Medan, Gontornews — Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Kamis (29/10/2026), melakukan banchmarking dengan Pesantren Mumtaza Banjarnegara dalam rangka memperkuat metode pembelajaran bahasa Arab. Dalam kesempatan tersebut, Ar-Raudhatul Hasanah Medan mengundang Pimpinan Mumtaza Banjarnegara, KH Afit Juliat Nurcholis MA, sebagai pembicara di Aula Pertemuan Gedung Hafsah.
Dalam acara yang melibatkan Direktur, Wakil Direktur, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT), dewan guru dan supervisor mata pelajaran itu Raudlatul Hasanah Medan mengusung tajuk ‘Benchmarking Pembelajaran Bahasa Arab Berbasis Empat Maharah Lughawiyah dan Sistem Akselerasi KMI’.
Direktur Pesantren Ar-Raudhatul Hasanah Medan, Ustadz KH Miftakhuddin MM, menyambut baik ruang pertukaran gagasan antara dua lembaga. Ia tidak menampik pertemuan tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pengembangan kurikulum dan praktik pembelajaran bahasa Arab di Ar-Raudhatul Hasanah Medan.
“Kami berharap pengajaran bahasa Arab ini menjadi hidup dan maju, serta benar-benar mengantarkan para santri menjadi faqih fiddin (paham mendalam tentang agama),” ucap KH Miftahuddin sebagaimana dilansir mumtaza.id.
Dalam pemaparannya, Ustadz Afit Juliat, menekankan pada pentingnya keterampilan komunikasi dalam berbahasa Arab. Menurutnya, pembelajaran bahasa Arab tidak cukup hanya bermodal pada penguasaan teori semata.
“Pembelajaran bahasa Arab kepada santri, jika hanya berbentuk pengajaran tanpa praktik, 90 persen akan lupa atau hanya lewat saja,” katanya sebagaimana dilansir raudhah.ac.id.
“Pembelajaran apa pun harus bertitik fokus kepada pembelajaran. Maharah atau keterampilan bahasa Arabnya tidak hanya terfokus kepada konten isi materi saja,” tambah Ustadz Afit Juliat.
Selain keterampilan berbahasa, Ustadz Afit juga menyoroti pentingnya penguasaan kosakata sebagai fondasi pengembangan komunikasi santri. Tidak hanya itu, pengayaan kosakata perlu diikuti dengan pemahaman terhadap bentuk kata lewat sharf.
Untuk itu, Ustadz Afit menyampaikan empat tahap pembelajaran: 1) tadarruj atau pembelajaran secara bertahap; 2) tausi’ atau perluasan materi; 3) ansyitah atau penguatan melalui aktivitas dan; 4) tahlil atau analisis.
Suasana pelatihan bahasa Arab ini semakin cair saat para peserta antusias dan melontarkan beragam pertanyaan dalam sesi diskusi. Melalui pelatihan kolaboratif ini, Ar-Raudlatul Hasanah Medan menyalakan ‘obor perubahan’ dengan mencetak generasi pengajaran militan dan kompeten. [Mohamad Deny Irawan]

























