Ratusan hektar lahan diwakafkan untuk kepentingan umat Islam dan pembangunan Pondok Pesantren Trubus Iman. Banyak tamu yang menganggap Pondok Pesantren Trubus Iman sebagai miniatur pondok pesantren yang terletak di Kalimantan Timur. Benarkah demikian? Simak ulasannya secara eksklusif!
Rasulullah SAW pernah bersabda: Innamā al-a’mālu bi al-niyyāt, fainnamā likullimri’in mā nawā. Faman kānat hijratahu ilallāh wa rasūlihi fahijratuhu ilallāhi wa rasūlihi wa man kānat hijrathu li dunyā yuṣĪbuhā aw imro’atin yankiḥuhā fahijratuhu ilā mā hājara ilayhi. (“Sesungguhnya setiap perbuatan terikat dengan niat. Maka sesungguhnya setiap orang tergantung dengan dengan apa yang ia niatkan. Jika hijrahnya kepada Allah dan Rasulullah maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-nya. Dan jika hijrahnya untuk dunia atau wanita yang ia nikahi, maka hijrahnya menuju sesuatu yang ia hijrahkan.”)
Founding fathers Amerika Serikat, Benjamin Franklin, pernah berkata: “If You Fail The Plan, You Are Planning to Fail” (Jika kau gagal merencanakan sesuatu, maka kau telah berencana untuk gagal).
Mungkin dua landasan ini yang ada di benak H Tony Hartono. Keinginannya untuk berkiprah dalam perjuangan umat mempertemukannya dengan Pondok Modern Darussalam Gontor. Selama kurang lebih 12 tahun menjadi wali santri, Haji Toni, sapaan akrabnya, memperhatikan sistem, pola, nilai serta kurikulum pendidikan di Gontor. Satu hal yang Haji Tony titik beratkan adalah tentang bagaimana wakaf bisa membuat Gontor berdiri dengan situasi dan kondisi hari ini.
“Selama 12 tahun saya memperhatikan dinamika wakaf di Gontor sambil menyekolahkan dua anak saya, Reza Jehan Lesmana dan Anisa Indah Lestari. Dari situlah saya terinspirasi untuk mewakafkan tanah. Meski begitu, belum ada keinginan untuk membangun pesantren,” kata Haji Tony dikutip Republika.
“Kalau keluarga pewakaf datang ke Gontor Putri pasti akan menangis bahagia karena tanah wakafnya dimanfaatkan untuk kelangsungan pembelajaran para santri,” sambungnya.
Haji Tony mengaku sempat mencalonkan diri sebagai Bupati Tanah Paser pada tahun 2010 tapi gagal. Namun kegagalan dirinya terjun ke dunia politik mendorongnya untuk berpaling ke dunia pendidikan yang ia nilai memiliki nilai tambah dalam proses pengembangan potensi SDM daerah.
Sebelum mendirikan Trubus Iman, Haji Tony tercatat telah berkiprah di dunia pendidikan dengan memberikan sumbangsihnya ke beberapa lembaga pendidikan di Kalimantan Timur. Sebut saja, Pondok Pesantren Al-Furqon , Pondok Pesantren Babussalam hingga Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Pertanian di Kabupaten Paser.
Saat mendirikan Trubus Iman, ia tidak segan untuk menjadikan Gontor sebagai rujukan utamanya dalam membangun Pondok Pesantren Trubus Iman pada masa mendatang. “Insya Allah Mas. Tanah yang di sana akan saya wakafkan,” ucapnya kepada salah seorang sahabat saat berkunjung ke Agrowisata Trubus Sari di Tanah Grogot, Paser, Kalimantan Timur.
Dalam prosesnya, Ponpes Trubus Iman menggandeng Cahaya Siroh dalam membangun kurikulum pendidikan secara mandiri. Seusai Cahaya Siroh, pihak pondok beralih dari kurikulum mandiri ke kurikulum formal di bawah Kementerian Agama dengan Satuan Pendidikan Raudhatul Atfal, Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsanawiyah dan Madrasah Aliyah.
Saat Undang-undang Pesantren disahkan pada tahun 2019, Ponpes Trubus Iman lantas beralih sistem dan memutuskan untuk merujuk ke sistem pendidikan muadalah. Sejak 2021, Ponpes Trubus Iman menerapkan sistem Kulliyyatul Mu’alllimin al-Islamiyah (KMI) secara penuh dengan masa belajar 6 tahun.
“Alhamdulillah, Pimpinan Gontor memberikan dukungan sepenuhnya dengan peralihan sistem kurikulum KMI ini di Trubus Iman,” ungkap Pimpinan Pondok Pesantren Trubus Iman, Dr Daniar Siahaan, kepada Majalah Gontor.
