pesanan-majalah-edisi-khusus
28 °c
Pecenongan
Fri
Sat
Friday, 14 August, 2026
Login
Langganan
gontornews.com
Daftar Pelatihan Guru Al Barqy
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result
gontornews.com
Langganan
Home Inpirasi Oase

Rumah di Negeri Samurai (Bagian 2)

Oleh Muhammad Riza Diponegoro/Imam Besar Masjid NU Attaqwa Koga Ibaraki Jepang 2024-2025

Mohamad Deny Irawan by Mohamad Deny Irawan
30 June 2026
in Oase
0
Rumah di Negeri Samurai (Bagian 2)

Masjid Indonesia UEDA (Foto: Instagram/Masjid Indonesia UEDA)

Di antara ratusan orang yang merasakan kegelisahan itu, ada satu orang yang merasakannya dari tempat yang paling dalam. Namanya Pamuji Mahasyim bin Muhammad, dikenal sebagai Abah Hasyim, seorang ulama dari Kebumen, kabupaten di pesisir selatan Jawa Tengah yang kental tradisi pesantrennya. Di Kebumen, orang tumbuh besar dengan qunut Shubuh yang sudah hafal sebelum bisa membaca, dengan tahlilan yang suaranya mengisi malam Jumat di setiap kampung, dengan doa-doa berbahasa Arab yang terasa seperti bahasa ibu kedua.

Selama bertahun-tahun, Abah Hasyim berdiri di mihrab Masjid Bilal Nagano di Sakaki sebagai imamnya. Setiap Shubuh, setiap Dzuhur, setiap Ashar, Maghrib, Isya. Ia yang mengangkat takbir. Ia yang membaca Al-Fatihah. Ia yang memimpin.

Tapi ada yang tidak bisa ia baca di sana, yaitu qunut Shubuh. Ada yang tidak bisa ia lantunkan, yaitu maulid Barzanji dengan irama Kebumen yang ia bawa jauh ke negeri ini. Ada yang tidak bisa ia selenggarakan, yaitu tahlilan malam Jumat yang di kampungnya merupakan ritual sosial-spiritual paling penting dalam sepekan. Ia memimpin jamaah yang lebih besar dari sekadar komunitasnya sendiri, dan dalam kapasitas itu, setiap hari, ia menyimpan sebagian dari dirinya di balik mihrab. Seorang imam yang menyimpan sebagian dari dirinya di balik mihrab. Itu beban yang tidak terlihat, tapi sangat nyata.

Yang membuat Abah Hasyim berbeda bukan kegelisahannya, karena banyak yang gelisah. Yang membedakannya yaitu bahwa ia sudah pernah mengubah kegelisahan menjadi tembok dan mihrab, di kota lain, jauh sebelum namanya dikenal di Nagano.

BACA JUGA

Rumah di Negeri Samurai (Bagian 3-Selesai)

Rumah di Negeri Samurai (Bagian 1)

Cara Muslim di AS Mendidik Non-Muslim

Menengok Kehidupan Muslim di Thailand Selatan

Jejak Perkumpulan Muslim di Finlandia

Di Kota Sano, Prefektur Tochigi, sekitar 80 kilometer dari Tokyo, ia menemukan sebuah bekas bengkel suku cadang otomotif yang sudah lama tidak terpakai. Lantainya kotor. Dindingnya mengelupas. Di luar, ilalang tumbuh setinggi lutut. Abah Hasyim melihatnya sebagai masjid, dan pesantren.

Pada akhir 2016, lahan itu dibeli seharga sekitar 10 hingga 15 juta Yen, dihimpun secara bertahap dari donasi komunitas Muslim Indonesia di berbagai penjuru Jepang. Setiap akhir pekan dan hari libur, para pekerja datang dengan tangan kosong dan pulang dengan tangan penuh cat dan debu. Mereka membersihkan ilalang, memperbaiki struktur yang rusak, membangun tempat wudhu, mengangkat balok tanpa derek, memaku dinding tanpa mandor. Lantai satu menjadi ruang kelas pesantren, dapur komunal, dan tempat wudhu. Lantai dua menjadi mushala yang mampu menampung ratusan jamaah.

