sempurna, yang telah Allah tetapkan bagi mereka.

Maka Rasulullah SAW memerintahkan mereka untuk mendirikan shalat, menunaikan zakat, berpuasa, melaksanakan haji, menyambung silaturahmi, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada tetangga dan hamba sahaya, memberikan manfaat kepada seluruh makhluk, berkata jujur, menjaga kehormatan diri, berbuat kebajikan, memberikan nasihat, dan berbagai bentuk kebaikan lainnya.

Tafsir Al-Baghawi menyebutkan makna Firman Allah SWT: “Dia menyuruh mereka kepada yang makruf…”. Maksudnya, Rasulullah SAW memerintahkan mereka kepada keimanan.

Adapun makna firman Allah SWT: “Dan melarang mereka dari yang mungkar…”. Maksudnya, beliau melarang mereka dari kesyirikan.

Ada pula yang berpendapat bahwa makruf adalah syariat dan sunnah, sedangkan mungkar adalah segala sesuatu yang tidak dikenal sebagai bagian dari syariat maupun sunnah.

‘Atha’ berkata: “Menyuruh mereka kepada yang makruf” berarti memerintahkan mereka untuk meninggalkan segala sesembahan selain Allah, memiliki akhlak yang mulia, menyambung tali silaturahmi. Sedangkan “melarang mereka dari yang mungkar” berarti melarang mereka menyembah berhala dan memutuskan tali silaturahmi.

Tafsir Ibnu Katsir menyebutkan beberapa pokok yang terkandung dalam ayat ini. Pertama, kenabian Nabi Muhammad SAW telah diberitakan dalam kitab-kitab para nabi terdahulu. Kedua, sifat Nabi Muhammad SAW dikenal oleh sebagian ahli kitab, terutama para ulama yang mengetahui isi kitab mereka. Ketiga, Rasulullah SAW membawa ajaran tauhid, yaitu beribadah hanya kepada Allah. Keempat, beliau memerintahkan segala bentuk kebaikan dan melarang segala bentuk kemungkaran. Kelima, syariat Nabi Muhammad SAW membawa kemudahan, kelapangan, dan menghilangkan berbagai beban berat. Keenam, beliau menghalalkan perkara yang baik dan bermanfaat serta mengharamkan perkara yang buruk dan membahayakan. Ketujuh, jalan keberuntungan adalah beriman kepada Rasulullah SAW, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti Al-Qur’an.

Inti Reflektif

Kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan, tetapi terbebas dari segala bentuk perbudakan yang menjauhkan manusia dari Allah.

Al-Qur’an mengajarkan bahwa kebebasan harus berjalan bersama iman, keadilan, kemuliaan, dan tanggung jawab.

Ketika manusia mengikuti petunjuk Rasulullah Saw ia tidak lagi diperbudak oleh hawa nafsu, kebodohan, ketidakadilan, dan kesesatan, melainkan hidup sebagai hamba Allah yang merdeka dan bermartabat.

Nilai-nilai Pedagogis

QS Al-A‘rāf: 157 mengandung sejumlah nilai-nilai pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, pendidikan amar ma‘ruf. Allah menyuruh manusia kepada yang makruf. Ini menunjukkan bahwa pendidikan bertujuan mengarahkan manusia kepada kebaikan yang diakui syariat dan akal sehat. Pendidikan tidak cukup hanya membuat seseorang pintar, tetapi harus membuatnya mampu membedakan dan memilih kebaikan.

Guru dan orang tua harus membiasakan kejujuran kepada peserta didik, mengajarkan tanggung jawab, membangun kepedulian, membiasakan saling menghormati, mengajarkan disiplin dan mendorong peserta didik melakukan kebaikan secara nyata. Sehingga anak tumbuh menjadi manusia yang senang berbuat kebaikan.

Kedua, pendidikan pencegahan terhadap kemungkaran. Dalam Islam ayat ini mengandung fungsi preventif, yaitu mencegah manusia dari perilaku yang merusak diri sendiri maupun orang lain. Dengan demikian, pendidikan bukan sekadar memberikan pengetahuan tentang apa yang benar, tetapi juga membangun kemampuan untuk menolak perilaku yang salah.

