Jakarta, Gontornews — Suasana haru dan khidmat menyelimuti acara pernikahan Rahel dan Sania yang digelar di Gedung BRIN Batan, Pasar Jumat, Jakarta, Jumat (3/9/2026). Turut hadir dalam momentum sakral tersebut, Prof Dr H Syamsuddin Arif dan sejumlah tamu undangan lainnya.
Dalam tausiah singkatnya, Prof Syamsuddin Arif menyampaikan lima pilar utama untuk membangun rumah tangga yang langgeng dan sakinah. Menurut sang ustadz, kelima pilar ini berakar langsung dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Berikut pemaparannya:
1. Cinta (Mawaddah)
Cinta bukan sekadar perasaan, melainkan rezeki yang Allah tanamkan di dalam hati.
Allah berfirman dalam QS Ar-Rum ayat 21: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.”
“Rasulullah ﷺ tidak pernah menyembunyikan cintanya. Ketika ditanya siapa yang paling beliau cintai, beliau menjawab dengan terbuka: Aisyah. Bahkan tentang Khadijah, beliau bersabda: Inni qad ruziqtu hubbaha – Sesungguhnya aku telah dikaruniai cintanya. [HR. Muslim]. Cinta itu rezeki, ia harus dirawat dengan kata-kata, hadiah, dan waktu,” tutur Prof Syamsuddin.
2. Sayang (Rahmah)
Jika cinta yang menyatukan, maka kasih sayanglah yang menjaga saat cinta mulai lelah.
“Allah menyebut rahmah tepat setelah mawaddah bukan tanpa alasan. Kalian akan lebih banyak membutuhkan rahmah daripada mawaddah,” jelas Ustadz Syamsuddin.
Rasulullah ﷺ bersabda: “Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Ar-Rahman. Sayangilah yang di bumi, niscaya yang di langit akan menyayangi kalian.” [HR. Tirmidzi]
Wujud rahmah dalam rumah tangga yaitu memaafkan sebelum diminta, menutupi aib pasangan, dan tetap lembut saat punya kuasa untuk berbuat kasar.
3. Saling Menghormati (Ihtiram dan Ikram)
Tanpa rasa hormat, cinta akan mati.
Allah berfirman: “Wa ‘aasyiruuhunna bil ma’ruf” – Dan bergaullah dengan mereka secara patut. [QS An-Nisa: 19]
Prof Syamsuddin juga menegaskan bahwa standar kebaikan seorang laki-laki bukan diukur di masjid, melainkan di rumahnya.
“Khairukum khairukum li ahlihi, wa ana khairukum li ahli. Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada istrinya, dan aku yang terbaik di antara kalian kepada istriku.” [HR. Tirmidzi – Sahih]
Menghormati berarti tidak menghina, tidak merendahkan, tidak membandingkan dengan orang lain, memanggil dengan panggilan kesayangan, dan berterima kasih untuk hal-hal kecil.
4. Jujur (Shidq)
Rumah yang dibangun di atas kebohongan akan runtuh, seindah apa pun tampaknya.
“Yaa ayyuhalladzina aamanuttaqullaha wa kuunuu ma’ash-shaadiqiin. Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang benar.” [QS. At-Taubah: 119]
Rasulullah ﷺ bersabda: “Hendaklah kalian berpegang pada kejujuran, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan membawa ke surga.” [HR. Bukhari Muslim]
Dalam pernikahan, jujur berarti tidak ada kehidupan rahasia, tidak berbohong soal keuangan, tidak memberi janji palsu. Jujur juga tentang perasaan – katakan saat terluka sebelum menjadi dendam.
“Kebohongan itu seperti obat penghilang rasa sakit, lega sesaat tapi efek sampingnya selamanya,” tekan Ustadz Syam.
5. Tanggung Jawab (Amanah & Qiwamah)
Pernikahan merupakan amanah yang akan dimintai pertanggungjawabannya.
“Ar-rijaalu qawwaamuuna ‘alan-nisaa.” [QS An-Nisa: 34] Qawwam bukan berarti diktator, melainkan penegak, pelindung, pemberi nafkah, dan penanggung jawab.
“Kullukum raa’in wa kullukum mas’uulun ‘an ra’iyyatihi. Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.
Seorang suami merupakan pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungjawaban. Seorang istri merupakan pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungjawaban.” [HR. Bukhari Muslim]
Tanggung jawab suami menafkahi, melindungi, memimpin dengan musyawarah, dan menjaga agama keluarganya. Tanggung jawab istri menjaga rumah, harta, kehormatan, dan menjadi mitra dalam membangun rumah tangga.
Di akhir tausiah, Prof Syamsuddin Arif merangkumnya dengan indah, “Ketika lima pilar ini berkumpul, maka rumah itu akan menjadi Sakinah – penuh ketenangan.”
Cinta akan berkata, “Aku menginginkanmu.”
Rasa sayang berkata, “Aku memaafkanmu.”
Rasa hormat berkata, “Aku menghargaimu.”
Kejujuran berkata, “Aku mempercayaimu.”
Tanggung jawab berkata, “Aku akan menjagamu.”
Love says, “I want you.”
Mercy says, “I forgive you.”
Respect says, “I honor you.”
Honesty says, “I trust you.”
Responsibility says, “I’ll carry you.”
Acara pernikahan Rahel dan Sania pun ditutup dengan doa untuk kedua mempelai agar menjadi keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah. []






















