Dhaka, Gontornews — Pemerintah Bangladesh, Rabu (28/12/2022), meresmikan layanan kereta metro pertama mereka sepanjang sejarah. Perdana Menteri Bangladesh, Sheikh Hasina, berkenan meresmikan alat transportasi massal yang sebagian besar pendanaannya berasal dari Jepang tersebut.
“Kami telah menambahkan bulu kebanggan lain bagi mahkota rakyat Bangladesh hari ini. Bulu lain akan ditambahkan ke mahkota pembangunan Bangladesh,” kata Sheikh Hasina sebagaimana dilansir Dhaka Tribune.
Hasina menggunakan peresmian tersebut untuk memperingati enam insinyur kereta api Jepang di proyek kereta metro ini yang tewas akibat serangan ekstrems pada tahun tahun 2016. Dalam insiden tersebut, 29 orang tewas termasuk 20 sandera.
Pada bulan Juni, PM Hasina meresmikan jembatan Sungai Padma yang membentang sepanjang 6,51 km dengan pembiayaan senilai 3,6 miliar dolar Amerika Serikat asal Cina. Pembangunan jembatan ini merupakan satu dari 100 jembatan yang Hasina buka dalam beberapa bulan terakhir. Pihak oposisi kerap menuding Hasina melakukan korupsi dalam melaksanakan proyek-proyek besar.
Saat peresmian, Pemerintah Bangladesh menargetkan alat transportasi ini bisa berkembang menjadi lebih dari 100 stasiun dan enam jalur yang melintasi kota pada tahun 2030.
Untuk fase pertama, kereta metro ini menghubungkan beberapa kota di pinggiran Dhaka dengan pusat kota. Operator memprediksi di jalur tersebut, kereta metro dapat mengangkut sekitar 60.000 orang per jam manakala beroperasi penuh.
Dhaka merupakan salah satu kota terpadat di dunia dengan lebih dari 20 juta orang berjuang untuk bepergian di lintasan perjalanan yang macet. Sebuah penelitian dari Universitas Teknik dan Teknologi Bangladesh memprediksi ekonomi Dhaka merugi hingga 3 miliar dolar Amerika Serikat setiap tahun karena kemacetan lalu lintas.
Bersama Jepang, Cina juga menjadi mitra pembangunan utama Pemerintah Bangladesh. Organisasi Perdagangan Duna (World Trade Organization/WTO) memprediksi bahwa Bangladesh bisa bertransformasi menjadi negara berkembang pada tahun 2026 mendatang. [Mohamad Deny Irawan]


















