Bogor, Gontornews β Lantunan ayat-ayat suci Al-Qur’an bergema memenuhi ruang utama Masjid Al Haris Sekolah Islam Terpadu (SIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Selasa (4/8/2026). Suaranya merdu, syahdu, dan menggetarkan relung hati setiap orang yang hadir. Di hadapan para orang tua yang menyaksikan dengan mata berkaca-kaca, tiga puluh putra-putri terbaik SIT Insantama Leuwiliang melantunkan kalam Ilahi dengan tartil dan penuh keyakinan. Setiap huruf yang terucap seolah menjadi saksi atas perjalanan panjang mereka belajar mengenal, membaca, dan mencintai Al-Qur’an.
Suasana yang semula khusyuk berubah menjadi mengharukan ketika tiga puluh siswa itu mengangkat kedua tangan mereka, lalu dengan suara yang lirih namun penuh pengharapan membacakan Doa Khotmul Qur’an. Di setiap bait doa yang terlantun, tersimpan harapan agar Allah menjaga keistiqamahan mereka dalam mencintai Al-Qur’an, menjadikan mereka anak-anak yang shalih dan shalihah, serta menghadiahkan keberkahan bagi kedua orang tua.
Tak kuasa menahan haru, para orang tua (umi dan abi) yang duduk di barisan depan mengangkat tangan, mengaminkan setiap kalimat doa yang keluar dari bibir putra-putri mereka. Beberapa di antaranya tampak menyeka air mata yang perlahan mengalir di pipi. Air mata itu bukan karena kesedihan, melainkan luapan rasa syukur yang tak mampu lagi dibendung. Betapa dahulu mereka menuntun tangan kecil anak-anaknya mengeja huruf hijaiyah satu per satu. Kini, anak-anak yang sama berdiri dengan penuh percaya diri membacakan ayat-ayat Allah dan memohonkan keberkahan kepada Rabb semesta alam.
Tidak hanya orang tua, seluruh hadirin larut dalam suasana yang begitu menggetarkan. Ketua Yayasan, para guru, staf, hingga siswa-siswi yang memenuhi masjid turut menengadahkan tangan, mengamini setiap doa yang dipanjatkan. Seakan tak ada lagi sekat di antara mereka. Yang ada hanyalah hati-hati yang bersatu dalam syukur, berharap agar generasi Qur’ani ini kelak menjadi cahaya bagi keluarga, masyarakat, bangsa, dan agama.
Momen itu menjadi bukti bahwa perjuangan panjang mereka dalam mempelajari Al-Qur’an telah membuahkan hasil yang membanggakan.
Suasana penuh keberkahan tersebut mengawali pelaksanaan Khotmul Qur’an ke-18 SIT Insantama Leuwiliang yang mengusung tema “Generasi Qur’an, Kebanggaan Umi dan Abi.” Kegiatan Khotmul Qur’an ini menjadi momentum istimewa bagi 30 siswa yang telah berhasil menuntaskan pembelajaran membaca Al-Qur’an menggunakan metode Qira’ati dengan baik dan benar.
Khotmul Qur’an bukan sekadar acara seremonial kelulusan membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu, kegiatan ini merupakan ungkapan rasa syukur atas lahirnya generasi yang tumbuh bersama Kalamullah, sekaligus ikhtiar sekolah dalam membentuk karakter islami yang kokoh sejak usia dini.
Di balik setiap ayat yang dilantunkan dengan fasih, tersimpan perjalanan panjang yang penuh kesabaran. Ada waktu-waktu ketika para siswa harus mengulang bacaan berkali-kali demi memperoleh makhraj yang tepat, memperbaiki tajwid, dan membiasakan diri membaca Al-Qur’an dengan tartil. Ada doa yang tak pernah putus dari kedua orang tua, ketelatenan para guru Al-Qur’an dalam membimbing, serta dukungan penuh dari seluruh civitas sekolah yang menjadi bagian dari keberhasilan mereka hari ini.
Ketua Yayasan Amanah Insantama, Ir H Ahmad Soim, menyampaikan bahwa pelaksanaan Khotmul Qur’an sengaja diselenggarakan pada hari efektif sekolah agar menjadi inspirasi bagi seluruh peserta didik.
