Jakarta, Gontornews — Rektor Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, Prof Dr KH Hamid Fahmy Zarkasyi, mengatakan bahwa sistem pendidikan pesantren merupakan jawaban atas krisis pendidikan holistik yang selama ini gagal diterapkan oleh dunia Barat.
Prof Hamid melanjutkan, sejarah sekularisasi di Barat, sejak era Renaissance, telah memisahkan ilmu pengetahuan dari nilai-nilai agama. Pendekatan Barat yang terlalu menitikberatkan pada aspek kognitif demi pertumbuhan industri terbukti melahirkan krisis akhlak dan soft skill pada peserta didik.
Sebagai bentuk syiar atas sistem pendidikan holistik tersebut, Gontor bersama sejumlah organisasi alumninya menggelar Global International Holistic Education Summit (GIHES) di Jakarta. Prof Hamid menegaskan bahwa sistem holistik tidak hanya terletak pada teori di kelas namun dipraktikkan dalam kehidupan pesantren secara langsung.
“Banyak tokoh Barat seperti Pestalozzi, Fröbel, hingga John Dewey mencoba mengintegrasikan kepala, tangan, dan hati (head, heart, and hand). Namun, model pendidikan yang mereka usung gagal mengimbangi dominasi aspek kognitif,” kata Prof Hamid dalam pembukaan GIHES di Hotel Borobudur Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
“Sebaliknya, pesantren justru telah mempraktikkan konsep school of life atau pendidikan kehidupan ini secara berkelanjutan (sustainable) selama ratusan tahun,” sambungnya.
Prof Hamid juga menggarisbawahi bahwa keunggulan mutlak sistem pendidikan pesantren terletak pada kemampuan menyatukan kurikulum formal, non-formal, dan informal secara terpadu dalam ekosistem asrama 24 jam. Tanpa dikotomi antara ilmu dan ibadah, spiritualitas santri tetap terjaga seiring dengan pembentukan karakter melalui nilai kemandirian, keikhlasan, serta persaudaraan untuk mencetak manusia seutuhnya.
“Model pendidikan holistik yang menyatukan peran sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam satu lingkungan ini tergolong unik di tingkat global karena hanya ditemukan di dunia Melayu (Nusantara) dan tidak dijumpai di negara-negara lain seperti Arab, India, maupun Pakistan,” ujar Ketua Panitia Peringatan 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor itu.
Pesantren sebagai Solusi Global
Melihat keberhasilan pesantren yang mandiri dan bertahan lebih dari satu abad tanpa bergantung pada bantuan asing, Prof Hamid mendorong agar sistem pendidikan pesantren diakui sebagai sistem pendidikan asli Indonesia. Lebih dari itu, model ini sangat layak ditawarkan ke panggung internasional.
“Sistem pendidikan di pesantren benar-benar holistik dan dapat kita tawarkan kepada dunia internasional sebagai alternatif pendidikan manusia seutuhnya, demi menciptakan perdamaian global. Ini hadiah Indonesia untuk dunia,” tegas Prof Hamid.
Sebagai langkah konkret menduniakan model pendidikan ini, panitia merencanakan penyelenggaraan GIHES ke-2 pada tahun depan untuk memperkenalkan serta memasarkan konsep pendidikan pesantren ke mancanegara. [Mohamad Deny Irawan]






















