pesanan-majalah-edisi-khusus
27 °c
Pecenongan
Sat
Sun
Friday, 7 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Tadabbur Tafsir

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Rusdiono Mukri by Rusdiono Mukri
7 August 2026
in Tafsir
0
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Foto: klikmu

Landasan Teologis

لَمْ يَأْنِ لِلَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اَنْ تَخْشَعَ قُلُوْبُهُمْ لِذِكْرِ اللّٰهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّۙ وَلَا يَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْاَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوْبُهُمْۗ وَكَثِيْرٌ مِّنْهُمْ فٰسِقُوْنَ

“Apakah belum tiba waktunya bagi orang-orang yang beriman agar hati mereka khusyuk mengingat Allah dan apa yang turun dari kebenaran (Al-Qur’an). Janganlah mereka (berlaku) seperti orang-orang yang telah menerima kitab sebelum itu, kemudian mereka melalui masa yang panjang sehingga hati mereka menjadi keras. Banyak di antara mereka adalah orang-orang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)

Asbabun Nuzul

BACA JUGA

Siapkan Bekal Kehidupan Abadi Demi Gapai Ridha Ilahi

Menjaga Kesucian Hati dari Rasa Iri terhadap Nikmat Orang Lain

Tetap Jujur Meski Berhadapan dengan Kepentingan

Menjadi Pribadi yang Menenangkan, Bukan Meresahkan

Menghidupkan Spirit Haji Pasca-Idul Adha dalam Kehidupan Sehari-hari

Dalam Tafsir Al-Baghawi disebutkan bahwa Al-Kalbi dan Muqatil berkata: Ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang munafik, satu tahun setelah hijrah. Pada suatu hari, mereka bertanya kepada Salman al-Farisi, “Ceritakanlah kepada kami tentang Taurat, karena di dalamnya terdapat berbagai hal yang menakjubkan.”

Kemudian Salman menjelaskan kepada mereka bahwa Al-Qur’an merupakan kisah yang paling baik dibandingkan dengan kisah-kisah lainnya. Mereka pun berhenti bertanya kepada Salman untuk beberapa waktu.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwa ayat ini turun berkenaan dengan orang-orang beriman. Ibnu Abbas berkata: “Sesungguhnya Allah menganggap hati orang-orang beriman terlalu lambat dalam mencapai kekhusyukan, lalu Dia menegur mereka setelah tiga belas tahun sejak turunnya Al-Qur’an.”

Interpretasi Para Mufasir

Tafsir As-Sa’di menyebutkan bahwa ayat ini mengandung dorongan agar seseorang bersungguh-sungguh dalam menghadirkan kekhusyukan hati kepada Allah Ta‘ala dan terhadap apa yang telah Dia turunkan berupa kitab dan hikmah. Orang-orang beriman hendaknya senantiasa mengingat nasihat-nasihat Ilahi dan hukum-hukum syariat pada setiap waktu serta melakukan muhasabah terhadap diri mereka berkaitan dengan hal tersebut.

Karena hati manusia senantiasa membutuhkan peringatan terhadap apa yang telah Allah turunkan. Hati harus terus-menerus dihidupkan dengan hikmah dan nasihat. Seseorang tidak sepatutnya lalai dari hal tersebut, karena kelalaian dapat menjadi sebab kerasnya hati dan membekunya air mata, sehingga hati kehilangan kelembutan dan tidak mudah tersentuh oleh nasihat serta peringatan dari Allah.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi disebutkan bahwa Al-Khalil berkata: Al-‘Itab (teguran) adalah percakapan yang disertai kasih sayang dan penyampaian rasa kecewa terhadap orang yang dicintai.

Makna firman Allah: “…agar hati mereka khusyuk…“. Maksudnya, agar hati mereka tunduk, merendah, dan menjadi lembut ketika mengingat Allah dan terhadap wahyu yang diturunkan sebagai kebenaran.

Ada pula yang berpendapat bahwa ayat ini ditujukan kepada orang-orang yang beriman kepada Nabi Musa dan Nabi Isa, tetapi belum beriman kepada Nabi Muhammad SAW dan kepada Al-Qur’an. Allah mengingatkan agar mereka tidak seperti umat-umat terdahulu yang telah berlalu masa panjang setelah nabi mereka sehingga hati mereka menjadi keras.

Dalam Tafsir Al-Qurthubi juga dijelaskan makna firman Allah: “Dan banyak di antara mereka orang-orang fasik.” Maksudnya ialah mereka orang-orang yang tidak memahami agama dengan benar tetapi tetap menentang orang yang berilmu. Sebagian mufassir mengatakan bahwa mereka orang-orang yang memang tidak akan beriman.