Dalam konteks pendidikan, pencegahan kemungkaran dilakukan dengan hikmah, nasihat, pembiasaan, pendampingan, dan keteladanan, bukan dengan kekerasan atau penghinaan. Orang tua dan guru dapat mendidik peserta didik dengan hikmah, nasihat dan keteladanan agar anak menjauhkan diri dari kemungkaran.

Ketiga, pendidikan yang membebaskan manusia dari belenggu. Ayat ini bertujuan membebaskan manusia dari belenggu yang menghalangi kemanusiaannya. Belenggu tersebut dalam bentuk kebodohan, kesyirikan, taklid kepada kebatilan, hawa nafsu, akhlak tercela, ketakutan kepada selain Allah, kebiasaan buruk dan pola pikir yang merusak.

Pendidikan yang benar bukan semakin membebani manusia dengan sesuatu yang tidak perlu, tetapi mengantarkannya kepada kemerdekaan spiritual dan moral melalui penghambaan kepada Allah. Mari kita ajarkan generasi muda untuk membebaskan diri dari belenggu  yang menghalangi dirinya dengan mengabdi sepenuh-Nya kepada Allah SWT.

Keempat, pendidikan yang mengintegrasikan pengetahuan dan perubahan perilaku. Ayat ini memperlihatkan rangkaian pendidikan yang sangat sistematis yaitu: mengikuti Rasul → beriman → melakukan kebaikan → meninggalkan kemungkaran → memilih yang baik → meninggalkan yang buruk → terbebas dari belenggu → mengikuti Al-Qur’an → memperoleh keberuntungan.

Artinya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur dari seberapa banyak pengetahuan yang dimiliki peserta didik, tetapi dari sejauh mana pengetahuan tersebut menghasilkan perubahan sikap dan perilaku. Anak yang dididik dengan integrasi pengetahuan dan perubahan perilaku  yang baik akan menjadi anak yang beruntung.

Landasan Teoretis

Dalam perspektif Islam, kemerdekaan sejati bukan sekadar terbebas dari penjajahan manusia, tetapi terbebas dari segala bentuk penghambaan kepada selain Allah sehingga mampu hidup sesuai dengan petunjuk-Nya.

Kemerdekaan Sejati

Berikut ini sejumlah makna kemerdekaan sejati dalam perspektif Al-Qur’an. Pertama, merdeka dari penghambaan kepada selain Allah SWT. Hakikat kemerdekaan pertama adalah tauhid. Kemerdekaan sejati yaitu menjadi hamba Allah dan tidak menjadi budak selain Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariyat: 56)

Kedua, kemerdekaan sejati berarti manusia mampu mengembangkan fitrahnya sesuai dengan petunjuk Allah, bukan membiarkan dirinya dikuasai oleh dorongan negatif. Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah, akal, kehendak, dan tanggung jawab moral.

Allah SWT berfirman:

فَاَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّيْنِ حَنِيْفًاۗ فِطْرَتَ اللّٰهِ الَّتِيْ فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَاۗ لَا تَبْدِيْلَ لِخَلْقِ اللّٰهِۗ ذٰلِكَ الدِّيْنُ الْقَيِّمُۙ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُوْنَۙ

“Maka, hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Islam sesuai) fitrah (dari) Allah yang telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah (tersebut). Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”  (QS Ar-Rum: 30)

Islam memandang manusia sebagai makhluk yang memiliki fitrah, akal, kehendak, dan tanggung jawab moral. Dengan demikian, kebebasan dalam Islam selalu berkaitan dengan tanggung jawab moral.

Ketiga, kemerdekaan harus digunakan untuk menjaga martabat manusia, bukan merendahkannya. Karena itu, orang yang merdeka tidak boleh merendahkan orang lain, menindas, melakukan kekerasan, mengambil hak orang lain, memperbudak manusia secara moral dan mengeksploitasi kelemahan orang lain. Allah SWT berfirman:

وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِيْٓ اٰدَمَ وَحَمَلْنٰهُمْ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنٰهُمْ مِّنَ الطَّيِّبٰتِ وَفَضَّلْنٰهُمْ عَلٰى كَثِيْرٍ مِّمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيْلًاࣖ

“Sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam dan Kami angkut mereka di darat dan di laut. Kami anugerahkan pula kepada mereka rezeki yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (QS Al-’Isra: 70)

Kemerdekaan seseorang harus berjalan bersama penghormatan terhadap kemerdekaan dan martabat orang lain.

