Di suatu Ahad pagi, sebelum cahaya menyentuh puncak Pegunungan Alpen Jepang yang membingkai Kota Ueda dari segala penjuru, seorang pria muda dari Ciamis sudah bersiap di kamarnya di Miyota. Namanya Dodi Mulyadi.
Dodi yang tinggal di Distrik Kitasaku, yang berjarak 30 kilometer dari Ueda, di mana pabrik-pabrik presisi tumbuh di antara ladang dan gunung seperti sesuatu yang tidak sepenuhnya cocok dengan lanskapnya tapi entah bagaimana selalu ada di sana. Dalam kesehariannya, Dodi bekerja sebagai engineer di Citizen Machinery Ltd, anak perusahaan dari Citizen Watch Group, produsen mesin bubut CNC berpresisi tinggi yang komponen-komponennya digunakan oleh industri manufaktur di seluruh dunia. Tangannya terbiasa bekerja dengan toleransi seperseribu milimeter.
Tapi pagi itu, ia mengemas tasnya dengan perlengkapan untuk acara sore ini, menaiki Shinano Railway, dan membiarkan kereta membelah lembah Nagano yang di kiri-kanannya masih berselimut salju Maret yang tipis. Empat puluh menit kemudian, ia tiba di Ueda. Dan ia bukan satu-satunya.
Pada Ahad, 16 Maret 2025, ratusan Warga Negara Indonesia dari berbagai sudut Prefektur Nagano bergerak menuju satu titik di Iwashita. Dari lembah-lembah industri, dari desa-desa pertanian, dari kota-kota pabrik di tepi Sungai Chikuma yang merupakan sungai terpanjang di Jepang. Ada yang membawa anak-anak kecil yang lahir di sini, yang berbicara bahasa Jepang lebih lancar dari bahasa ibu mereka. Tidak ada yang mengeluh tentang jarak. Hari itu, untuk pertama kalinya, mereka punya rumah.
Cerita sesungguhnya dimulai jauh sebelum hari itu. Di sebuah bangunan yang, sebelum menjadi masjid, tempat orang-orang Jepang membuat maesan (batu nisan) untuk mereka yang berpulang.
Dua Riwayat dalam Satu Bangunan
Di pojok kawasan Iwashita berdiri sebuah bangunan tiga lantai yang tidak istimewa dari luar. Cat dindingnya sudah pudar. Jendela-jendelanya tidak besar. Tidak ada menara, tidak ada kubah. Dari jalan, ia tampak seperti bangunan komersial biasa yang sedang menunggu takdirnya.
Selama bertahun-tahun sebelum 2025, ia pabrik batu nisan, tempat memotong dan mengukir batu granit untuk makam-makam Jepang. Mesin-mesin bergetar di lantainya. Debu batu mengambang di udara dan menempel di setiap permukaan, di setiap sudut, di setiap tarikan napas siapa saja yang pernah bekerja di sana.
Sejak 16 Maret 2025, bangunan yang sama menjadi Masjid Indonesia Ueda. Debu batu sudah lama diseka. Mesin-mesin sudah disingkirkan. Di lantai yang sama kini tergelar sajadah, dan di udara yang sama kini mengapung lantunan Al-Qur’an.
Dari rumah kematian menjadi rumah Tuhan. Perubahan itu tidak terjadi dalam semalam. Ia membutuhkan lima belas tahun.
Kota yang Menyimpan Terlalu Banyak Sejarah
Ueda bukan nama yang terkenal di luar Jepang. Di peta, ia tampak seperti titik kecil di tengah lembah Nagano, 190 kilometer dari Tokyo, dibelah Sungai Chikuma. Tapi sekali Anda berdiri di tepinya, dengan gunung-gunung setinggi 2.000 meter yang menutup cakrawala dari segala penjuru, Anda mengerti bahwa ini bukan kota biasa. Lembah ini menyimpan terlalu banyak sejarah untuk kota yang namanya tidak banyak disebut di luar perbatasannya.