Sebagian Ahli Kitab tetap istiqamah di atas agama Nabi Isa hingga Nabi Muhammad SAW diutus, lalu mereka beriman kepada beliau.

Sebagian lainnya justru meninggalkan ajaran Nabi Isa; merekalah yang disebut Allah sebagai orang-orang fasik.

Tafsir Ath-Thabari menyebutkan makna firman Allah SWT: “Belum tibakah waktunya bagi orang-orang yang beriman?” Maksudnya, belumkah tiba waktunya bagi orang-orang yang membenarkan Allah dan Rasul-Nya agar hati mereka menjadi lembut karena mengingat Allah, sehingga hati mereka tunduk kepada-Nya dan kepada kebenaran yang telah diturunkan, yaitu Al-Qur’an yang Allah turunkan kepada Rasul-Nya, Nabi Muhammad SAW.

Adapun makna firman Allah: “Lalu hati mereka menjadi keras”. Yakni, hati mereka menjadi keras sehingga tidak lagi menerima berbagai kebaikan dan semakin teguh dalam kemaksiatan kepada Allah.

Adapun makna ‘’orang-orang fasik,” yaitu mereka yang keluar dari ketaatan kepada Allah dengan melakukan penyimpangan terhadap agama-Nya.

Inti Reflektif

Surat Al-Ḥadīd ayat 16 mengingatkan bahwa hati seorang Mukmin tidak boleh menjadi keras akibat terlalu larut dalam kesibukan dunia, ujian kehidupan, atau panjangnya perjalanan waktu. Iman bukanlah sesuatu yang akan tetap kuat dengan sendirinya, melainkan harus terus dipelihara melalui dzikir, tilawah Al-Qur’an, ibadah yang ikhlas, serta muhasabah yang berkesinambungan.

Dalam setiap keadaan, baik ketika memperoleh nikmat maupun menghadapi musibah, saat lapang maupun sempit, orang beriman dituntut untuk menjaga kedekatannya dengan Allah SWT. Hati yang selalu hidup bersama Al-Qur’an akan tetap lembut, mudah menerima kebenaran, dan teguh menghadapi berbagai perubahan zaman. Oleh karena itu, menjaga kelestarian iman merupakan ikhtiar seumur hidup agar hati senantiasa hidup, istiqamah dalam ketaatan, dan memperoleh ridha Allah SWT hingga akhir kehidupan.

Nilai-nilai Pedagogis

QS Al-Hadid: 16 mengandung sejumlah nilai-nilai Pendidikan (pedagogis) bagi manusia, khususnya umat Islam. Pertama, Pendidikan Kekhusyukan Hati (Tarbiyah al-Qalb). Nilai pertama yang paling utama ialah pendidikan hati agar selalu hidup bersama Allah. Hati merupakan pusat kepribadian manusia. Pendidikan Islam harus mengembangkan kecerdasan spiritual sehingga umat Islam memiliki hati yang lembut.

Karena itu, guru dan orang tua harus membiasakan peserta didik untuk senantiasa berdzikir, membaca Al-Qur’an setiap hari, muhasabah diri, membiasakan doa sebelum belajar dan menanamkan rasa diawasi Allah (muraqabah).

Anak yang tumbuh dengan pendidikan kekhusyukan hati akan tumbuh menjadi anak yang memiliki kecerdasan spiritual yang hebat dan menjadi hamba Allah yang taat.

Kedua, Pendidikan Menjaga Kepekaan Spiritual. Dalam ayat ini, Allah memperingatkan agar hati tidak menjadi keras sehingga harus rajin menjaga keimanan dengan siraman ilmu, taubat dan nasihat. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa hati menjadi keras karena banyaknya kelalaian.

Guru dan orang tua harus mengajari peserta didik untuk menjauhi maksiat, menghindari pergaulan buruk, memperbanyak istighfar dan menjaga shalat berjamaah.

Kepekaan spiritual harus dipupuk sejak dini agar menjadi kebiasaan yang tertanam hingga dewasa.

Ketiga, Pendidikan Istiqamah. Dalam ayat ini, Allah menyebutkan telah berlalunya masa yang panjang. Hal ini menunjukkan bahwa iman dapat melemah apabila tidak dipelihara. Allah mencintai orang-orang yang menjaga istiqamah.

Guru dan orang tua harus memberikan teladan agar senantiasa istiqamah mulai dari amal sedikit tetapi rutin, membiasakan ibadah harian, membuat target tilawah dan konsisten dalam menghadiri majelis ilmu.

