Setelah sebuah acara besar selesai, biasanya yang paling lama bertahan foto-fotonya. Sering kali, orang-orang mengingat senyumnya, panggungnya bahkan keramaiannya. Padahal ada satu bagian yang hampir tidak pernah ikut masuk ke dalam kamera yaitu mereka yang datang lebih awal, pulang paling akhir, lalu menghilang begitu saja seolah mereka memang tidak pernah ada.
Barangkali, justru di sanalah cerita paling penting dari Peringatan 100 Tahun Gontor dimulai. Termasuk panitia di setiap angkatan. Sebab acara sebesar itu tidak pernah berjalan rapi karena kebetulan.
Di balik setiap kursi yang sudah berada di tempatnya sebelum tamu datang, di balik konsumsi yang tiba sebelum lapar sempat disebut, di balik panggung yang berdiri tanpa drama, ada panitia dari angkatan yang lebih dulu mengorbankan waktunya agar orang lain bisa menikmati waktunya. Mereka bergerak tanpa banyak bicara. Apa yang kurang segera diisi. Apa yang berpotensi menjadi masalah diselesaikan sebelum sempat terlihat sebagai masalah.
Yang menarik, semakin dicari siapa yang paling berjasa, semakin banyak nama yang menghilang. Ada beberapa yang disebut. Tetapi jauh lebih banyak yang memilih tetap tinggal di balik layar. Seakan ada ikrar yang tak pernah diucapkan: jangan biarkan satu nama lebih besar daripada pekerjaan. Jangan biarkan tepuk tangan berhenti pada satu orang. Biarkan semua ini dikenang sebagai kebersamaan. Bukan sebagai kemenangan seseorang. Di situlah bingkai cerita mulai melebar.
Tiga ratusan alumni 2007 artinya ada tiga ratusan cerita nyata kehidupan sebelum keberangkatan: Ada yang menutup laptop ketika pekerjaannya belum benar-benar selesai. Ada yang menggeser rapat yang disusun berminggu-minggu. Ada yang menitipkan toko kepada orang kepercayaan. Ada yang meninggalkan sawah yang belum selesai dipanen. Ada yang menutup ruang praktik lebih awal. Ada yang meminta rekannya menggantikan shift. Ada yang menyetir semalaman agar tiba sebelum matahari menyapa Pondok.
Ada yang sebelum berangkat lebih dulu mencium tangan ibu. Memeluk ayah. Mencium kening istri. Lalu mengusap kepala anaknya yang belum mengerti mengapa ayah harus pergi jauh hanya untuk bertemu teman-teman lamanya. Ada pula yang berkali-kali membuka aplikasi perjalanan. Menutupnya lagi. Menghitung ongkos. Menghela napas. Lalu tersenyum kecil. Barangkali di dalam hati terucap kalimat yang dulu begitu akrab di setiap langkah seorang santri: “Bismillah… berangkat!”
Tak ada kamera yang merekam keputusan-keputusan kecil itu. Tak ada tepuk tangan ketika tas-tas itu akhirnya terangkat. Tak ada yang menghitung berapa banyak yang mereka tinggalkan demi beberapa hari di Ponorogo. Yang kita lihat hanyalah hasil akhirnya: Tiga ratusan orang itu akhirnya datang.
Namun yang sesungguhnya tiba yaitu tiga ratusan lebih cerita. Sesudah itu, waktu memperlihatkan wajahnya. Tanpa terasa, kami telah memasuki usia empat puluh. Usia yang sakral. Tak lagi cukup muda untuk hidup sembarangan walaupun belum cukup tua untuk berhenti bermimpi.
Di pundak kami kini ada keluarga kecil, orang tua yang mulai berjalan pelan, pekerjaan yang semakin rakus meminta perhatian. Dunia memanggil kami dengan gelar yang berbeda-beda: doktor, direktur, guru, petani, dokter, pengusaha atau pegawai. Hingga kadang kami sendiri nyaris lupa nama yang pernah kami pakai ketika mengenakan baju putih dan sarung: “Sul!”
Perjalanan kemarin ternyata bukan sekadar menuju Ponorogo. Ia perjalanan kembali kepada diri sendiri. Ketika banyak orang mengira puncaknya yaitu berkumpulnya tiga ratusan orang dalam satu tempat, babak yang paling sunyi justru sedang dimainkan di tempat-tempat yang jauh.
