Langit Ueda cerah pada sore itu, dan udara Maret masih cukup dingin untuk membuat nafas berkabut tipis. Pukul 16.00, ketika bayangan Pegunungan Alpen Jepang mulai memanjang di atas lembah, acara peresmian dimulai. Ramadhan 1446 Hijriah sedang berjalan. Perut-perut kosong karena puasa, tapi ruangan penuh.
Pekerja pabrik dalam pakaian terbaik mereka, keluarga dengan anak-anak yang gelisah namun berseri, mahasiswa, warga Indonesia yang sudah puluhan tahun menetap di Jepang. Semua berjejal di bangunan tiga lantai yang dua bulan lalu masih menyimpan mesin pemotong batu.
Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an. Suara itu, familiar dan menenangkan, melampaui batas bahasa dan batas negara, mengisi ruang yang dua bulan lalu berdebu granit. Beberapa jamaah menundukkan kepala. Beberapa lainnya mengedipkan mata lebih cepat dari biasanya.
Hery Achmadi, Duta Besar Republik Indonesia untuk Jepang, berdiri di depan, hadir bersama istrinya Nuning Wahyuniati. Di sebelahnya KH M Zahrul Muttaqin, Atase Kehutanan KBRI Tokyo sekaligus Mustasyar PCINU Jepang, dan Achmad Gazali, Ketua Tanfidziyah PCINU Jepang.
Achmad Gazali berbicara lebih dahulu. Ia berterima kasih kepada semua yang mendukung, lalu berkata sesuatu yang kepentingannya melampaui formalitas. “MINU harus menjadi tempat yang inklusif, memberikan rasa aman dan kenyamanan bagi siapa pun, tanpa memandang latar belakang suku, bangsa, atau agama.” Di hadapan ratusan orang yang perutnya sedang lapar karena puasa, kata-kata itu terdengar seperti janji.
Hery Achmadi kemudian berdiri. Ia berbicara tentang angka-angka yang menggambarkan skala dari apa yang sedang terjadi. WNI di Jepang yang pada 2021 masih 60.000 orang kini melampaui 400.000 jiwa. “Masjid ini bukan sekadar tempat shalat. Tapi pusat kegiatan masyarakat. Kita perlu tempat berteduh di mana warga bisa mengadu jika ada masalah dan merasa seperti di rumah sendiri.”
Kemudian datanglah momen itu. Tumpeng disiapkan. Prasasti menunggu tanda tangan. Dan dalam keheningan yang terasa seperti seluruh ruangan sedang menahan nafas bersama, Dubes Hery Achmadi mengucapkan kalimat peresmian.
Takbir meledak, Allahu Akbar bergema di tiga lantai bangunan yang dua bulan lalu pabrik batu nisan, dan rasanya seperti bergema jauh lebih luas dari itu, menembus dinding, menembus salju Maret Nagano, menembus jarak yang memisahkan mereka dari kampung halaman. Lima belas tahun penantian, dirayakan dalam satu ledakan suara.
Malam itu, tausiyah disampaikan oleh Ustadz Lukman Hakim Rohim dari Lembaga Dakwah PBNU, tentang jaminan Allah bagi yang memakmurkan masjid, tentang orang-orang yang hanya takut kepada Allah dan tidak kepada yang lain. Di luar, Maret Nagano masih dingin. Di dalam, ada kehangatan yang tidak bisa diukur dengan termometer. Setelah tausiyah, buka puasa bersama untuk lebih dari 200 orang. Dan sebelum malam turun, Dubes juga meresmikan MINU Halal Mart, unit usaha yang akan menopang kemandirian finansial masjid.
Benang yang Tidak Terlihat
Bayangkan peta Jepang, bukan peta prefektur dan kota yang biasa. Bayangkan titik-titik kecil yang menyala dari Hokkaido di ujung utara hingga Fukuoka di selatan. Komunitas-komunitas Muslim Indonesia yang masing-masing berjuang dengan caranya sendiri, tapi semuanya terhubung oleh benang yang tidak terlihat.
Benang itu bernama PCINU Jepang, Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama. Di bawahnya kini berdiri 15 Majelis Wakil Cabang Istimewa yang tersebar di Fukuoka, Hiroshima, Osaka, Kyoto-Shiga, Aichi, Gifu, Ishikawa, Shizuoka, Tokyo, Ibaraki, Niigata, Miyagi, Hokkaido, Toyama, dan kini Nagano yang sekretariatnya berpusat di MINU.