Anak yang terlatih istiqamah dalam kebaikan dan ibadah akan tumbuh menjadi anak yang taat dan tidak meninggalkan kewajibannya dalam beribadah, berbakti dan mencari ilmu.

Keempat, Pendidikan Menjauhi Penyakit Hati. Ayat ini mengingatkan agar kita jangan mendekati penyakit hati yang dapat membuat hati menjadi keras. Penyakit hati meliputi: hasad, takabur, riya‘, ujub dan cinta dunia berlebihan.

Kita harus senantiasa membersihkan niat, memperbanyak istighfar, menumbuhkan sifat tawadhu‘ dan menjaga keikhlasan dalam beramal agar terhindar dari penyakit hati.

Karena itu, marilah kita didik para murid agar senantiasa membersihkan hati dan menjauhi penyakit hati yang menyebabkan kerasnya hati.

Landasan Teoretis

Iman merupakan nikmat terbesar yang Allah anugerahkan kepada seorang hamba. Iman dapat bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan serta kelalaian.

Secara bahasa, iman berarti percaya atau membenarkan (at-tashdîq). Secara istilah, para ulama Ahlus Sunnah mendefinisikan iman sebagai: “Membenarkan dengan hati, mengikrarkan dengan lisan, dan mengamalkan dengan anggota badan.”

Imam Asy-Syafi’i menjelaskan bahwa iman terdiri atas perkataan, amal, dan niat. Iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang karena kemaksiatan.

Dengan demikian, menjaga kelestarian iman berarti menjaga hati agar tetap hidup, memperkuat hubungan dengan Allah, dan terus memperbarui kualitas amal shalih.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْۗ وَلِلّٰهِ جُنُوْدُ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِۗ وَكَانَ اللّٰهُ عَلِيْمًا حَكِيْمًاۙ

“Dialah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang Mukmin untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Milik Allahlah bala tentara langit dan bumi dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana.” (QS Al-Fath: 4)

Faktor yang Melemahkan Iman

Lalu apa faktor-faktor yang dapat melemahkan iman? Pertama, lalai mengingat Allah. Allah SWT berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَالُكُمْ وَلَآ اَوْلَادُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta bendamu dan anak-anakmu membuatmu lalai dari mengingat Allah. Siapa yang berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang merugi.” (QS Al-Munafiqun: 9)

Kedua, panjang angan-angan. Rasulullah SAW bersabda:

لَا يَزَالُ قَلْبُ الْكَبِيرِ شَابًّا فِي اثْنَتَيْنِ: فِي حُبِّ الدُّنْيَا وَطُولِ الْأَمَلِ

“Hati orang yang sudah tua akan senantiasa seperti anak muda dalam menyikapi dua hal: cinta dunia dan panjang angan-angan.” (HR Al-Bukhari No. 6420)

Bahaya panjang angan-angan di antaranya melalaikan akhirat, merusak amal shalih dan mengeraskan hati.

Ketiga, maksiat yang terus dilakukan. Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِي قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ، وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ، وَهُوَ الرَّانُ الَّذِي ذَكَرَ اللَّهُ: {كَلَّا بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ}

“Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, ‘Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka’ (QS Al-Muthaffifin: 14).” (HR Tirmidzi)

Keempat, cinta dunia berlebihan. Allah SWT berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَآ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌۗ وَاِنَّ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ لَهِيَ الْحَيَوَانُۘ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah senda gurau dan permainan. Sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, seandainya mereka mengetahui.” (QS Al-’Ankabut: 64)

Menjaga Kelestarian Iman

Bagaimana cara menjaga kelestarian iman dalam menghadapi segala situasi kehidupan saat ini? Pertama, membiasakan dzikir kepada Allah. Rasulullah SAW bersabda:

مَثَلُ الَّذِي يَذْكُرُ رَبَّهُ وَالَّذِي لاَ يَذْكُرُهُ مَثَلُ الحَيِّ وَالمَيِّتِ  . رَوَاهُ البُخَارِيُّ

“Perumpamaan orang yang berdzikir (mengingat) Rabbnya dan yang tidak bagaikan orang yang hidup dan orang yang mati.” (HR Bukhari)

Kedua, membaca dan mentadabburi Al-Qur’an. Allah SWT berfirman:

اِنَّ هٰذَا الْقُرْاٰنَ يَهْدِيْ لِلَّتِيْ هِيَ اَقْوَمُ وَيُبَشِّرُ الْمُؤْمِنِيْنَ الَّذِيْنَ يَعْمَلُوْنَ الصّٰلِحٰتِ اَنَّ لَهُمْ اَجْرًا كَبِيْرًاۙ