QS Al-A‘raf ayat 157 memberikan setidaknya empat prinsip pembebasan. Pertama, membebaskan manusia dari kemungkaran. Islam membebaskan manusia dari perilaku yang merusak. Kedua, membebaskan manusia menuju kebaikan. Kemerdekaan harus diarahkan kepada kebaikan, bukan kebebasan tanpa batas. Ketiga, membebaskan manusia dari sesuatu yang buruk. Islam mengajarkan manusia agar tidak diperbudak oleh sesuatu yang merusak dirinya. Keempat, membebaskan manusia dari belenggu. Risalah Islam membawa manusia keluar dari berbagai belenggu yang menghambat kehidupan yang benar.

Bentuk-bentuk Kemerdekaan Sejati

Lalu apa saja bentuk-bentuk kemerdekaan sejati itu? Pertama, kemerdekaan akidah. Kemerdekaan pertama bebas dari syirik dan keyakinan yang menyimpang. Tauhid menjadikan manusia memiliki orientasi hidup yang jelas yaitu menjadikan Allah sebagai satu-satunya tempat pengabdian tertinggi. Allah SWT berfirman:

اٰمَنَ الرَّسُوْلُ بِمَآ اُنْزِلَ اِلَيْهِ مِنْ رَّبِّهٖ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ كُلٌّ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَمَلٰۤىِٕكَتِهٖ وَكُتُبِهٖ وَرُسُلِهٖۗ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ اَحَدٍ مِّنْ رُّسُلِهٖۗ

“Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang Mukmin. Masing-masing beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya…” (QS Al-Baqarah: 285)

Kedua, kemerdekaan jiwa. Kemerdekaan jiwa berarti tidak menjadi budak amarah, iri, dendam, kesombongan, ketakutan, kecemasan terhadap penilaian manusia dan keinginan mendapatkan pujian. Allah SWT berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰىهَاۖ ۝٩

وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰىهَاۗ ۝١٠

“Sungguh beruntung orang yang menyucikannya (jiwa itu). Dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS Asy-Syam: 9-10)

Ketiga, kemerdekaan dari hawa nafsu. Kemerdekaan sejati adalah kemampuan mengatakan “tidak” terhadap sesuatu yang diinginkan ketika sesuatu tersebut bertentangan dengan perintah Allah. Allah SWT berfirman:

اَفَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰىهُ وَاَضَلَّهُ اللّٰهُ عَلٰى عِلْمٍ وَّخَتَمَ عَلٰى سَمْعِهٖ وَقَلْبِهٖ وَجَعَلَ عَلٰى بَصَرِهٖ غِشٰوَةًۗ….

“Tahukah kamu (Nabi Muhammad), orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya dan dibiarkan sesat oleh Allah dengan pengetahuan-Nya, Allah telah mengunci pendengaran dan hatinya serta meletakkan tutup atas penglihatannya.” (QS Al-Jatsiyah: 23)

Cara Mengisi Kemerdekaan Sejati

Lalu bagaimana cara mengisi kemerdekaan sejati menurut Islam? Pertama, memperkuat tauhid. Menjadikan Allah sebagai pusat kehidupan dengan menjaga shalat, memperbanyak dzikir, membaca Al-Qur’an, memperbaiki niat, menjauhi syirik dan tidak menggantungkan hati kepada selain Allah. Allah SWT berfirman:

قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌۚ ۝١اَللّٰهُ الصَّمَدُۚ ۝٢لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْۙ ۝٣ووَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌࣖ ۝٤

“Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Dialah Allah Yang Mahaesa. Allah tempat meminta segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.’” (QS Al-Ikhlas: 1-4)

Kedua, membebaskan diri dari kemaksiatan. Kemerdekaan bukan kebebasan untuk melakukan apa saja. Justru seorang Muslim menunjukkan kemerdekaannya dengan mampu meninggalkan sesuatu yang haram meskipun ia menginginkannya. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئاً لِلَّهِ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ بَدَّلَكَ اللَّهُ بِهِ مَا هُوَ خَيْرٌ لَكَ مِنْهُ

“Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (HR Ahmad No. 363)

Ketiga, merdeka dari kebodohan. Kemerdekaan harus diisi dengan pendidikan. Islam sangat menekankan pentingnya ilmu. Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ ۝١خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ ۝٢اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ ۝٣الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ ۝٤عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Mahamulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-’Alaq: 1-5)

Keempat, menggunakan kebebasan berbicara secara bertanggung jawab. Islam memberikan perhatian besar terhadap lisan. Maka kemerdekaan berbicara bukan berarti bebas menghina, memfitnah, menyebarkan hoaks, membuka aib dan melakukan ujaran kebencian.Allah SWT berfirman:

وَقُلْ لِّعِبَادِيْ يَقُوْلُوا الَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ يَنْزَغُ بَيْنَهُمْۗ اِنَّ الشَّيْطٰنَ كَانَ لِلْاِنْسَانِ عَدُوًّا مُّبِيْنًا

“Katakan kepada hamba-hamba-Ku supaya mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (dan benar). Sesungguhnya setan itu selalu menimbulkan perselisihan di antara mereka. Sesungguhnya setan musuh yang nyata bagi manusia.” (QS Al-’Isra: 53)

Kelima, menjaga persatuan. Kemerdekaan harus menjadi momentum untuk membangun persaudaraan, bukan memperbesar permusuhan. Allah SWT berfirman:

وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْاۖ وَاذْكُرُوْا نِعْمَتَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ كُنْتُمْ اَعْدَاۤءً فَاَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَاَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهٖٓ اِخْوَانًاۚ

“Berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, janganlah bercerai-berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara.” (QS Ali ‘Imran: 103)

Kisah Teladan

Dalam kitab Tarikh al-Thabari karya Abu Ja’far al-Thabari diceritakan ada perwakilan dari kalangan sahabat yang memiliki keluarga di Mekah. Mereka mengkhawatirkan jika nanti akan terjadi pertumpahan darah di kota suci itu.

Tragedi tersebut lazim terjadi sebagaimana terdapat sebuah ekspansi militer yang dilakukan oleh kekuatan politik tertentu. Sehingga Said bin Ubadah memprediksi bahwa itu hari peperangan yang kejam. Dengan dalih akan terjadi pembersihan berhala-berhala yang ada di sekeliling Ka’bah secara radikal, ditambah dendam selama 20 tahun perseteruan sengit yang dipantik oleh orang-orang Quraisy Mekah yang memusuhi Nabi.

Kemudian Rasulullah SAW merespons laporan tersebut dengan bijak, dan beliau menegaskan bahwa Allah telah mendatangkan pertolongan besar kepadanya untuk tidak ada permusuhan lagi. Jawaban demikian itu juga diberikan untuk menampik perkataan Said bin Ubadah tadi bahwa hari Fathul Makah bukanlah hari peperangan yang kejam (yaumul malhamah), melainkan akan jadi hari kasih sayang (yaumul marhamah).

Makna yang bisa diambil dari ajaran Nabi SAW tersebut adalah bahwa hari kemenangan bukanlah untuk menindas atau membalas dendam. Melainkan untuk menebar kemaslahatan, memberi manfaat dan melindungi semua umat dari kesengsaraan, kemiskinan, ketertindasan, ketidakadilan, dan lain sebagainya.

رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّارْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِۗ

“Ya Tuhanku, jadikanlah (negeri Mekah) ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan (hasil tanaman, tumbuhan yang bisa dimakan) kepada penduduknya, yaitu orang yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari akhir.” (QS Al-Baqarah: 126) []

Tags: Al Qur'anKemerdekaanPersatuan
Share41Tweet26Send
Previous Post

100 Tahun Gontor: Kembali ke Gontor untuk Mengisi Baterai Batin

Next Post

Haul Perdana KH Helmy Abdul Mubin, Momentum Teladani Perjuangan Pendiri Pesantren Ummul Quro Al-Islami Bogor

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

6 October 2026
Catatan Penting dari Pengukuhan Prof Akhmad Affandi Mahfudz sebagai Guru Besar UNIDA Gontor

Catatan Penting dari Pengukuhan Prof Akhmad Affandi Mahfudz sebagai Guru Besar UNIDA Gontor

