Jakarta, Gontornews — Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG), Drs KH M Akrim Mariyat Dipl.A.Ed., menegaskan bahwa pesantren merupakan sistem pendidikan asli Indonesia, yang sejak awal kelahirannya telah menerapkan pendidikan global dan holistik secara menyeluruh.
Kiai Akrim menambahkan, konsep pendidikan holistik di PMDG telah berdiri sejak tahun 1926. Pendidikan tersebut diawali dari pembinaan masyarakat dan anak-anak dalam hal-hal mendasar, seperti cara bersuci, ibadah shalat, hingga menjaga kesehatan.
“Pondok Modern Gontor adalah pondok, bukan sekadar sekolah. Pesantren adalah lembaga pendidikan asli Indonesia ciptaan para ulama. Berbeda dengan sistem sekolah Belanda dulu yang bertujuan mencetak pegawai, tujuan Gontor adalah menjadikan alumni kita ini ‘orang’ yaitu manusia yang berbudi tinggi, berbadan sehat, berpengetahuan luas, berpikiran bebas, dan berjiwa besar,” kata KH Akrim Mariyat saat membuka agenda Global Islamic Holistic Education Summit (GIHES) 2026 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Sabtu (5/9/2026).
Lebih lanjut, Kiai Akrim menyoroti pentingnya menghilangkan dikotomi antara ilmu agama dan ilmu umum. Sejak awal berdiri dan berlanjut dengan dibentuknya Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyyah (KMI) pada tahun 1936, Gontor tidak hanya mengajarkan ilmu-ilmu keislaman, tetapi juga ilmu pengetahuan umum serta keterampilan hidup (life skill).
“Al-Qur’an menunjukkan bahwa dzikir mewakili pelaksanaan syariat agama. Sedangkan pikir, yakni menganalisis ciptaan Allah di langit dan bumi, merupakan dasar dari ilmu-ilmu umum seperti astronomi, astrologi dan kelautan. Dalam Islam, ilmu umum dan ilmu agama bersatu dan tidak ada dikotominya,” jelas Kiai Akrim.
Kiai juga menekankan bahwa, di Gontor, ilmu dituntut bukan sekadar demi prestasi akademis atau ilmu untuk ilmu semata, melainkan sebagai bentuk ibadah. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia dituntut untuk rendah hati, santun, dan beretika.
“Semua yang ada di Gontor, baik program, kegiatan, maupun lingkungan adalah bagian dari kurikulum kehidupan. Kami mendidik santri tidak hanya untuk persiapan otak, tetapi untuk kesempurnaan hidup secara utuh,” pungkas KH Akrim Mariyat. [Mohamad Deny Irawan]






















