San Fransisco, Gontornews — Sebuah laporan yang diterbitkan oleh University of Stanford dan Wall Street Journal (WSJ) mengungkap aplikasi media sosial Instagram sebagai platform utama yang digunakan oleh jaringan pedofil. Para pelaku menggunakan aplikasi populer itu untuk mempromosikan dan menjual konten yang menampilkan pelecehan seksual terhadap anak.
“Jaringan besar akun yang tampaknya dioperasikan oleh anak di bawah umur secara terbuka mengiklankan materi pelecehan seksual anak yang dibuat sendiri untuk diperjualbelikan,” kata para peneliti yang bekerja di Pusat Penelitian Cyber University of Stanford.
“Saat ini, instagram merupakan platform paling penting bagi jaringan ini terutama dengan ketersediaan fitur seperti rekomendasi algoritma dan pesan langsung yang dapat menghubungkan langsung antara penjual dan pembeli,” sambung laporan yang dilansir Channel News Asia dari AFP.
Sementara itu, juru bicara Meta, perusahaan induk Instagram, meyakinkan publik bahwa perusahaannya telah memerangi kejahatan eksploitasi anak secara agresif. Meta juga mendukung upaya pihak kepolisian untuk menangkap pihak-pihak yang terlibat dalam kejahatan tersebut.
“Eksploitasi anak adalah kejahatan yang mengerikan,” kata juru bicara Meta.
“Kami akan terus mencari cara untuk aktif untuk melawan perilaku ini. Kami membentuk satuan tugas untuk menyelidiki klaim ini dan akan segera menanganinya,” sambungnya.
Sepanjang tahun 2020-2022, Tim Meta berhasil membongkar 27 jaringan pedofil yang berkeliaran di laman Instagram. Sementara itu, hingga Januari 2023, mereka berhasil menonaktifkan lebih dari 490.000 akun yang melanggar kebijakan anak di Instagram.
“Kami berkomitmen untuk melanjutkan pekerjaan kami demi melindungi anak-anak, menghalangi penjahat dan mendukung penegakan hukum serta membawa mereka ke pengadilan,” tegas Meta.
Dalam pengamatannya, WSJ mencoba melakukan pencarian sederhan dengan kata kunci seksual secara eksplisit. Hasil pencarian itu mengarah pada sebuah akun dengan kata kunci serupa yang berisi konten yang menunjukkan pelecehan seksual terhadap anak di bawah umur.
Sementara peneliti Stanford menemukan bahwa, dengan bayaran tertentu, sang pelaku pedofil dapat bertemu dengan anak-anak yang berisiko menjadi korban.
“Dengan harga tertentu, anak-anak bersedia untuk melakukan pertemuan secara langsung,” lanjut artikel itu. [Mohamad Deny Irawan]





