Pada abad ke-8, ketika Nusantara masih dikuasai kerajaan-kerajaan Hindu-Budha, Ueda sudah berdiri sebagai ibukota Provinsi Shinano. Pada abad ke-16, penguasa feodal Sanada Masayuki membangun kastilnya di sini dan menjadikannya basis perlawanan yang legendaris. Kastil Ueda dua kali berhasil memukul mundur pasukan Tokugawa yang jauh lebih besar, sebuah kisah yang hingga hari ini dirayakan dalam festival tahunan dan diabadikan dalam serial televisi NHK. Putera Sanada, Yukimura, dijuluki “prajurit terbaik Jepang”, nama yang bergema hingga ratusan tahun kemudian.
Kejayaan itu bergeser, seperti selalu terjadi. Pada era Meiji, Ueda menemukan identitas baru sebagai Ibukota Ulat Sutra, pusat industri sericultura yang menghasilkan kain untuk pasar dunia. Kilang-kilang sutra berdiri di sepanjang Sungai Chikuma, dan nama Ueda terukir di katalog perdagangan internasional.
Kemudian datanglah era modern. Kilang sutra berganti pabrik presisi. Seiko Epson, Citizen Machinery, Minebea Mitsumi tumbuh di tanah yang sama pernah diinjak pasukan Sanada. Prefektur yang terkurung daratan ini, tanpa pelabuhan dan tanpa pantai, menemukan cara untuk terhubung dengan dunia melalui keahlian tangan dan ketepatan mesin. Dan mesin-mesin itu membutuhkan operator.
Mereka yang Datang
Jepang sedang menua. Median usia penduduknya kini 49,9 tahun, tertinggi kedua di dunia, dan kekosongan yang ditinggalkan oleh generasi yang menua harus diisi oleh tangan-tangan yang lebih muda dari tempat yang lebih jauh. Pemerintah membuka pintu lebih lebar. Program Tokutei Ginou atau Pekerja Berketerampilan Khusus, beserta berbagai skema magang teknis, mengundang ratusan ribu pekerja muda dari Asia Tenggara.
Indonesia menjawab. Pada 2021, sekitar 60.000 WNI tercatat tinggal di Jepang. Per 2025, angka itu melampaui 400.000, laju pertumbuhannya tertinggi kedua di antara semua negara pengirim tenaga kerja ke Jepang. Nagano menjadi salah satu tujuan favorit. Dan di dalam Nagano, Ueda menjadi kota dengan jumlah warga asing terdaftar terbanyak di seluruh prefektur.
Mereka datang dengan koper yang berat dan harapan yang lebih berat lagi. Pagi-pagi sudah di lini produksi pabrik presisi, atau di ladang apel, anggur, dan sayuran di punggung bukit, atau di sawah-sawah padi yang menghijau di lembah, atau menemani orang-orang tua di rumah-rumah lansia yang kekurangan tenaga. Gaji dikirim ke kampung dalam bentuk angka-angka elektronik setiap bulan. Pemerintah Jepang menyebut mereka ‘rajin, jujur, dan baik hati’, sebuah pujian yang terasa tulus sekaligus terasa seperti catatan pada label produk yang baru dibuka.
Di Kota Ueda saja, ada 505 warga Indonesia yang terdaftar. Angka itu belum menghitung mereka yang berpindah musim, bekerja lintas kota, atau menumpang di asrama-asrama pabrik yang bau cat dan logamnya sudah menjadi aroma familiar.
Selain tenaga dan harapan, mereka membawa iman yang membutuhkan rumah. Bagi mereka yang tumbuh besar di lingkungan NU, yang hafal doa qunut sejak kecil dan terbiasa mendengar adzan dengan lagu yang sudah hapal di luar kepala, rumah bukan sekadar tempat tidur dan makan. Rumah merupakan tempat di mana cara seseorang berdoa terasa benar. Sementara di Nagano, rumah itu lama sekali tidak ada.
Delapan Puluh Orang Pionir
Tahun 2010. Di tengah ritme ekonomi Nagano yang khas, pabrik-pabrik beroperasi dalam shift panjang, ladang apel dan anggur berbuah di lereng bukit, sawah padi menghijau di lembah, Sungai Chikuma mengalir tenang seperti yang telah dilakukannya selama ribuan tahun, sekitar delapan puluh orang Indonesia mulai berkumpul secara rutin.