1 October 2026
Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

Berbudi Tinggi dan Berjiwa Besar: Fondasi dan Mahkota Kepribadian Santri

25 September 2026
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

5 October 2026
Sosiologi Ketahanan Gontor

Pengalaman Gontor Mendidik Santri Terampil Komunikasi

29 September 2026
Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

0
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

0
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

0
Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

0
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

0
Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

Arsitektur Peradaban Gontor: Sintesis Tasawuf, Sunnatullah, dan Hakikat Pendidikan

6 October 2026
Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

Prodi IQT UNIDA Gontor Dalami Jurnalistik Media Islam di Majalah Gontor

6 October 2026
Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

Ciptakan Rumah Tangga Sakinah, Berikut Lima Tipsnya!

6 October 2026
Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

Menyoal Branding Pesantren: Saat Pesantren Harus ‘Tebar Jala’ Informasi

5 October 2026
Pesta Literasi Alumni di Satu Abad Gontor

Tangis Haru di Puncak Peringatan 100 Tahun Gontor

5 October 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Bismillah, bagi yang ingin mempromosikan usahanya di Majalah Gontor edisi November silahkan daftar dan cek paketnya pada link https://bit.ly/pasang-iklan-mg atau scan barcode pada gambar.#majalahgontor #gontornews
  • Bismillah.
Paket Perpustakaan.
EDISI TAHUN 2020 - 2025Hanya : Rp. 149.000,-
Didapatkan:
1. Isi 20 Eksemplar
2. Edisi Tahun Acak
3. + SUBSIDI ONGKIR 10.000,-Pesan Via WhatsApp
0812 3416 0133, 0858 1760 8802Website : www.gontornews.com
Instagram : @gontornews#majalahgontor
#majalahgontor
  • Bismillah.
tersedia baju kaos lengan panjang atau pendek. Warna putih dan hitam. Degan Sablon DTF.Ukuran : S, M, L, XLLink Pembelian : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews
  • Edisi Khusus Bulan September 2026 spsial 100 tahun .Pesan sekarang
https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor
#gontornews
  • Bismillah, kami kembali membuka kesempatan kepada Alumni Gontor ataupun Pondok Alumni yang memiliki usaha yang ingin diperkenalkan melalui Majalah Gontor pada bulan oktiober ini.
Kami membuka 3 paket pilihan :
1. 1/4
2. 1/6
3. Iklan MiniLink pendaftaran : https://bit.ly/pasang-iklan-mgatau bisa lihat di link Bio.#majalahgontor #gontornews
  • Alhamdulillah Majalah Gontor Edisi Khusus Bulan September spesial100 tahun Gontor telah tersedia. Stok edisi khusus semakin menipis pula (Juli - September). Bagi yang belum memiliki bisa Langsung pesan melalui link berikut :
https://bit.ly/pesan-majalahJangan sampai kehabisan.Untuk Baju kaos bisa juga pesan melalui link ini : https://tinyurl.com/pesan-bajukontak bagian penjualan :
0812-3416-0133
#majalahgontor #gontornews #gontor #alumnigontor
  • Tersedia Ukuran:
S, M, L, XL, XXLWarna : Hitam dan Putih
Sablon : DTF
  • Kumpul-kumpul alumni di acara puncak 100 Tahun gontor boleh juga ini. Silahkan yang mau pesan bisa langsung ke link berikut : https://tinyurl.com/pesan-kaos
atau bisa pesan ke nomor yang ada pada flyer.Bahan : Cotton Combed 24s
Warna tersedia : Hitam dan Putih
Tersedia lengan pendek dan lengan panjang.
Ukuran : S, M, L, XL, XXL.Catatan:
Gambar yang ada pada katalog ini mungkin tidak 100% akurat dengan aslinya. Hal tersebut disebabkan adanya faktor perbedaan cahaya dan tampilan pada media elektronik yang digunakan.#gontornews #majalahgontor
  • Bismillah, PRE-ORDER
Limited Edition
Tersedia Warna Hitam dan Putih
Ukuran yang tersedia : S, M, L, XL, XXL
Bahan : Cotton Combed 24s
Sablon : DTFLink Pemesanan : https://tinyurl.com/pesan-baju#majalahgontor
#gontornews

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result