Dari jaringan inilah Tim Koga datang. Jamaah Masjid NU At-Taqwa Koga, komunitas yang masjidnya sendiri baru diresmikan setahun sebelumnya sebagai pesantren NU pertama di Jepang, rela menempuh ratusan kilometer membantu renovasi MINU di tengah salju musim dingin. Mereka datang bukan karena instruksi atau kewajiban organisasi. Mereka datang karena mereka tahu betul rasanya menjadi Muslim Indonesia di negeri yang jauh, di mana bahkan menyebut nama kampung pun membuat dada sesak dengan kerinduan yang tidak ada obatnya kecuali saling menguatkan.
Dalam dua dekade, jumlah masjid di Jepang melonjak dari 15 menjadi lebih dari 110, dan Indonesia kini menjadi komunitas Muslim terbesar di negeri itu. Di balik angka-angka itu ada gambar yang lebih konkret: seseorang yang menggelar sajadah di pojok gudang pabrik karena tidak ada tempat lain, keluarga yang merayakan Idul Fitri di ruang sewa yang kursinya dipinjam dari masjid lain, anak-anak yang belajar mengaji dari video YouTube karena tidak ada guru ngaji dalam jarak yang terjangkau. MINU hadir tepat di titik itu.
“Yang Hidup” di dalam Tembok
Dua minggu setelah peresmian, pada 31 Maret 2025, qunut Shubuh dibacakan untuk pertama kalinya di lantai tiga bangunan itu. Tahlilan malam Jumat bergema di ruang yang kapasitasnya sekitar 250 orang. Maulid Barzanji dilantunkan di Nagano dengan irama yang dikenal. Tidak ada lagi rasa asing yang samar itu.
Bangunannya sendiri terdaftar resmi sebagai 一般社団法人 (Ippan Shadan Hōjin, General Incorporated Association), badan hukum yang diakui negara Jepang. Lantai dua untuk jamaah wanita, lantai tiga untuk pria. Di lantai bawah, MINU Halal Mart berjualan untuk komunitas Muslim Nagano dan sekitarnya. Tapi ada fungsi lain yang tidak tertulis di papan nama mana pun.
Pengajian rutin Sabtu malam, Tabligh Akbar yang menghadirkan pembicara dari Indonesia, dan yang paling terasa dampaknya dalam kehidupan harian, TPA atau Taman Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak diaspora yang lahir dan tumbuh di Jepang. Anak-anak yang berbicara bahasa Jepang lebih lancar dari bahasa orang tua mereka, tapi diam-diam ingin tahu dari mana asal doa-doa yang mereka dengar setiap hari.
Untuk memakmurkan masjid secara konsisten, bukan hanya saat akhir pekan, MINU membuka diri untuk mahasiswa KKN dari universitas-universitas Islam Indonesia. Sebelum 2026, MINU telah menerima KKN gabungan dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Mahasiswa dari Ciputat dan Bandung itu datang ke kota pegunungan Nagano, menjalani hari-hari mereka bukan di laboratorium atau perpustakaan, melainkan memimpin shalat berjamaah, membuka halaqah, duduk bersama anak-anak diaspora yang mengeja huruf hijaiyah dengan aksen Jepang.
Tanpa fulltimer yang hadir setiap hari, masjid hanya akan ramai di akhir pekan. Sementara anak-anak TPA butuh konsistensi, butuh wajah guru yang mereka kenal, butuh rutinitas yang memberi rasa bahwa belajar agama merupakan bagian normal dari kehidupan mereka di Jepang.
Pada Februari 2026, estafet itu dilanjutkan oleh Universitas Islam Madura dan STAIM Madura. Mereka diterima oleh Bapak Ariestya Kurnia dalam prosesi yang dipimpin Rektor UIM sendiri. “Pengabdian di Jepang ini merupakan ruang belajar yang sangat berharga,” kata Rektor UIM Dr. H. Ahmad, S.Ag., M.Pd. “Mereka belajar memahami realitas Muslim minoritas, membangun empati lintas budaya.” Dari Jakarta, Bandung, hingga Madura, universitas-universitas itu mengirimkan mahasiswanya ke lembah Nagano dengan satu tujuan sederhana: agar anak-anak diaspora Indonesia yang tumbuh di Jepang tidak kehilangan akar mereka.