Masjid dan Pesantren Al-Ikhlas Sano resmi dibuka pada 26 Mei 2017, diresmikan oleh Duta Besar RI untuk Jepang, Arifin Tasrif, menjelang Ramadhan. Pada Idul Fitri pertamanya, lebih dari 500 jamaah hadir dari seluruh kawasan Tochigi dan sekitarnya. Kota Sano kemudian memproklamasikan diri sebagai kota ramah Muslim, sebagian karena kehadiran Al-Ikhlas yang membuktikan bahwa Islam bisa hadir sebagai mitra, bukan ancaman.

Di balik bangunan itu tumbuh sebuah pesantren bernama Pesantren Hashimoto. Dalam bahasa Jepang, Hashimoto yang ditulis ζ©‹ζœ¬ berarti “Pangkal Jembatan”, sebuah misi yang tersimpan rapi dalam nama, institusi yang berdiri tepat di titik pertemuan antara nilai-nilai Islam dan budaya Jepang. Pesantren Hashimoto tercatat sebagai pesantren pertama yang didirikan oleh komunitas Indonesia di Jepang.

Kurikulumnya dirancang padat dan modular, mengikuti ritme pabrik bukan ritme pesantren. Santri belajar membaca Al-Qur’an dengan benar, belajar fikih untuk hidup sebagai minoritas Muslim di negeri orang, belajar menjaga diri tetap teguh di lingkungan kerja yang keras. Singkat, tapi cukup.

Lebih dari sekadar pengajar, Abah Hasyim menjadi figur ayah bagi para pekerja migran yang menghadapi tekanan kerja dan kesepian yang tidak bisa diceritakan kepada siapa pun di kampung halaman. Masjid dan pesantren itu menjadi oasis psikologis, tempat di mana seseorang boleh menangis tanpa harus menjelaskan mengapa, tempat di mana bahasa Jawa dan bahasa Jepang bercampur dalam satu percakapan tanpa ada yang merasa aneh.

Itulah yang dibangun Abah Hasyim di Sano. Bukan hanya masjid dan pesantren, melainkan ekosistem kemanusiaan, di mana iman, pendidikan, komunitas, dan kesehatan psikologis tumbuh dalam satu atap yang dulunya menyimpan mesin-mesin pabrik yang berkarat.

Ketika kemudian ia berpindah ke kawasan Nagano dan menjadi imam di Masjid Bilal Sakaki, kegelisahan yang sudah ia kenal itu kembali datang. Tapi kali ini ia tidak merasakannya sebagai ketidakberdayaan. Ia merasakan pengulangan. Ia pernah berada di titik ini sebelumnya.

Dan ketika pada penghujung 2024 sebuah bangunan bekas pabrik batu nisan di Iwashita, Ueda, muncul sebagai kandidat, mungkin ada sesuatu yang sangat familiar baginya. Pabrik yang tidak terpakai, komunitas yang butuh rumah, danΒ  tangan-tangan yang siap bekerja.

Ini bukan pertama kalinya. Ia tidak pergi dengan marah. Tidak pergi dengan kritik. Ia bergerak, dengan cara yang sudah dua kali ia buktikan bisa berhasil, menuju kota baru, lembah baru, nama baru. Nama ituΒ  MINU.

Proyek Roro Jonggrang

Penghujung 2024. Seorang anggota komunitas menemukan sebuah listing properti. Bangunan tiga lantai di Iwashita, Ueda, seluas 427 meter persegi di atas lahan 650 meter persegi. Bekas pabrik batu nisan. Harganya 14 juta Yen, setara Rp 1,4 miliar.

Empat belas juta Yen. Jumlah yang besar untuk ukuran siapa pun, apalagi untuk pekerja pabrik yang sebagian gajinya sudah dipesan untuk dikirim ke kampung. Tapi komunitas yang sudah menunggu lima belas tahun tidak lagi berpikir dalam satuan pragmatis. Mereka berpikir dalam satuan gotong-royong.

Pada 27 Desember 2024, pengumuman penggalangan dana disebarkan ke seluruh komunitas. Batas waktu pelunasan 18 Januari 2025. Hanya tiga minggu. Tak ada yang tahu apakah ini mungkin, tapi tak ada yang mau tidak mencoba.

