Kinshasa, Gontornews — Pemerintah Republik Demokratik Kongo melaporkan 6.113 kasus dan 73 kematian akibat campak di Provinsi Kivu Selatan sejak Januari. Pekan lalu, otoritas kesehatan RD Kongo mencatat penambahan 874 kasus dan 15 kematian dari seluruh wilayah.
“Kasus-kasus itu tercatat di berbagai zona kesehatan di provinsi ini. Sayangnya, kami telah kehilangan 73 anak sejak awal tahun karena penyakit ini,” ungkap Claude Bahizire, Kepala Bidang Komunikasi Dinas Kesehatan Kivu Selatan kepada wartawan.
Anadolu melansir zona kesehatan di Fizi tetap menjadi lokasi pusat penyebaran penyakit dengan 382 kasus dan lima kematian. Setelahnya ada zona kesehatan Lamera yang melaporkan 229 kasus dan satu kematian, Itombwe dengan 93 kasus dan sembilan kematian. Bahizire menambahkan dua zona kesehatan lain seperti Nundu dan Ruzizi juga terpengaruh penyebaran kasus campak yang menjangkiti anak-anak tersebut.
Bulan lalu, organisasi kesehatan dunia (WHO) dan dana darurat anak PBB (UNICEF) memperingatkan risiko peningkatan kasus campak pada Januari dan Februari. Kedua lembaga PBB pun telah membeberkan tanda-tanda penyebaran yang mengkhawatirkan serta menyarankan penggunaan vaksin sebagai bagian dari langkah pencegahan.
Mereka pun mencatat bahwa gangguan terkait pandemi Covid-19 telah meningkatkan kesenjangan akses pemberian vaksin serta pengalihan sumber daya untuk imunisasi rutin pada anak. Akibatnya, jutaan anak di RD Kongo tidak memiliki perlindungan dini terhadap campak maupun penyakit lain.
WHO mencatat sekitar 17.338 kasus campak terjadi di seluruh dunia dalam rentang bulan Januari dan Februari. Angka ini meningkat drastis dari kasus serupa pada periode yang sama tahun 2021 dengan 9.665 kasus.
Selain memberikan efek langsung pada tubuh, virus campak juga melemahkan sistem kekebalan tubuh penderitanya. Karena itu, banyak pasien campak rentan terkena sejumlah penyakit menular seperti pneumonia dan diare. [Mohamad Deny Irawan]


