Mereka bukan demonstran, bukan pebisnis. Mereka pekerja-pekerja muda yang biasanya mengoperasikan mesin di pabrik atau memetik buah di ladang. Mereka datang dari Jawa, dari Sumatera, dari berbagai pelosok kepulauan, dan mereka haus akan sesuatu yang tidak bisa dibeli di supermarket Jepang mana pun: kajian agama, lantunan doa dalam bahasa yang terasa seperti rumah, wajah-wajah yang mengerti ketika seseorang menyebut nama kampungnya.
Komunitas Muslim Indonesia Ueda lahir dari kejenuhan itu, bukan kejenuhan bekerja, melainkan kejenuhan hidup di permukaan. Mereka membutuhkan tempat shalat. Dan untuk sementara, jawaban terdekat ada di Masjid Bilal Sakaki-machi.
Bertamu Di Rumah Orang Lain
Di kota kecil di Distrik Hanishina, sekitar tujuh kilometer dari pusat Kota Ueda, berdiri Masjid Bilal Nagano. Letaknya di Minamijo, di tengah hamparan persawahan yang di musim panas menghijau dan di musim dingin memutih. Masjid itu didirikan oleh komunitas Muslim dari anak Benua India, warga Pakistan, Bangladesh, dan India, yang lebih dulu bermukim di kawasan industri Nagano.
Nama “Bilal” sendiri adalah petunjuk yang berbicara. Bilal ibn Rabah, muadzin pertama Islam, mantan budak yang dibebaskan dan menjadi simbol kesetaraan dalam Islam, sebuah nama yang sangat akrab di masjid-masjid komunitas Asia Selatan di seluruh dunia, dari Bradford hingga Birmingham, dari Karachi hingga Nagano. Nama yang indah, penuh sejarah, tapi juga nama yang membawa serta seluruh tradisi keislaman pemiliknya dari anak benua yang berbeda.
Masjid Bilal bukan masjid kecil. Setiap hari Ahad, halaman parkirnya yang luas berubah menjadi lapangan badminton informal bagi komunitas Indonesia yang kangen suasana kampung. Ratingnya 4,5 dari 5 bintang dengan 97 ulasan di Google, sebuah angka yang, dengan sendirinya, bercerita tentang betapa pentingnya tempat itu bagi banyak orang.
Bagi komunitas Muslim Indonesia yang baru terbentuk di Ueda, Masjid Bilal merupakan berkah yang tidak ternilai. Ada tempat shalat Jumat. Ada kiblat. Ada saudara sesama Muslim. Untuk beberapa tahun pertama, itu sudah cukup.
Tapi waktu berjalan. Delapan puluh orang menjadi ratusan. Dan semakin besar komunitas itu tumbuh, semakin terasa apa yang tidak ada.
Di Masjid Bilal, tidak ada qunut Shubuh yang dibacakan dengan suara pelan khas pesantren. Tidak ada tahlilan malam Jumat yang iramanya seperti musik masa kecil. Tidak ada Maulid Nabi dengan lantunan Barzanji yang bisa membuat mata orang Jawa berkaca-kaca tanpa tahu kenapa. Madzhab sama-sama Sunni, ukhuwah sama-sama terjalin, tuan rumah selalu menerima dengan baik, tapi rasanya berbeda.
Perbedaan itu tidak pernah meledak menjadi konflik. Tidak ada pertengkaran. Yang ada hanyalah sesuatu yang lebih halus dan, dalam caranya sendiri, lebih menyakitkan. Rasa asing yang samar, yang datang perlahan, yang bertumpuk bertahun-tahun tanpa nama. Seorang pekerja yang tumbuh besar mendengar adzan dengan lagu tertentu, yang hafal urutan doa setelah shalat, yang terbiasa mendengar dzikir dengan irama yang spesifik, ketika semua itu absen, ada lubang kecil yang tidak terlihat tapi terasa. Dan lubang itu, bertahun-tahun, semakin dalam.
Selama belasan tahun, komunitas Indonesia Ueda beribadah menumpang di Masjid Bilal. Tamu yang baik, tamu yang tidak pernah membuat masalah, tapi tamu yang di dalam hatinya merindukan rumahnya sendiri. Kebutuhan itu membesar diam-diam, seperti air yang mengumpul di balik bendungan. Sampai suatu hari, ada seorang pria dari Kebumen yang tahu cara membuka bendungan itu. [] Bersambung ke bagian 2.



