Dana mengalir. Dari pekerja pabrik di Nagano yang menyisihkan sebagian gaji bulan ini. Dari keluarga WNI yang sudah lama menetap di Jepang. Dari komunitas NU di seluruh Jepang yang mendengar kabar. Dari donatur di Indonesia yang merasa terpanggil meski tidak pernah menginjakkan kaki di Ueda. Setiap transfer datang tanpa nama besar dan tanpa syarat, hanya dengan doa yang tidak tertulis.

Dalam waktu tiga minggu, 14 juta Yen terkumpul penuh. Komunitas menjulukinya “Proyek Roro Jonggrang”, merujuk pada legenda candi yang diminta dibangun dalam semalam. Bedanya, tidak seperti Bandung Bondowoso yang gagal di penghujung malam, proyek ini berhasil sepenuhnya, tanpa kecurangan dan tanpa sihir, hanya dengan keikhlasan yang berlipat ganda.

Bangunan itu resmi menjadi milik komunitas Muslim Indonesia Nagano, terdaftar sebagai δΈ€θˆ¬η€Ύε›£ζ³•δΊΊ (Ippan Shadan Hōjin, General Incorporated Association), badan hukum yang diakui negara Jepang.

Minus Lima Derajat

Memiliki bangunan saja tidak cukup. Bekas pabrik batu nisan itu harus diubah menjadi masjid, dan karena anggaran sudah habis untuk pembelian, hanya ada satu cara melakukannya: Kerjakan sendiri.

Dalam suhu yang menyentuh minus 5 derajat Celcius, warga Indonesia Ueda mulai bekerja. Napas mereka berkabut di udara. Suara sekop pada lantai beton bergema di ruangan yang belum punya karpet, belum punya pemanas, belum punya apa-apa kecuali tekad. Tidak ada kontraktor yang dipanggil, tidak ada tukang yang dibayar. Hanya tangan-tangan pekerja pabrik yang biasanya mengoperasikan mesin presisi, kini menggenggam kuas dan palu.

Kabar menyebar melampaui Nagano. Dari Ibaraki, prefektur di timur Jepang yang berjarak ratusan kilometer, datanglah yang kemudian dikenal sebagai “Tim Koga”, jamaah Masjid NU At-Taqwa Koga yang masjidnya sendiri baru berdiri setahun sebelumnya sebagai pesantren NU pertama di Jepang. Mereka datang bukan karena instruksi. Mereka datang karena begitulah cara jaringan ini bekerja.

Lantai demi lantai dibersihkan. Mesin-mesin pemotong batu disingkirkan. Dinding dicat. Tata lampu dipasang, jamban modern diinstalasi, pengkondisi udara dipasang agar jamaah bisa beribadah nyaman di musim panas Nagano, dan karpet sajadah digelar rapi menutupi seluruh lantai ruang shalat. Sistem audio untuk azan dan pengajian dipasang terakhir.

Di tengah kerja itu, terjadi sebuah peristiwa yang kemudian diceritakan ulang berkali-kali, bukan sebagai cerita menakutkan, melainkan sebagai cerita tentang perlindungan. Saat pembersihan lantai tiga, sebuah lemari besar seberat 80 kilogram jatuh dan menimpa kepala salah seorang sukarelawan. Suasana membeku, pemuda itu berdiri, menggeleng-gelengkan kepala. Tidak ada luka serius. Seolah lemari sebesar itu memilih untuk tidak melukai siapa pun.

Komunitas menyebutnya berkah. Bahwa pekerjaan yang dilakukan dengan ikhlas, di tengah dingin yang menggigit, oleh tangan-tangan yang tidak meminta bayaran, mendapat perlindungannya sendiri.

Tabligh Akbar Di Bangunan Yang Masih Berbau Cat

Delapan hari sebelum peresmian, pada Sabtu malam 8 Maret 2025, Tabligh Akbar digelar di MINU. Lebih dari 150 jamaah hadir, duduk bersila di lantai, bahu bertemu bahu, di ruangan yang catnya belum sepenuhnya kering.

