Pondok Gontor akan menggelar acara reuni 100 tahun keberadaannya. Pondok yang telah melahirkan ratusan ribu santri dan santriwati dari seluruh Indonesia ini berdiri pada 1926 di Desa Gontor, Kabupaten Ponorogo. Sebagian besar alumni akan datang ke Gontor pada akhir September nanti.
Para alumni Gontor menganggap reuni ini terasa begitu istimewa. Sejak beberapa bulan sebelum September ceria itu tiba, obrolan tentang “ke-Gontor-an” di grup-grup WhatsApp sudah mulai semarak. Berbagai rencana dan topik pembicaraan muncul secara alamiah.
Mengapa begitu?
Daya tarik reuni ini begitu kuat sehingga saya sendiri tidak sanggup mengungkapkannya dalam tulisan. Bisikan dan rasa itu terasa begitu dalam, tersimpan di dalam sanubari. Mulut dan jemari saya seperti tidak mampu menerjemahkannya menjadi kalimat. Kalaupun saya tulis, jangan-jangan justru akan mengurangi bobot maknanya.
Perasaan heran dan takjub itu sering dialami oleh pasangan para-alumni Gontor. Mereka rata-rata merasa heran melihat sikap dan perilaku para-alumni ketika ada reuni. Apalagi bagi mereka yang sama sekali tidak memiliki keterikatan dan latar belakang dunia pesantren, seperti istri saya. Keheranan mereka bisa bertambah berkali-kali lipat.
“Saya juga sering ikut acara reuni sekolah, tapi kok tidak begitu-begitu amat, ya?” keluh istri.
Reuni di Gontor memang terasa unik. Dari topik obrolan, gaya berbicara, hingga budaya pergaulan, semuanya sangat khas dan ikut mempengaruhi suasana batin masing-masing. Bahasa anak-anak Gontor di setiap angkatan pun memiliki ciri khas. Ada istilah-istilah yang hanya bisa dimengerti oleh mereka karena dibuat sesuai dengan peristiwa serta konteks yang terjadi selama menjadi santri di Gontor.
Bahasa anak Gontor merupakan perpaduan antara bahasa Arab ala Gontor dan bahasa Indonesia. Bahasa itu tidak mudah dipahami oleh orang yang bukan bagian dari komunitas Gontor. Bahkan, orang Arab asli sekalipun belum tentu bisa memahaminya.
Kenangan Paling Mengesankan
Rindu bertemu dengan kawan lama dalam satu angkatan merupakan satu hal. Namun, melakukan hal-hal sederhana seperti shalat di Masjid Satelit, Masjid Pusaka, dan Masjid Utama; masuk ke ruang-ruang kelas di Saudi dan Komsol; atau menikmati makanan santri di Dapur ‘A’ Gontor, bagi saya, memiliki makna yang sangat dalam.
Hadir di berbagai tempat bersejarah itu bisa membangkitkan kembali kenangan lama, baik yang indah maupun sebaliknya. Tempat-tempat itu seolah hidup kembali, membawa sukma ini kembali pada sebuah peristiwa lama. Bedanya, kali ini saya menghadapinya dengan suasana batin dan mental yang sudah berbeda.
Saat seperti itu, akan muncul bisikan-bisikan kecil dalam hati, “Kok bisa saya dulu seperti itu, ya?” Atau “Andaikan saya bisa mengulangi lagi peristiwa itu, tentu saya akan bersikap begini atau begitu.”
Waktu memang tidak akan pernah kembali. Namun, kenangan dari peristiwa yang pernah terjadi itu mampu menghadirkan keindahan dan kebahagiaan batin yang sulit dijelaskan. Sesuatu yang tampak sepele justru bisa terasa sangat bermakna.
Kembali ke Gontor: Menata Batin
Suasana batin yang dipenuhi rasa senang, bahagia, dan damai seperti itulah yang mungkin menjadi bentuk pengobatan yang paling sulit direkayasa atau digantikan oleh berbagai bentuk kesenangan baru yang muncul dalam kehidupan saat ini, ketika suasananya sudah jauh berbeda dari masa lalu.
Kenangan apa yang paling mengesankan di Gontor? Setiap orang tentu memiliki jawaban yang berbeda-beda. Bagi saya, pulang ke Gontor memiliki tujuan yang beragam. Mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan membangkitkan kembali kenangan lama merupakan satu hal. Namun, mendoakan para guru dan kiai yang telah berjasa mendidik saya selama ini juga menjadi prioritas utama.
Ada satu keinginan yang akan saya lakukan saat pertemuan nanti: menyucikan niat dan hati. Tentu, bentuk nyatanya bisa dilakukan dengan berbagai cara yang tidak selalu terlihat oleh mata.
Bagi saya, kembali ke Gontor merupakan upaya untuk melakukan ‘rancang bangun ulang’ terhadap raga dan jiwa agar kembali bersih, polos, dan suci dari berbagai keinginan yang terlalu tinggi. Keinginan yang terus tumbuh ini terkadang membuat saya lalai hingga melewati batas kewajaran dan berubah menjadi keserakahan.
Dulu saya bahagia karena hidup saya sederhana. Sekarang kehidupan saya jauh lebih kompleks. Karena itu, saya ingin kembali ke Gontor bukan untuk mengulang masa lalu, tetapi untuk belajar kembali dari diri saya yang dahulu.
Dulu, ketika masih di Gontor, kebahagiaan hidup saya begitu sederhana. Asalkan bisa sekolah, mengikuti seluruh aktivitas pondok dengan senang hati, lalu naik kelas dengan nilai biasa-biasa saja, saya sudah sangat bahagia.
Dulu saya tidak punya banyak pilihan, tetapi justru merasa cukup. Sekarang pilihan hidup jauh lebih banyak, tetapi rasa cukup itu justru semakin sulit ditemukan.
Karena itu, bagi saya, kembali ke Gontor bukan sekadar kembali ke sebuah tempat. Ia upaya untuk kembali merasakan kesederhanaan hidup yang mampu menumbuhkan kebahagiaan hakiki.
Dulu, kehidupan di Gontor dipenuhi dengan ketaatan, kebersamaan, disiplin, dan suasana pertobatan. Setelah bertahun-tahun menjalani kehidupan dengan segala dinamika dan berbagai tuntutannya, mungkin sudah saatnya saya kembali mencari suasana batin seperti yang pernah saya rasakan ketika menjadi santri dulu.
Saya tidak ingin kembali menjadi anak muda. Saya hanya ingin mengambil kembali sebagian kualitas diri yang pernah saya miliki ketika menjadi santri. Ibarat baterai yang terus digunakan, mungkin batin ini juga membutuhkan waktu untuk diisi ulang. Kembali ke Gontor merupakan cara saya melakukan recharging agar batin ini kembali bekerja dengan baik, menjadi lebih tenang, lebih sederhana, dan lebih dekat kepada Allah. []






