Layar-layar ponsel mulai berbicara. Story WhatsApp. Instagram. Facebook. Foto-foto lama bermunculan. Video-video peringatan terus dibagikan. Ada yang hanya menulis satu kalimat pendek. Ada yang bahkan tak menulis apa pun. Namun diam mereka terasa lebih nyaring daripada sorak-sorai yang memenuhi lapangan. Di sanalah makna hari itu bergeser.
Kami semula mengira sedang menghitung siapa yang hadir. Ternyata yang sedang diuji bukan kehadiran. Melainkan rasa memiliki. Mereka yang tak sempat datang ternyata tetap pulang. Hanya jalannya berbeda. Ada yang pulang melalui kenangan. Ada yang pulang melalui layar enam inci. Ada yang pulang melalui doa yang tak pernah diunggah. Jarak rupanya hanya berhasil memisahkan tubuh tapi tak pernah berhasil memisahkan rumah.
Lalu tibalah satu adegan yang diam-diam mengubah seluruh cerita. Di tengah peringatan seratus tahun, kami berhenti. Bukan untuk berfoto. Bukan untuk bersorak. Kami menengadahkan tangan. Kami membaca Al-Fatihah. Kami menyebut nama-nama yang telah lebih dahulu pulang.
Sekitar dua puluh dua sahabat dari hampir delapan ratus keluarga besar Maziero Razienera 2007 telah mendahului perjalanan ini. Untuk sesaat, batas antara yang hadir dan yang telah tiada terasa begitu tipis. Seolah doa-doa itu sedang membuka kursi-kursi yang tak terlihat. Mengundang mereka duduk kembali di tengah lingkaran kami. Bukan dengan tubuh. Melainkan dengan kenangan yang masih hidup. Di situlah waktu menanggalkan topengnya. Seratus tahun telah dilewati. Sesudah ini akan datang seratus sepuluh. Seratus dua puluh. Seratus tiga puluh tahun Gontor.
Pertanyaannya bukan lagi apakah Pondok akan sampai ke sana. Pondok ini telah membuktikan dirinya mampu melewati satu abad. Pertanyaan yang jauh lebih sunyi justru mengarah kepada kami. Masihkah kita sempat saling memanggil nama pada peringatan berikutnya? Masihkah kita duduk dalam lingkaran yang sama pada seratus sepuluh nanti? Ataukah pada seratus dua puluh, jumlah kursi kosong akan bertambah lebih cepat daripada tawa yang tersisa?
Atau mungkin… tanpa pernah kita sadari, suatu hari nanti, giliran nama kitalah yang akan disebut dalam doa itu. Barangkali, di sanalah rahasia seratus tahun akhirnya terbuka.
Kami mengira sedang memperingati usia sebuah Pondok. Padahal yang sedang diperingati bukan hanya umur sebuah lembaga. Yang sedang diperingati adalah cara cinta bertahan hidup. Ia hidup di tangan-tangan yang bekerja tanpa nama. Ia hidup di langkah-langkah yang memulai perjalanan dengan Bismillāh. Ia hidup pada mereka yang hanya mampu hadir lewat layar. Ia hidup pada ukhuwah yang membuat ratusan orang rela meninggalkan dunianya masing-masing demi beberapa hari di rumah yang sama. Ia bahkan hidup di dalam doa yang mengembalikan sahabat-sahabat kita ke tengah lingkaran, walau hanya untuk sesaat.
Lalu saya teringat pada pembuka tulisan ini. Saya kira yang paling lama bertahan setelah sebuah acara hanyalah foto-fotonya. Ternyata saya keliru. Yang paling lama bertahan nama-nama. Nama yang kami panggil ketika tertawa. Nama yang kami cari di tengah kerumunan. Nama yang kami sebut satu per satu dalam doa.
Dan suatu hari nanti… ketika giliran kita tiba, barangkali itulah yang akan tersisa. Bukan panggung. Bukan tepuk tangan. Bukan bahkan foto bersama. Melainkan seseorang yang masih mengangkat kedua tangannya, lalu berbisik: “Allahummaghfir lahum warhamhum wa’afihim wa’fu ‘anhum.”
Semoga, ketika hari itu tiba, kita masih sempat pulang. Terima kasih kawan Maziero Razienera 2007 seluruh alam. []























