Solo, Gontornews – Tubuh yang dipenuhi tato, bahkan sampai ke bagian wajah. Penampilannya mungkin membuat sebagian orang memiliki penilaian tersendiri. Namun, di balik penampilan tersebut, Roni Bodax menyimpan perjalanan hidup yang mengantarkannya menemukan jalan hijrah.
Dalam podcast bersama Denny Sumargo melalui kanal YouTube Curhat Bang, Roni menceritakan awal mula dirinya mengenal kehidupan jalanan. Ia mulai mengenal tato ketika masih duduk di bangku kelas I SMP. Saat itu, pergaulannya dengan kelompok anak punk membawa pengaruh besar terhadap kehidupannya.
“Dulu itu dari lingkungan yang kurang baik. Kalau enggak mabuk ya main game online. Suatu ketika disamperin anak punk terus ngajak kenalan, sampai akhirnya minum bareng. Itu awalnya kenal tato,” kata Roni.
Sejak saat itu, ia semakin akrab dengan minuman keras dan kehidupan malam. Hari-harinya lebih banyak dihabiskan bersama teman-teman jalanan. Kebiasaan tersebut membuatnya semakin jauh dari kehidupan beragama. Kedekatannya dengan lingkungan preman juga menjadi bagian dari masa lalu yang tidak dapat dipisahkan dari perjalanan hidupnya.
Roni bahkan menggambarkan dirinya dengan ungkapan, “Bukan mantan preman, temannya preman.” Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ia masih memiliki kedekatan dengan lingkungan yang dahulu menjadi bagian dari kehidupannya. Kedekatan itu pula yang kemudian ia manfaatkan untuk menyampaikan dakwah kepada orang-orang dengan latar belakang serupa.
Kehidupan Roni mulai berubah ketika ia kembali memikirkan sang ibu. Setelah ayahnya meninggal dunia, Roni menjalani kehidupan di Solo, sementara ibunya berada di Jakarta. Ia kemudian menginginkan sang ibu kembali tinggal bersamanya. Namun, keinginan tersebut disertai satu permintaan dari ibunya. Sang ibu ingin Roni kembali menjalankan shalat dan belajar mengaji seperti ketika masih kecil.
“Ibu mau pulang ke Solo tapi ada syaratnya, ibu cuma minta Mas Roni shalat lagi, mengaji lagi, seperti waktu masih kecil,” kenang Roni.
Permintaan sederhana itu menjadi titik balik dalam kehidupannya. Roni bersedia memenuhi keinginan tersebut. Ia mulai kembali belajar agama dan memperbaiki kebiasaan yang selama ini dijalaninya. Bahkan, ia tidak malu untuk memulai kembali belajar membaca Al-Qur’an dari awal.
Setelah mulai memperbaiki diri, Roni tidak ingin perubahan tersebut hanya dirasakan oleh dirinya sendiri. Ia berusaha mengajak orang-orang di lingkungan lamanya untuk mengenal agama. Anak jalanan dan para preman menjadi kelompok yang ingin didekatinya. Pengalaman masa lalu membuatnya memahami bahwa meninggalkan kebiasaan buruk bukan perkara mudah.
Jalan dakwah yang dipilihnya tidak selalu berjalan lancar. Roni mengaku pernah mengalami penolakan hingga empat kali ketika menyampaikan dakwah. Ia menggambarkan sulitnya mendapatkan penerimaan pada awal perjalanan tersebut.
“Sulit sekali, pertama dakwah dapat penolakan, keduanya juga ditolak lagi,” tuturnya.
Penampilan bertato juga menjadi tantangan tersendiri. Sebagian orang masih menilai dirinya dari penampilan luar. Meski demikian, Roni tidak menjadikan kondisi tersebut sebagai alasan untuk berhenti beribadah ataupun berdakwah.
Dalam menyampaikan dakwah, ia berusaha membangun kedekatan dengan orang-orang yang ditemuinya. Salah satu pendekatannya mengajak mereka berbincang dan berkumpul sebelum mengenalkan kegiatan keagamaan. Baginya, pendekatan yang baik dapat membuka kesempatan untuk mengajak seseorang mengenal agama.
“Alhamdulillah sekarang sudah banyak yang bisa menerima,” tegasnya.
Roni memahami bahwa seseorang tidak bisa dipaksa untuk langsung meninggalkan kebiasaan lamanya. Karena itu, ia berusaha membangun hubungan terlebih dahulu. Ia menggunakan kedekatannya dengan lingkungan jalanan untuk membuka ruang percakapan tentang agama. Baginya, orang-orang yang pernah menjalani kehidupan seperti dirinya juga berhak mendapatkan kesempatan untuk belajar dan memperbaiki diri.
Perjalanan Roni Bodax mengingatkan bahwa masa lalu tidak harus menjadi penghalang seseorang untuk memperbaiki diri. Pesan sang ibu menjadi awal perubahan hidupnya. Dari kehidupan jalanan, ia kemudian menemukan tujuan baru melalui dakwah. Kisahnya juga menunjukkan bahwa kesempatan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh ingin berubah. [Mahessa]
























