Belajar dari Malang: Kampus bukan hanya tempat kuliah, melainkan ekosistem yang menghidupkan kota.
Beberapa hari lalu saya mengantar anak memulai kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri di Malang. Sebagai orang tua, tentu ada perasaan campur aduk. Senang melihat anak mulai menapaki dunia baru, sekaligus sadar bahwa perlahan-lahan ia sedang belajar berjalan lebih jauh tanpa terus ditemani orang tuanya. Namun beberapa hari berada di Malang justru membuat perhatian saya tertarik pada hal lain: kota ini benar-benar hidup bersama mahasiswa.
Pagi di sekitar kampus terasa seperti melihat sebuah kota yang denyut nadinya diatur oleh jadwal kuliah. Anak-anak muda berjalan dengan ransel dan jaket almamater. Warung makan penuh sejak pagi. Rumah-rumah berubah menjadi tempat kos. Laundry, fotokopi, toko alat tulis, kedai kopi, bengkel, transportasi daring, hingga pedagang kaki lima hidup dari lalu-lalang mahasiswa. Dan yang paling kentara lalu lalang driver ojol mengantar mahasiswa. Jalanan seperti dipenuhi warna hijau khas ojek online. Saya melihat kampus seperti tidak memiliki pagar. Kehidupannya merembes ke jalan-jalan dan menggerakkan ekonomi warga.
Malang memang telah lama menjadi salah satu destinasi pendidikan penting di Indonesia. Universitas Brawijaya, Universitas Negeri Malang, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, Politeknik Negeri Malang, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Merdeka Malang, Universitas Islam Malang, dan banyak kampus lain membuat nama Malang akrab di telinga calon mahasiswa dari berbagai daerah. Data BPS Jawa Timur untuk 2025 mencatat di kota Malang ada 51 perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan 290.383 mahasiswa. Sedangkan perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama ada 4 perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa sebanyak 30.640 orang. Kabupaten Malang memiliki 4 perguruan tinggi di bawah Kementerian Agama dan 6 di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi.
Yang lebih menarik bukan jumlah kampusnya. Malang menawarkan pengalaman hidup kepada para mahasiswa. Udara yang relatif sejuk, latar pegunungan, pilihan kuliner, tempat tinggal dengan beragam kelas harga, ruang berkumpul anak muda, serta masyarakat yang terbiasa menerima pendatang membuat mahasiswa merasa memiliki rumah kedua. Malang mengikuti jejak Yogyakarta: pendidikan bukan lagi sekadar sektor, tetapi telah menjadi identitas kota.
Kemudian muncul pertanyaan sederhana di kepala saya: mengapa Bogor tidak membangun citra yang sama?
Bogor memiliki modal yang sangat kuat. Alamnya hijau, dikelilingi pegunungan, udaranya di banyak kawasan masih segar, dan lokasinya sangat dekat dengan Jakarta. Bogor juga memiliki sejarah panjang sebagai kota ilmu pengetahuan. Kebun Raya Bogor peninggalan Sir Thomas Raffles, lembaga-lembaga penelitian, serta IPB University telah membuat nama Bogor dikenal dalam dunia sains, pertanian, lingkungan, dan pendidikan tinggi. Kecamatan Dramaga sendiri merupakan contoh paling nyata bagaimana kehadiran kampus dapat mengubah wajah sebuah kawasan.
Data BPS Jawa Barat mencatat pada 2025 terdapat 30 perguruan tinggi di bawah Kemenag. Dengan rincian 25 di wilayah kabupaten dan 5 di Kota Bogor. Sedangkan perguruan tinggi di bawah Kemendiktisaintek 27 di kabupaten dan 16 di Kota Bogor. Total semuanya 73 perguruan tinggi. Jumlah mahasiswa perguruan tinggi di bawah Kemenag 13.139 kabupaten dan 3.814 kota. Sedangkan di perguruan tinggi di bawah Kemendiktisaintek 55.123 mahasiswa di kabupaten dan 39.188 di kota. Total jumlah mahasiswa 111.264 orang. Meskipun secara kuantitas jumlah mahasiswa di wilayah Bogor masih kalah jauh dari Malang, setidaknya angka tersebut menunjukan modal awal yang signifikan. Artinya, Bogor menjadi kota pelajar tidak dimulai dari lahan kosong.
Berbicara potensi daerah, Kabupaten Bogor memiliki sekitar 5,72 juta penduduk pada 2025. Jumlah sebesar itu seharusnya menjadi alasan kuat untuk memperluas akses pendidikan tinggi sekaligus membangun Bogor sebagai tujuan belajar bagi mahasiswa dari luar daerah. Selama ini banyak lulusan SMA/SMK dan Madrasah Aliyah di Bogor justru pergi ke Bandung, Jakarta, Yogyakarta, Malang, atau kota lain untuk mencari program studi dan pengalaman kampus yang mereka inginkan. Mobilitas itu tentu baik, tetapi Bogor juga harus mempunyai daya tarik yang membuat arus mahasiswa bergerak ke arah sebaliknya.