“Sesungguhnya Al-Qur’an ini memberi petunjuk ke (jalan) yang paling lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang Mukmin yang mengerjakan kebajikan bahwa bagi mereka ada pahala yang sangat besar.” (QS Al-Isra’: 9)

Ketiga, menjaga shalat. Allah SWT berfirman:

اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِۗ وَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ

“Bacalah (Nabi Muhammad) Kitab (Al-Qur’an) yang telah diwahyukan kepadamu dan tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar. Sungguh, mengingat Allah (shalat) itu lebih besar (keutamaannya daripada ibadah yang lain). Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS Al-’Ankabut: 45)

Keempat, bergaul dengan orang shalih. Allah SWT berfirman:

وَاصْبِرْ نَفْسَكَ مَعَ الَّذِيْنَ يَدْعُوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَدٰوةِ وَالْعَشِيِّ يُرِيْدُوْنَ وَجْهَهٗ…

“Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridaan-Nya…” (QS Al-Kahfi: 28)

Kelima, memperbanyak doa memohon keteguhan hati. Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُ

“(Mereka berdoa), ‘Wahai Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami berpaling setelah Engkau berikan petunjuk kepada kami dan anugerahkanlah kepada kami rahmat dari hadirat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi’.” (QS Ali ‘Imran: 8)

Keenam, senantiasa istiqamah menjaga keimanan. Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ قَالُوْا رَبُّنَا اللّٰهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوْا فَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَۚ

“Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami Allah’, kemudian tetap istiqamah, tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak (pula) bersedih.” (QS Ahqaf: 13)

Kisah Teladan

Al-Imam al-Habib Abdullah bin Alwi al-Haddad menceritakan kisah-kisah para ulama salaf dari masa tabi’in dan tabi’it-tabi’in, di antaranya Imam Ibnu Sirin.

Imam Ibnu Sirin, seorang ulama tabi’in di Basrah yang sangat dihormati bahkan oleh para penguasa saat itu. Beliau lebih memilih berdagang untuk mendapatkan rezeki yang halal. Sayangnya, peristiwa buruk membuatnya dipenjara.

Suatu hari beliau membeli minyak secara kredit senilai 40.000 dinar. Tatkala dia membuka salah satu tutup minyak yang terbuat dari kulit itu, beliau mendapati seekor tikus yang mati membusuk.

“Sesungguhnya semua minyak ini berasal dari satu tempat penyaringan. Najis yang ada bukan hanya ada di dalam satu wadah ini saja. Jika, aku kembalikan kepada si penjual karena alasan ada aibnya, barangkali saja dia akan menjualnya lagi kepada orang lain,” sehingga beliau menumpahkan semuanya. Saat beliau mengalami kerugian besar sehingga dililit hutang, pemilik minyak itu menagih uangnya dan mengadukan Ibnu Sirin kepada penguasa yang membuatnya dipenjara karena tidak bisa melunasi.

Saat di penjara, seorang penjaga merasa kasihan dan memberinya kesempatan untuk keluar dari penjara.

“Wahai Syaikh, jika malam tiba, pulanglah engkau ke rumahmu dan bermalamlah di sana. Jika pagi menjelang, kembalilah ke sini. Lakukanlah begitu hingga engkau dibebaskan.”

Ibnu Sirin menjawab tegas, “Tidak, aku tidak mau! Jika kulakukan itu, berarti aku membantumu untuk melakukan pengkhianatan.”

Ketika Sahabat Anas bin Malik RA dekat ajalnya, beliau berwasiat agar Muhammad bin Sirin yang saat itu di penjara, yang memandikan dan mengimami shalat jenazahnya. Tatkala Anas wafat, penguasa memberinya izin. Tapi apa kata Ibnu Sirin, “Aku tidak akan keluar hingga kalian meminta izin juga kepada si tukang minyak sebab aku dipenjara karena ada haknya dia tidak bisa aku bayar.”

