Dalam hidup, ada masa yang singkat namun membekas lama. Bagi saya, salah satunya yaitu empat bulan di Pondok Modern Darussalam Gontor pada tahun 1990.
Saya bukan santri Gontor. Tetapi kalau boleh sedikit bercanda, saya menyebut diri saya waktu itu sebagai “setengah santri”. Mengapa setengah? Hal itu, karena saya pernah tinggal di lingkungan pondok, setiap hari bergaul dengan santri, merasakan suasana pesantren, bahkan ikut belajar sedikit-sedikit bahasa Arab dan Inggris. Tetapi saya datang bukan untuk mondok. Saya datang sebagai dokter umum yang bertugas melayani kesehatan para santri di Balai Kesehatan Santri dan Masyarakat atau BKSM.
Ada satu hal yang membuat masa itu terasa semakin istimewa. Saya datang bersama istri. Kami waktu itu masih pengantin baru. Jadi, kalau orang lain pergi bulan madu ke tempat wisata, kami justru “bulan madu” di pesantren. Bukan ke pantai. Bukan ke hotel. Tetapi ke Gontor.
Terkait itu, ada lagi hal yang tak bisa saya lupakan. Saya datang sebagai dokter umum untuk menggantikan sejawat, dr. Abdul Ghofir, yang sebelumnya bertugas melayani kesehatan para santri di BKSM. Saat itu sempat terdengar kabar bahwa beliau ingin mengabdi cukup lama di sana karena sudah merasa cocok dengan lingkungan pesantren. Kalau tidak salah, beliau juga masih pengantin baru, tetapi sudah dikaruniai satu atau dua buah hati.
Mendengar kabar itu, dalam hati, saya mulai pesimis. Jangan-jangan saya hanya akan mendapat tugas sebentar di BKSM, atau bahkan tidak sempat kebagian tugas sama sekali karena beliau tampaknya masih betah dan belum berniat meninggalkan tempat pengabdiannya.
Dokter dan Apoteker di Tengah Ribuan Santri
Sebagai seorang dokter, kami mendapat fasilitas rumah dinas di lingkungan pondok. Istri saya seorang apoteker. Selain menemani saya, beliau juga ikut membantu pelayanan di apotek BKSM. Karena cukup sering membantu di apotek, beliau kemudian mendapat bisyarah sebagai apoteker dari pimpinan pondok, KH Abdullah Syukri Zarkasyi MA.
Kegiatan keseharian kami diisi dengan pelayanan kesehatan. Pagi dan sore, rata-rata sekitar 60 santri datang berobat. Pasien dari luar pondok ada, tetapi bisa dihitung dengan jari.
BKSM saat itu sudah memiliki beberapa tempat tidur untuk rawat inap, kurang dari sepuluh. Namun sering kali semuanya terisi.
Kasus yang ringan tentu cukup ditangani di BKSM. Jika ada kasus yang berat dirujuk ke Rumah Sakit di Ponorogo. Untuk kasus patah tulang, waktu itu beberapa pasien dirujuk ke RS Bedah Tulang dr. Tunjung di Solo.
Sesekali kami juga melakukan kunjungan ke pesantren alumni di sekitar Gontor. Salah satunya, ke Pondok Pesantren Al-Mawaddah.
Kalau ada penyakit yang menyerang banyak santri sekaligus, kami juga harus turun tangan. Salah satunya scabies yang cukup berat. Santri yang terkena biasanya diisolasi di tempat khusus.
Begitulah kehidupan kami. Pagi melayani pasien. Sore melayani pasien. Malam sewaktu-waktu bisa dipanggil. Namanya juga dokter yang tinggal di tempat pelayanan kesehatan. Dua puluh empat jam.
Ikhlas Itu Perlu Dimenej
Ada satu kalimat dari pimpinan pondok yang sampai sekarang masih saya ingat. “Ikhlas itu butuh dimenej.” Waktu itu saya masih muda. Kalimat tersebut terasa sederhana.
Sekarang, setelah puluhan tahun menjalani berbagai macam kehidupan, saya semakin memahami maksudnya. Ikhlas memang harus dijaga. Tetapi lembaga juga harus mengatur bagaimana orang-orang yang bekerja di dalamnya dapat tetap menjalankan pengabdian dengan baik.
