Mantingan, Gontornews — Program Pascasarjana Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor menyelenggarakan Kuliah Pakar dengan menghadirkan Dr Nur Azli, Direktur Pascasarjana Universitas Islam Selangor (UIS), Malaysia, pada Jumat (30/10/2026). Kepada Gontornews.com, Dr Syarifah MPdI, Ketua Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (MPAI) Program Pascasarjana UNIDA Gontor menjelaskan bahwa acara ini diikuti oleh para dosen serta mahasiswi MPAI juga Sains dan Teknologi (Saintek).
Kegiatan yang mengangkat tema “Pengintegrasian AI dengan Pembelajaran dan Pengajaran secara Beretika” tersebut berlangsung di Meeting Room Istanbul 117, Kampus UNIDA Gontor Kelas C, Mantingan, Ngawi, Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan bagian dari realisasi Memorandum of Understanding (MoU) antara UNIDA Gontor dan Universitas Islam Selangor, sekaligus menjadi sarana penguatan kerja sama akademik dan pertukaran wawasan keilmuan antarkedua institusi. Melalui kuliah pakar ini, UNIDA Gontor berupaya memperluas pemahaman sivitas akademika terhadap perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) serta relevansinya dalam dunia pendidikan.
Dalam pemaparannya, Dr Nur Azli membahas integrasi teknologi AI dalam proses pembelajaran dan pengajaran, khususnya mengenai pentingnya pemanfaatan teknologi secara bertanggung jawab dan berlandaskan prinsip etika. Menurutnya, “Artificial Intelligence bukan untuk menggantikan peran pendidik, melainkan menjadi alat bantu yang dapat memperkuat proses pembelajaran dan pengajaran.”
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pemanfaatan AI harus senantiasa memperhatikan aspek etika dan integritas akademik. “Penggunaan AI dalam pendidikan harus disertai kesadaran etis. Kemudahan teknologi tidak boleh menghilangkan integritas akademik, tanggung jawab, dan kejujuran dalam proses pembelajaran,” ungkap Dr Nur Azli.
Ia juga menyoroti pentingnya kesiapan dosen dan mahasiswa dalam menghadapi perkembangan teknologi. “Dosen dan mahasiswa perlu memiliki kemampuan untuk menggunakan AI secara bijaksana, kritis, dan bertanggung jawab. Teknologi harus dimanfaatkan untuk mengembangkan kemampuan berpikir, bukan menggantikannya,” jelasnya.
Dalam konteks pendidikan masa depan, Dr Nur Azli mengingatkan bahwa penguasaan teknologi perlu berjalan beriringan dengan nilai-nilai kemanusiaan. “Tantangan pendidikan saat ini bukan sekadar bagaimana menguasai teknologi, tetapi bagaimana mengintegrasikan teknologi tersebut dengan nilai-nilai kemanusiaan dan etika,” tekan sang dosen.
Pembahasan ini menjadi relevan bagi para pendidik dan akademisi di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital. Integrasi AI dalam pendidikan tidak cukup hanya didasarkan pada kemampuan teknis dalam mengoperasikan teknologi, tetapi juga harus disertai pemahaman mengenai batasan, tanggung jawab, dan nilai-nilai yang mendasari penggunaannya.
Antusiasme peserta dalam mengikuti kegiatan pun menunjukkan pentingnya ruang diskusi akademik mengenai transformasi pendidikan di era kecerdasan buatan. Selain memperoleh wawasan baru, para peserta diharapkan mampu mengembangkan perspektif kritis dalam memanfaatkan AI sebagai instrumen pendukung pembelajaran dan pengajaran.
Melalui penyelenggaraan Kuliah Pakar ini, Pascasarjana UNIDA Gontor berharap kerja sama dengan Universitas Islam Selangor dapat terus berkembang melalui berbagai kegiatan akademik dan kolaborasi keilmuan. Dengan demikian, hubungan kelembagaan yang telah terjalin tidak hanya diwujudkan dalam kesepakatan formal, tetapi juga melalui kegiatan nyata yang memberikan kontribusi bagi pengembangan pendidikan tinggi. []