Sebelum tausiyah, menu masakan Nusantara dihidangkan untuk buka puasa bersama. Aroma rendang dan sambal, yang bahan bakunya entah bagaimana berhasil ditemukan di kota yang lebih banyak menjual miso dan sake, mengisi ruangan itu.

Pembicara utama malam itu adalah Prof Dr KH M Noor Harisudin dari Jember. Ia berbicara tentang masjid bukan sebagai bangunan batu bata semata, melainkan sebagai institusi peradaban. “Muslim yang banyak uang, silakan donasikan uangnya. Muslim yang punya tenaga, berikan tenaganya. Muslim yang bisa masak, bantu masaknya,” katanya, dengan nada setengah bercanda yang mengundang tawa, sebelum melanjutkan serius tentang skema wakaf produktif agar masjid tidak selalu bergantung pada donasi.

Acara berakhir pukul sepuluh malam, setelah Isya dan tarawih, setelah semua pertanyaan terjawab atau setidaknya didengarkan. Hadir malam itu Ketua Tanfidziyah MWCINU Nagano Mas Jimmy Ibrahim Ramadhan, Katib Syuriyah Bapak Bambang Hari Yunanto, dan Ketua DKM Bapak Ariestya Kurnia. Delapan hari lagi, ketiganya akan berdiri di depan bangunan yang sama, dan tidak ada yang akan berbau cat lagi. []

Tags: Masjid Indonesia UEDAMuhammad Riza DiponegoroMuslim di JepangWNI di Jepang
Share26Tweet16Send
Previous Post

BAZNAS Berikan Layanan Khitanan Massal Gratis di Ponpes PIQ Al Misbah

Next Post

Program Pembelajaran SDIT Insantama Leuwiliang Jadi Inspirasi Sekolah Negeri

Mohamad Deny Irawan

Mohamad Deny Irawan

Reporter Media Online Gontornews.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site is protected by reCAPTCHA and the Google Privacy Policy and Terms of Service apply.

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

7 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Pendekatan Astronomis Penentuan Awal Ramadhan

Pendekatan Astronomis Penentuan Awal Ramadhan

15 January 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

0
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

0
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

0
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

0
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

0
Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

Menjaga Iman dalam Segala Situasi Kehidupan

7 August 2026
saiful falah pemerhati pendidikan

Wilayah Bogor Barat Butuh Keragaman Sarjana

6 August 2026
Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

Khotmul Qur’an Ke-18 SIT Insantama Leuwiliang: Cetak Generasi Qur’ani

6 August 2026
Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

Peringati HUT RI Ke-81, PB JATMA ASWAJA Gelar Doa Keselamatan Bangsa di Istiqlal

6 August 2026
Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

Ribuan Peserta Hadiri Multaqa Ilmi Bersama Prof Abdul Somad di Al-Amien Prenduan

5 August 2026
gontornews.com

Kantor :
Jalan Taman Sejahtera No.1A RT.06 RW.03 (Samping Masjid Jami' Al-Munir) Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan
Telp : 021-29124801
Fax : 021-29124802
Layanan Pelanggan : 0819-1515-1456 (Khusus WA)
Email :
[email protected]
[email protected]
[email protected]

TENTANG KAMI

  • Profil
  • Redaksi & Manajemen
  • Info Iklan
  • Panduan Kebijakan Media
  • Berlangganan Majalah
  • Komplain Majalah
  • Privacy Policy