Hingga Juni 2021, Daniar memaparkan bahwa jumlah pelajar di Trubus Iman mencapai 1.422 pelajar. Ribuan pelajar tersebut tersebar di setiap satuan pendidikan mulai dari Raudhatul Atfal hingga Madrasah Aliyah. Sementara untuk santri dan santriwati yang menetap di asrama berjumlah 963.
Meskipun tergolong muda, santri Ponpes Trubus Iman tercatat mampu menembus kompetisi sains tingkat nasional. Tidak hanya itu, santri Trubus Iman mampu melanjutkan studi dan, bahkan, juga memperoleh beasiswa ke Mesir melalui jalur Kementerian Agama. Selain Mesir, ada Yaman dan Turki yang menjadi destinasi pendidikan luar negeri santri Trubus Iman.
Sementara kegiatan ekstrakurikuler di Ponpes Trubus Iman yaitu futsal, sepakbola, voli, basket, panahan hingga pencak silat. Tidak hanya itu, Ponpes Trubus Iman mengklaim sebagai pondok pesantren bersistem KMI yang dipadu dengan program tahfidz Al-Qur’an pertama di Kalimantan Timur.
Salah satu keunggulan lain dari Pesantren Trubus Iman adalah terdapatnya beragam miniatur situs-situs Islam yang mendunia seperti miniatur Masjid Nabawi di Madinah, Masjid Sakhra di Palestina hingga miniatur Ka’bah.
“Tamu-tamu yang datang biasanya menyebut Trubus Iman sebagai lokasi wisata religi dunia pesantren karena keunikan bangunan-bangunannya serta menghadirkan minatur tiga masjid yang memiliki keutamaan luar biasa bagi umat Islam dunia,” jelas Daniar.
Alumnus Program Doktor Universitas Airlangga Surabaya tersebut menjelaskan bahwa Yayasan Sosial dan Pendidikan Islam (YSPI) Trubus Iman mengelola sekitar 420 hektar lahan wakaf. Selain untuk kepentingan pendidikan, YSPI juga mengembangkan lahan wakaf yang ada sebagai unit usaha.
Dengan keterlibatan masyarakat, YSPI mengembangkan lahan untuk sektor pertanian, perkebunan, peternakan, perdagangan hingga industri. “Semuanya terpakai dengan pola yang terukur dan teratur. Jadi tidak ada lahan tidur di pesantren ini,” sambung Daniar.
Kini, Ponpes Trubus Iman mengelola berbagai aktivitas bisnis dan usaha yang dikembangkan pesantren. Mulai dari perkebunan sawit, porang, talas beneng, aren dan kurma tropis. Pun Agrowisata buah-buahan seperti durian, rambutan, salak, sawo, duku hingga manggis.
Selain itu, Trubus Iman juga mengembangkan pabrik air minum mineral dalam kemasan Trubus Hijau, pabrik pencacah talas beneng dan porang, konveksi, minimarket, laundri, sarang burung walet, kantin hingga restoran.
Tidak hanya itu, kehidupan ekonomi masyarakat sekitar Trubus Iman juga sangat terbantu. Kini, sejumlah pertokoan, warung makanan dan minuman, penjual buah terlihat di sepanjang jalan menju pesantren.
Daniar mengisahkan bahwa sebelum pondok ini berdiri, daerah Tanah Grogot merupakan salah satu daerah terpencil di Kalimantan Timur. Daerah tersebut hanya bisa dijamah oleh para penduduk untuk urusan berladang dan berkebun saja.
Meskipun terhitung terpencil, Daniar optimis dengan perkembangan pesantren di Kalimantan Timur. Baginya, pesantren bukan sekedar lembaga pendidikan semata melainkan juga fondasi penting dalam menjalankan semua profesi di masyarakat. Ia berharap alumni Trubus Iman dapat menjadi Generasi Muda yang berfikir modern dan berakhlaq Al-Qur’an.
“Menjadi alumni pesantren tentu menjadi nilai tambah jika dibandingkan dengan pendidikan umum. Karena selain bisa mencapai profesi sebagaimana pendidikan umum, alumni pesantren juga memiliki dasar pemahaman agama yang cukup baik,” ujarnya.
“Sehingga hal tersebut bisa menjadikan semua teori menjadi praktik yang berorientasi untuk akhirat. Ilmu, amal dan akhirat. Ini yang tidak dimiliki oleh lembaga pendidikan lain pada umumnya,” tutupnya. [] Mohamad Deny Irawan


