Guru mendapat bisyarah. Tenaga kesehatan mendapat bisyarah. Kami pun mendapat hak kami. Jadi, ikhlas bukan berarti tidak perlu mendapatkan apa-apa. Ikhlas adalah sikap hati dalam menjalankan amanah. Sementara hak dan kewajiban tetap harus dikelola dengan baik. Barangkali itulah maksud dari “ikhlas yang perlu dimenej“.
Man Jadda Wajada: Ruh Etos Santri
Ada satu kalimat lagi yang sangat familiar ketika di Gontor: man jadda wajada. Kalimat berbahasa Arab yang sederhana itu begitu populer sebagai pemberi motivasi tinggi untuk kesuksesan seseorang. Terlebih untuk para santri yang sedang menuntut ilmu.
Artinya: siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil. Di Gontor, kalimat itu tidak hanya ditulis di dinding atau diucapkan dalam pidato. Ia hidup dalam keseharian. Terlihat dari cara santri bangun pagi sebelum Shubuh, antre bahasa, belajar berjam-jam, mengulang muhadatsah, hingga menjaga kerapian dan kedisiplinan yang ketat. Semua adalah wujud dari ‘kesungguhan’ itu.
Bagi saya yang saat itu menjadi ‘setengah santri’, spirit man jadda wajada terasa menular. Melihat ribuan santri berjuang menaklukkan bahasa Arab dan Inggris, menghafal, dan berorganisasi, saya belajar bahwa ilmu dan kematangan tidak datang tiba-tiba. Ia perlu kesabaran, keuletan, dan kesungguhan yang terus-menerus. Mungkin inilah rahasia mengapa alumni Gontor di mana pun berada dikenal memiliki daya juang yang kuat.
Latihan Menjadi ‘Orang Gontor’
Saat itu jumlah santri sekitar 3.019 orang. Ada yang bersarung, ada pula yang bercelana. Kalau bersarung, biasanya memakai sabuk sehingga tetap tampak rapi. Kedisiplinan itu terlihat dalam banyak hal kecil.
BKSM yang letaknya di luar area utama pondok menjadi tempat yang cukup sering didatangi santri. Tidak semuanya sakit berat. Ada yang sakit ringan. Kadang saya berpikir, mungkin memang benar-benar sakit. Tetapi mungkin juga ada alasan lain.
Bayangkan ribuan santri hidup dalam lingkungan yang penuh aturan, jadwal belajar, kegiatan, ibadah, dan berbagai kewajiban. Maka berjalan keluar menuju BKSM, meskipun hanya untuk berobat, mungkin menjadi semacam “refreshing”.
Lihatlah, dokter mendapat pasien. Santri mendapat obat. Mungkin juga mendapat sedikit udara segar di luar rutinitas pondok. Semua sama-sama mendapat manfaat.
Ketika Aturan Tidak Pandang Bulu
Dari sekian banyak pengalaman, ada satu kejadian yang paling kuat membekas dalam ingatan saya. Tentang disiplin. Tentang keadilan. Tentang bagaimana aturan benar-benar ditegakkan.
Di lingkungan santri ada semacam dewan yang menangani persoalan dan pelanggaran santri. Jika ada santri yang melakukan pelanggaran dan harus menjalani sidang, ada pihak yang bertugas memberikan pembelaan.
Ketua dewan itu biasanya ustadz senior yang dianggap bijaksana. Menariknya, kalau ada santri yang melakukan pelanggaran, sang ketua dewan justru sering tampil gigih membela. Memang itu tugasnya. Mencari sisi yang meringankan. Tetapi suatu ketika, sang ketua dewan tersebut jatuh sakit. Ia harus dirawat di BKSM.
Dugaan waktu itu tifoid. Beliau harus bed rest dan dirawat sekitar tujuh hari. Saya ikut merawatnya bersama tiga orang perawat. Alhamdulillah, akhirnya sembuh. Namun ketika beliau sedang dirawat itulah terjadi sebuah peristiwa penting. Ada seorang santri yang melakukan pelanggaran berat. Setelah melalui proses yang ada, santri tersebut akhirnya dijatuhi hukuman dikeluarkan dari pondok.