INSTAGRAM

Ikuti Kami

  • Edisi September yang akan datang.
Liputan Khusus :
1. Peta sebaran Pondok Alumni Gontor di Indonesia
2. Prospek dan Tantangan Pondok Alumni-Muadalah
3. KH Hasan Abdullah Sahal: Gontor Sebagai Inspirator Pondok Modern Yang Bersatu
4. Kipran Pondok Pesantren Alumni Gontor di Mancanegarapesan sekarang!
  • KOLEKSI EDISI KHUSUS 100 TAHUN GONTORTiga edisi istimewa telah hadir!
πŸ“– Juli 2026 – Seabad Mendidik Bangsa
πŸ“– Agustus 2026 – UNIDA Gontor Mendunia
πŸ“– September 2026 – Satu Abad, Seribu GontorJadikan ketiganya sebagai koleksi sejarah 100 Tahun Gontor di perpustakaan AndaπŸ›’ Segera pesan sebelum kehabisan!
πŸ”— https://bit.ly/pesan-majalah#majalahgontor #100tahungontor #gontor100tahun #gontornews
  • Silahkan daftar melalui link ini : https://tinyurl.com/iklan-magonatau link bisa lihat di profile
  • Batas Akhir 7 Agustus 2026
Link Pendaftaran ada di profile"Kesempatan boleh datang berkali-kali, tetapi momen 100 Tahun Gontor hanya terjadi sekali. Jangan hanya menjadi saksi sejarah. Jadilah bagian dari sejarah."
  • Sistim pendafaran otomatis akan tertutup pada tanggal 7 Agustus 2026.
  • Edisi Khusus Majalah Gontor dalam rangka 100 Tahun Gontor. Bulan Juli, Agustus dan September.
Link Pemesanan : Lihat di profile#majalahgontor #gontornews #edisikhsusumajalahgontor #100tahungontor #gontor #gontorputri
  • KHUSUS ALUMNI GONTOR πŸ“£Perkenalkan usaha Anda.
Majalah Gontor Edisi Khusus September 2026 – Spesial 100 Tahun Gontor.βœ”οΈ Perkenalkan usaha Anda kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia.
βœ”οΈ Kontribusi Rp1.500.000.
βœ”οΈ Pendaftaran hingga 7 Agustus 2026 atau kuota terpenuhi.πŸ“ https://tinyurl.com/iklan-magonπŸ“ž 0877-8707-2412 | 0813-1510-6479
  • Ada momen yang bisa diulang, ada pula yang hanya terjadi sekali dalam sejarah. Jangan lewatkan kesempatan memperkenalkan usaha Anda pada Edisi Spesial 100 Tahun Gontor.Link Pendaftaran :
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mg#majalahgontor #gontornews #walisantrigontor #gontor
  • Kesempatan yang Tidak Datang Dua KaliJadilah bagian dari Edisi Khusus Majalah Gontor September 2026 dalam rangka 100 Tahun Pondok Modern Darussalam Gontor.Kami mengundang Wali Santri Gontor yang memiliki usaha untuk memperkenalkan produknya kepada ribuan keluarga besar Gontor di seluruh Indonesia melalui edisi koleksi yang akan menjadi bagian dari sejarah.πŸ“Œ Kontribusi seikhlasnya
πŸ“Œ Syarat: Anak masih aktif sebagai santri Gontor
πŸ“Œ Pendaftaran hanya sampai 7 Agustus 2026Kirimkan:
βœ… Logo Usaha
βœ… Foto Produk
βœ… Deskripsi Singkat
βœ… Website/Sosial Media (jika ada)πŸ“² Daftar sekarang:
https://tinyurl.com/daftar-umkm-mgπŸ“ž Informasi:
0877-8707-2412
0813-1510-6479#majalahgontor #100tahungontor #walisantri #pengusahamuslim #gontornews #pesantrengontor #gontor

Β© 2023 gontornews.com. All Rights Reserved

Banner Footer
β–²
  • Home
  • News
    • Dunia
    • Nasional
    • Nusantara
  • Inspirasi
    • Sirah
    • Dakwah
    • Hidayah
    • Ihwal
    • Jejak
    • Sukses
    • Mujahid
    • Oase
  • Pendidikan
    • Virtual Tour Pesantren
    • Lembaga
    • Buku
    • Beasiswa
    • Risalah
    • Khazanah
    • Keluarga
  • Muamalah
    • Ekonomi
    • Peluang
    • Halal
    • Rihlah
    • Konsultasi
  • Tadabbur
    • Tafsir
    • Hadis
    • Dirasah
  • Values
    • Tausiah
    • Sikap
    • Mahfudzat
    • Kolom
    • Afkar
  • Saintek
    • Sains
    • Teknologi
    • Kesehatan
    • Lingkungan
  • Laput
    • #IBF2020
  • Wawancara
  • Gontoriana
    • Pondok
    • Trimurti
    • Risalah
    • Alumni
  • Berlangganan
  • MG Digital
  • Login
No Result
View All Result