“Kegiatan Khotmul Qur’an ini sengaja kita adakan pada hari efektif dengan harapan mampu memberikan motivasi kepada siswa-siswi lainnya yang belum menyelesaikan pembelajaran Qira’atinya. Kami ingin budaya mencintai Al-Qur’an tumbuh di seluruh lingkungan sekolah sehingga kualitas bacaan Al-Qur’an peserta didik semakin meningkat dari waktu ke waktu,” tuturnya.
Ia berharap, momen ini menjadi penyemangat bagi seluruh siswa untuk semakin mencintai Al-Qur’an dan menjadikannya sebagai pedoman hidup.
Suasana haru semakin terasa ketika Pengawas Guru PAI Kecamatan Leuwiliang, Dr Rukiyat MAg, menyampaikan nasihat yang menyentuh hati para hadirin.
“Berbahagialah bapak dan ibu yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya di Insantama, terlebih bagi yang hari ini mengikuti Khotmul Qur’an. Memiliki anak yang dekat dengan Al-Qur’an merupakan nikmat yang sangat besar. Bisa jadi, kelak merekalah yang Allah jadikan sebab keselamatan kita di akhirat. Al-Qur’an akan datang memberi syafaat kepada para pembacanya dan menjadi obat bagi hati kaum Muslimin.”
Nasihat tersebut mengingatkan seluruh orang tua bahwa keberhasilan anak bukan hanya diukur dari prestasi akademik, tetapi juga dari kedekatan mereka dengan Al-Qur’an. Sebab, anak-anak yang tumbuh bersama Al-Qur’an merupakan investasi akhirat yang tak ternilai harganya.
Rasa syukur dan kebahagiaan juga disampaikan oleh salah seorang perwakilan orang tua peserta Khotmul Qur’an, Cepi Kurniawan SHI. Menurutnya, keberhasilan anak-anak hari ini merupakan buah dari sinergi yang luar biasa antara keluarga dan sekolah.
“Kami mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas doa, kerja keras, serta berbagai upaya yang telah dilakukan oleh Yayasan Amanah Insantama, para guru, dan seluruh staf. Alhamdulillah, berkat bimbingan yang penuh kesabaran, anak-anak kami tumbuh menjadi anak yang shalih dan shalihah. Yang paling membanggakan bagi kami, mereka kini telah mampu membaca Al-Qur’an dengan baik dan benar. Semoga Allah membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepada anak-anak kami dengan pahala yang berlipat ganda.”
Ungkapan tersebut disambut haru oleh seluruh hadirin. Bagi para guru, keberhasilan setiap anak membaca Al-Qur’an bukan sekadar capaian akademik, melainkan amanah besar yang harus dijaga dengan penuh keikhlasan. Setiap huruf yang diajarkan, setiap kesalahan yang diperbaiki, hingga setiap doa yang dipanjatkan menjadi bagian dari ikhtiar melahirkan generasi Qur’ani.
Khotmul Qur’an bukanlah garis akhir dari perjalanan belajar Al-Qur’an. Justru inilah langkah awal menuju perjalanan yang lebih panjang, yaitu memahami makna ayat-ayat Allah, menghafalkannya, mengamalkan ajarannya, dan menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya dalam setiap langkah kehidupan.
Melalui kegiatan Khotmul Qur’an ke-18 ini, SIT Insantama Leuwiliang kembali menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul dalam ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki kecintaan yang mendalam terhadap Al-Qur’an. Sebab, peradaban yang mulia akan lahir dari generasi yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat, pedoman, dan sumber inspirasi dalam menjalani kehidupan.
Semoga 30 generasi Qur’ani yang dikukuhkan pada hari ini senantiasa istiqamah menjaga bacaan, memperindah akhlak, mengamalkan isi Al-Qur’an, serta menjadi penyejuk hati bagi umi dan abi, kebanggaan umat, dan kelak memperoleh syafaat Al-Qur’an di yaumil akhir.
“Sebaik-baik kalian yaitu orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari)Β [Zaenal Mutakin]






















