Bogor, Gontornews — Perjalanan belajar membaca Al-Qur’an bukanlah proses singkat. Di balik kemampuan seorang anak melantunkan ayat-ayat suci terdapat kesabaran, ketekunan, dan pendampingan panjang dari guru, pembimbing, serta orang tua.
Pesan itulah yang mengemuka dalam Haflah Tilawatil Qur’an (HTQ) ke-5 SIT Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Sabtu (5/9/2026). Sebanyak 60 siswa kelas 5, 6, 8, dan 9 mengikuti kegiatan yang berlangsung di Aula Lantai 2 SMPIT Insantama Leuwiliang tersebut.
Bagi para peserta, haflah bukan sekadar seremoni. Kegiatan itu menjadi penanda perjalanan pembelajaran Al-Qur’an sekaligus momentum untuk melangkah ke tahap berikutnya: terus membaca, menghafal, dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Wakil wali murid, Taufik Saleh SAg, menyampaikan apresiasi kepada para guru dan pembimbing yang telah mendampingi anak-anak selama proses pembelajaran.
Menurut Taufik, kemampuan anak-anak membaca Al-Qur’an merupakan hasil dari perjuangan yang tidak sederhana. Kesabaran dan ketekunan para pendidik menjadi bagian penting dari proses tersebut.
“Ini perjuangan luar biasa. Ada kesabaran dan ketekunan para guru dan pembimbing. Alhamdulillah, anak kami bisa membaca Al-Qur’an,” ujar Taufik dalam sambutannya.
Ia mengingatkan para siswa agar tidak menjadikan haflah sebagai garis akhir. Sebaliknya, kemampuan membaca Al-Qur’an harus menjadi pijakan untuk terus meningkatkan kedekatan dengan kitab suci.
“Ini bukan akhir, tapi awal untuk terus belajar menghafal dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Bukan Sekadar Bisa Membaca
Taufik menekankan, pendidikan Al-Qur’an semestinya tidak berhenti pada kemampuan membaca. Lebih jauh, Al-Qur’an harus hadir sebagai pedoman yang membimbing anak-anak dalam mengambil keputusan dan menjalani kehidupan.
“Al-Qur’an untuk panduan dalam hidup. Jadikan lentera dalam kehidupan hingga akhir hayat,” tuturnya.
Pesan tersebut menempatkan kemampuan membaca Al-Qur’an sebagai bagian awal dari proses yang lebih panjang. Setelah mampu membaca dengan baik, siswa diharapkan terus membangun interaksi dengan Al-Qur’an melalui hafalan dan pengamalan nilai-nilainya.
Pembinaan Al-Qur’an juga menjadi salah satu bagian dari proses pendidikan di lingkungan SIT Insantama. Di sekolah ini, tahsin dan tahfizh ditempatkan sebagai rangkaian pembelajaran yang berkelanjutan bagi siswa.
Karena itu, haflah menjadi ruang pertemuan antara capaian pendidikan, apresiasi terhadap perjuangan siswa, dan penguatan komitmen bersama antara sekolah dan keluarga.

Bagi orang tua, kemampuan anak membaca Al-Qur’an menjadi kebahagiaan sekaligus amanah. Sementara bagi guru dan pembimbing, capaian tersebut menjadi pengingat bahwa mendidik generasi Qur’ani membutuhkan proses yang panjang dan konsisten.
Pada akhirnya, HTQ ke-5 SIT Insantama Leuwiliang tidak berhenti pada perayaan capaian. Pesan yang dibawa justru jauh lebih panjang: Al-Qur’an harus terus dipelajari, dihafalkan, dan diamalkan agar menjadi cahaya yang menuntun kehidupan hingga akhir hayat. []






