Tantangan Bogor jika merujuk ke data BPS bukan terkait dengan jumlah kampus. Tantangan utamanya, kampus-kampus itu belum terhubung dalam satu ekosistem dan satu identitas bersama. Perguruan tinggi masih cenderung berdiri sebagai pulau-pulau pendidikan tersendiri. Belum ada narasi kuat yang membuat seorang siswa di Makassar, Padang, Lombok, atau Kalimantan berkata: saya ingin kuliah di Bogor.
Sebuah kota pelajar tidak dibangun hanya dengan menambah universitas. Kota pelajar membutuhkan transportasi yang menghubungkan kampus dengan stasiun dan pusat hunian, rumah kos yang layak dan terjangkau, ruang publik yang ramah mahasiswa, perpustakaan yang terbuka, internet yang baik, kegiatan seni dan olahraga, festival ilmu pengetahuan, serta warung-warung sederhana tempat mahasiswa bisa makan tanpa harus menghitung isi dompet terlalu lama.
Bogor juga membutuhkan kolaborasi antara Kota Bogor dan Kabupaten Bogor. Mahasiswa tidak peduli apakah sebuah kampus secara administratif berada di kota atau kabupaten. Mereka hanya ingin perjalanan dari tempat tinggal menuju kampus mudah, aman, dan murah. Karena itu, visi kota pelajar sebaiknya dibangun dalam perspektif Bogor Raya. Kawasan Dramaga, pusat Kota Bogor, Cibinong-Sentul, hingga Bogor Barat dapat tumbuh sebagai simpul-simpul pendidikan yang memiliki karakter berbeda tetapi terhubung satu sama lain.
Jika ekosistem ini terbentuk, dampaknya akan jauh melampaui dunia kampus. Mahasiswa merupakan penggerak ekonomi yang sangat besar. Mereka membutuhkan tempat tinggal, makan tiga kali sehari, transportasi, laundry, buku, gawai, jasa cetak, tempat berolahraga, dan ruang untuk bersosialisasi. Di sekitar mahasiswa tumbuh UMKM. Di sekitar kampus tumbuh jasa. Di sekitar ilmu pengetahuan lahir inovasi. Pendidikan menghadirkan perputaran ekonomi tanpa cerobong asap dan menarik talenta tanpa harus mengeruk sumber daya alam.
Namun keuntungan terbesar kota pelajar bukanlah uang. Keuntungan terbesarnya adalah berkumpulnya anak-anak muda yang sedang belajar. Kota yang dipenuhi mahasiswa akan dipenuhi percakapan, perdebatan, penelitian, kreativitas, organisasi, dan mimpi. Mereka mungkin datang hanya untuk kuliah empat tahun, tetapi sebagian akan membangun usaha, membuat komunitas, melakukan penelitian, atau bahkan memilih menetap. Yang pulang pun membawa satu hubungan emosional yang panjang dengan kota tempat mereka tumbuh dewasa.
Bayangkan jika setiap tahun puluhan ribu anak muda dari berbagai daerah datang ke Bogor. Mereka mengenal budaya Sunda, menikmati hujan Bogor, belajar di perpustakaan, bergaul dengan santri dan mahasiswa dari berbagai latar belakang, mendaki gunung di akhir pekan, lalu kembali ke kampus pada Senin pagi membawa ide baru. Setelah lulus mereka menjadi dokter, guru, pengusaha, birokrat, peneliti, ulama, insinyur, atau pemimpin di daerahnya masing-masing. Di dalam perjalanan hidup mereka akan selalu tersimpan satu kalimat: saya pernah kuliah di Bogor.
Itulah investasi kebudayaan yang tidak mudah dihitung dengan rupiah.
Malang telah membuktikan bahwa identitas kota pelajar dapat menghidupkan pendidikan sekaligus ekonomi. Yogyakarta telah menikmati reputasi itu selama puluhan tahun. Bogor memiliki alam, sejarah ilmu pengetahuan, lokasi strategis, basis perguruan tinggi, serta populasi muda yang sangat besar. Yang masih perlu dibangun adalah keberanian untuk menyatukan semua potensi itu menjadi visi bersama.
Sudah waktunya pembangunan Bogor tidak hanya berbicara tentang jalan, perumahan, industri, pusat belanja, dan destinasi wisata. Kita juga harus berbicara tentang kampus, perpustakaan, laboratorium, rumah kos, ruang kreatif, dan mahasiswa. Kota yang dipenuhi orang belajar akan selalu memiliki alasan untuk menatap masa depan.
Dan mungkin, pada suatu hari nanti, ketika seorang ayah di Aceh, Makassar, Banjarmasin, atau Nusa Tenggara bertanya kepada anaknya, “Kamu ingin kuliah di mana?”, kita berharap salah satu jawabannya terdengar sederhana tetapi membanggakan: “Saya ingin kuliah di Bogor.” []





















