Ponorogo, Gontornews — Jumat (30/10/2026) menjadi salah satu momentum silaturahmi akbar antara pimpinan lembaga negara dengan keluarga besar Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Kala itu, ribuan santriwati dan guru menyambut hangat kunjungan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI H Ahmad Muzani dan Wakil Menteri Sekretaris Negara (Wamensesneg) RI Dr H Juri Ardiantoro MSi PhD ke Pondok Gontor.
Begitu tiba di Gontor, kedua tokoh langsung menuju Kantor Pimpinan PMDG. Di sana, mereka disambut oleh Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Akrim Mariyat, serta Ketua Badan Wakaf PMDG Dr KH Hidayat Nur Wahid dengan penuh hangat. Usai pertemuan, rombongan melanjutkan agenda bersama seluruh santri dan guru PMDG bertempat di Balai Pertemuan Pondok Modern (BPPM).
Acara kemudian dibuka dengan sambutan selamat datang dari Pimpinan PMDG, KH Hasan Abdullah Sahal. Dalam sambutannya, KH Hasan menyampaikan rasa syukur atas limpahan karunia Allah SWT kepada Gontor. Kiai menegaskan bahwa apa yang telah diperbuat belum sebanding dengan nikmat yang diterima.
“Sulit bagi saya untuk menyampaikan rasa syukur saya. Benar-benar, secara pribadi apa yang saya perbuat belum ada apa-apanya dibandingkan dengan apa yang diberikan Allah kepada saya. Saya kira kita semuanya harus merasa demikian,” ujar Kiai Hasan dilansir gontor.ac.id.
Pidato pembukaan selanjutnya disampaikan oleh KH Hidayat Nur Wahid (HNW) yang turut mengajak seluruh hadirin untuk senantiasa bersyukur, merujuk pada hadis yang menurutnya sangat membekas bagi santri Gontor. “Tentu saja kita di Gontor diajari oleh satu hadis yang sangat membekas. Siapa yang tidak berterima kasih kepada sesama manusia, mustahil ia bisa bersyukur kepada Allah,” ujarnya.
HNW lalu menyampaikan rasa syukur atas usia Gontor yang kini memasuki abad kedua. Kiprah pondok, katanya, telah diakui dan diapresiasi banyak pihak, sehingga tugas ke depan bukan hanya menjaga, tetapi juga mewariskannya kepada generasi berikutnya.
Dalam kesempatan itu, H Ahmad Muzani menyampaikan kesan sekaligus pesannya kepada para santri. Ia menyebut santri Gontor tidak hanya berasal dari daerah sekitar, tetapi dari berbagai penjuru Indonesia, bahkan dari luar negeri. Banyak di antara mereka menempuh perjalanan jauh menuju Gontor, berjam-jam hingga berhari-hari.
Menurutnya, para santri dilepas orangtua dengan penuh keikhlasan. Ia mengajak mereka merenungkan apa yang sebenarnya diharapkan orang tua dan keluarga dari perpisahan tersebut.
“Dilepas supaya anaknya yang mondok ini menjadi orang yang berguna untuk agama, bangsa, dan negara! Supaya berguna bagi masyarakat dan keluarga,” katanya.
Karena itu, Muzani berpesan agar para santri tidak menyia-nyiakan perjuangan orangtua yang ikhlas menitipkan mereka di pondok. Jauhnya jarak dari rumah dan kerelaan berpisah dengan keluarga, menurutnya, harus berbuah menjadi pribadi yang berguna bagi agama hingga negara di masa yang akan datang. []