Selesai mengikuti prosesi takziyah Sahabat Rasulullah itu, beliau kembali ke penjara dan tidak pulang menjenguk keluarganya sendiri. Semua itu beliau lakukan karena sikap wara’ dan kehati-hatian dalam menjalani hidup.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Wahai Zat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR Tirmidzi) []

Tags: Cinta duniaImanPanjang angan-angan
ShareTweetSend
Previous Post

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

Rusdiono Mukri

Rusdiono Mukri

Redaksi Majalah Gontor

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

Antusiasme Puluhan Ribu Jamaah Warnai Puncak Idul Khotmi Nasional Ke-234

25 July 2026
Sosialisasi RLS dan Open House 2026: INAIS Perkuat Sinergi Pendidikan Bogor Barat

Sosialisasi RLS dan Open House 2026: INAIS Perkuat Sinergi Pendidikan Bogor Barat

2 August 2026
FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

3 August 2026
Penerbit Erlangga Raih Apresiasi Radar Surabaya Awards 2026

Penerbit Erlangga Raih Apresiasi Radar Surabaya Awards 2026

3 August 2026
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

0
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

0
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

0
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

0
FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

FITK INAIS Bogor Siapkan Calon Pendidik yang Tak Tergantikan AI Menuju Indonesia Emas 2045

0
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

6 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
BAZNAS dan PP PERSIS Perkuat Kerjasama Program Strategis

BAZNAS dan PP PERSIS Perkuat Kerjasama Program Strategis

4 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Silahkan daftar melalui link ini : https://tinyurl.com/iklan-magonatau link bisa lihat di profile
  • Batas Akhir 7 Agustus 2026
Link Pendaftaran ada di profile"Kesempatan boleh datang berkali-kali, tetapi momen 100 Tahun Gontor hanya terjadi sekali. Jangan hanya menjadi saksi sejarah. Jadilah bagian dari sejarah."
  • Sistim pendafaran otomatis akan tertutup pada tanggal 7 Agustus 2026.
  • Edisi Khusus Majalah Gontor dalam rangka 100 Tahun Gontor. Bulan Juli, Agustus dan September.
Link Pemesanan : Lihat di profile#majalahgontor #gontornews #edisikhsusumajalahgontor #100tahungontor #gontor #gontorputri
  • KHUSUS ALUMNI GONTOR 📣Perkenalkan usaha Anda.
Majalah Gontor Edisi Khusus September 2026 – Spesial 100 Tahun Gontor.✔️ Perkenalkan usaha Anda kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.
✔️ Kontribusi Rp1.500.000.
✔️ Pendaftaran hingga 7 Agustus 2026 atau kuota terpenuhi.📝 https://tinyurl.com/iklan-magon📞 0877-8707-2412 | 0813-1510-6479
  • Ada momen yang bisa diulang, ada pula yang hanya terjadi sekali dalam sejarah. Jangan lewatkan kesempatan memperkenalkan usaha Anda pada Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Link Pendaftaran :
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg#majalahgontor #gontornews #walisantrigontor #gontor
  • Kesempatan yang Tidak Datang Dua KaliJadilah bagian dari Edisi Khusus Majalah Gontor September 2026 dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Kami mengundang Wali Santri Gontor yang memiliki usaha untuk memperkenalkan produknya kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia melalui edisi koleksi yang akan menjadi bagian dari sejarah.📌 Kontribusi seikhlasnya
📌 Syarat: Anak masih aktif sebagai santri Gontor
📌 Pendaftaran hanya sampai 7 Agustus 2026Kirimkan:
✅ Logo Usaha
✅ Foto Produk
✅ Deskripsi Singkat
✅ Website/Sosial Media (jika ada)📲 Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg📞 Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479#majalahgontor #100tahungontor #walisantri #pengusahamuslim #gontornews #pesantrengontor #gontor
  • EDISI KHUSUS SPESIAL 100 TAHUN GONTOR TELAH TERBIT! ✨Perjalanan satu abad tidak datang dua kali.📖 Majalah Gontor Edisi Juli & Agustus 2026 hadir sebagai bagian dari koleksi bersejarah 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor. Mengangkat perjalanan, gagasan, dan kontribusi Gontor dalam membangun peradaban, dua edisi ini layak menjadi koleksi bagi setiap keluarga besar Gontor.Jangan menunggu sampai stok habis.
📚 Pesan sekarang:
👉 https://bit.ly/pesan-majalah🌐 www.gontornews.com#majalahgontor #100tahungontor #gontor #pondokmoderngontor #mediaperekatumat #unidagontor #keluargabesargontor #alumnigontor #walisantrigontor #koleksibersejarah
  • Dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor, Majalah Gontor membuka kesempatan bagi 100 UMKM milik wali santri untuk menjadi bagian dari Edisi Khusus September 2026.📌 Yang ditampilkan:
✅ Logo/Nama Usaha
✅ Foto Produk
✅ Deskripsi Singkat
✅ Website/Media Sosial (jika ada)💚 Kontribusi seikhlasnya
⚠️ Kuota hanya 100 UMKM.Jadilah bagian dari edisi koleksi bersejarah yang akan dibaca dan disimpan oleh keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.📲 Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg📞 Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479

© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
▲
Social Media Auto Publish Powered By : XYZScripts.com
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result