Hal yang membuat saya tertegun, santri itu ternyata masih memiliki hubungan kerabat dengan keluarga pondok. Tetapi aturan tetap aturan. Pelanggarannya dianggap berat. Sanksinya pun dijalankan. Dikeluarkan. Tidak ada pengecualian. Saya sampai merinding mendengar ceritanya.
Dalam hati saya berpikir: Andaikan ketua dewan yang sedang sakit itu tidak sedang dirawat, mungkin ia akan hadir dalam sidang. Mungkin ia akan membela santri tersebut. Mungkin saja hukuman yang diberikan menjadi lebih ringan. Tetapi Allah menakdirkan beliau sakit. Beliau tidak hadir. Keputusan pun berjalan sesuai aturan.
Bagi saya, peristiwa itu memberikan pelajaran yang sangat kuat. Keteladanan tidak selalu berupa nasihat. Kadang keteladanan justru berupa sebuah keputusan yang sulit. Dari keputusan itu, ribuan santri belajar bahwa aturan berlaku untuk siapa saja. Termasuk kepada orang yang memiliki hubungan dengan keluarga pondok.
Empat Bulan yang Sangat Terkenang
Setelah sekitar empat bulan di Gontor, kami kemudian dimutasi ke Lamongan, antara lain ke PKU Muhammadiyah Babat dan Parengan. Sebenarnya kami sudah cukup kerasan di Gontor.
Lingkungan pesantren terasa cocok. Kami menikmati kehidupan di sana. Bahasa Arab dan Inggris juga mulai terasa lebih akrab. Walaupun kalau saya jujur, istilah “hampir fasih” mungkin terlalu berlebihan. Belum sempat benar-benar fasih, sudah dimutasi.
Setelah meninggalkan Gontor, kemampuan bahasa yang “hampir fasih” itu perlahan ikut menghilang. Apa boleh buat. Itulah perjalanan. Hal yang tinggal justru kenangannya.
Kini, ketika melihat momentum satu abad Pondok Modern Gontor, saya melihat KH Hasan Abdullah Sahal yang masih tampak energik. Rasanya seperti baru kemarin saya menginjakkan kaki di Gontor. Padahal sudah 36 tahun berlalu.
Waktu ternyata memang cepat sekali. Dulu saya datang sebagai dokter muda bersama istri yang masih pengantin baru. Sekarang rambut sudah banyak berubah warna. Gontor juga sudah jauh berkembang.
BKSM yang dahulu kami kenal kini telah berkembang menjadi Rumah Sakit dengan layanan yang semakin lengkap, termasuk layanan spesialistik. Saya hanya pernah berada di sana sekitar empat bulan. Tetapi empat bulan itu meninggalkan begitu banyak pelajaran. Tentang bekerja. Tentang melayani. Tentang disiplin. Tentang kepemimpinan. Tentang keikhlasan. Tentang hidup sederhana. Terutama, tentang keteladanan.
Semua itu, karena pendidikan ternyata tidak selalu diberikan lewat ceramah panjang. Kadang cukup dengan melihat bagaimana seorang guru menjalankan amanah. Bagaimana aturan ditegakkan. Bagaimana orang bekerja tanpa banyak mengeluh. Juga, bagaimana sebuah lembaga berusaha menjaga nilai-nilainya.
Itulah yang saya rasakan ketika menjadi “setengah santri” di Gontor. Saya bukan santri Gontor. Tetapi pernah tinggal di tengah-tengah mereka. Mungkin, sedikit banyak, pernah ikut belajar menjadi santri.
Kini, ketika gaung peringatan satu abad Gontor menggema, tersisa satu keinginan: rasanya ingin kembali bersilaturahim, menemui KH Hasan Abdullah Sahal, yang alhamdulillah masih sehat, bugar, dan tetap energik. Tentu, sekaligus ingin melihat kembali tempat yang pernah menjadi bagian kecil dari perjalanan hidup kami.
Semoga Allah memberikan kesempatan untuk kembali berkunjung dan bersilaturahim. In syaa Allah.
Semoga empat bulan pengabdian yang singkat itu menjadi amal yang barakah. Mudah-mudahan kenangan yang panjang ini menjadi pengingat, bahwa, kadang-kadang tempat kita yang hanya singgah sebentar tetapi pelajaran di dalamnya bisa kita bawa seumur hidup. []