Cita-citanya tidak kecil. Para pengurus ingin MINU melahirkan dai-dai yang bisa berdiri di hadapan masyarakat Jepang dan menjawab pertanyaan tentang Islam tanpa mengintimidasi, tanpa defensif, tanpa eksklusif. Humanitarian Islam, kata mereka. Islam yang datang bukan untuk mengubah orang lain, tapi untuk menunjukkan bahwa ia bisa hidup berdampingan dengan siapa saja.
Kastil yang Tidak Pernah Ditembus
Ueda paling terkenal karena kastilnya yang tidak pernah bisa ditembus. Sanada Masayuki membangunnya pada 1583 dan menggunakannya untuk memukul mundur pasukan Tokugawa sebanyak dua kali. Kota yang dilingkupi gunung dari segala penjuru, yang dirancang agar tidak bisa ditembus dari luar. Kastil itu masih berdiri, masih menjadi kebanggaan kota, masih dikunjungi ribuan wisatawan setiap tahun.
Empat ratus tahun berlalu. Dan kini, komunitas Muslim Indonesia, pekerja-pekerja muda dari negeri yang di peta terlihat sangat jauh dari Nagano, dalam tiga pekan mengumpulkan 14 juta Yen, mengubah pabrik batu nisan menjadi masjid, dan diterima oleh masyarakat yang dulu terkenal paling tertutup untuk orang luar di seluruh Jepang.
Masyarakat Jepang yang terkenal konservatif memberikan izin. Pemerintah kota menerima pendaftaran badan hukum. Tetangga sekitar tidak protes. Seperti yang diungkapkan Chargés d’Affaires Jepang di Indonesia, Myochin Mitsuru, “Orang-orang di daerah pedesaan Jepang akhirnya menyadari bahwa pekerja Indonesia itu rajin, jujur, dan baik. Itu sebabnya penerimaan terhadap mereka semakin besar.”
Kota kastil yang tidak pernah bisa ditembus itu kini punya tetangga baru yang adzan lima kali sehari. Dan tetangga itu disambut.
Kembali ke Pagi Ahad Itu
Kang Dodi Mulyadi dari Ciamis, Jawa Barat. Nama yang tidak akan terukir dalam buku sejarah mana pun, tidak akan disebut dalam pidato peresmian mana pun. Tapi di antara komunitas Indonesia di Nagano, ia yang orang Sunda sebut sebagai pamingpin leutik, pemimpin kecil yang menopang semuanya dari bawah. Di Jawa Barat ada KDM yang menggerakkan provinsi. Di Ueda, ada Kang Dodi, KDM versi Nagano, yang menggerakkan sesuatu yang tidak kalah pentingnya, hati sebuah komunitas yang akhirnya pulang ke rumah.
Nama Dodi tidak ada di susunan lapis depan panitia. Ia hanya seorang engineer yang hari kerjanya diisi oleh toleransi mesin seperseribu milimeter, dan hari liburnya diisi oleh perjalanan 40 menit ke Ueda untuk berdiri di shaf shalat Ashar di masjid baru komunitasnya. Tempat qunut dibaca. Di tempat itu orang mengerti ketika ia menyebut Ciamis.
Dana 14 juta Yen yang terkumpul dalam 22 hari itu bukan berasal dari satu dermawan kaya. Ia datang dari ratusan orang seperti Kang Dodi, yang menyisihkan sebagian dari gaji bulan ini, dari upah lembur, dari tabungan yang seharusnya dikirim ke Ciamis pekan depan. Mereka menyumbang bukan karena ada kamera yang merekam, bukan karena nama mereka akan terukir di papan donatur. Mereka menyumbang karena mereka ingin ada tempat sujud yang benar-benar terasa seperti rumah.
Pada Ahad, 16 Maret 2025, di bekas pabrik batu nisan di Iwashita, Ueda, rumah itu akhirnya ada. Di lantai tiga yang dulu berdebu granit, kini tergelar sajadah. Di udara yang sama mengapung bacaan Al-Qur’an dan doa qunut yang sudah dirindukan bertahun-tahun.
Kang Dodi berdiri di shafnya. Di luar, Shinano Railway terus berlari di antara lembah dan gunung. Di dalam, seseorang memulai iqamat. Lima belas tahun. Dua puluh dua hari. Satu bangunan. Adzan berkumandang. []




















