Pattani, Gontornews — Kesadaran sebagai salah satu elemen penting dalam kemanusiaan, saat ini menghadapi tantangan yang semakin nyata. Eksistensi manusia berhadap-hadapan dengan kedigdayaan teknologi yang telah dapat melampaui kecerdasan manusia.
Manusia yang tidak mampu mengoptimalkan kesadarannya akan dilindas oleh kemajuan teknologi yang semakin tak terhentikan. Itulah di antara pesan penting yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Prof Dr H Robby Habiba Abror MHum saat menjadi narasumber pada Ahad (18/1/2026) di Universitas Fatoni, Pattani, Thailand.
Konferensi internasional tiga negara bertajuk Science, Religion and Philosophy: Lived Islam Across Borders, ini menghadirkan para pemikir dari Thailand, Indonesia, dan Malaysia. Konferensi Internasional ini terselenggara dengan sukses berkat kerjasama tiga universitas yaitu Universitas Fatoni Pattani Thailand, Universiti Sains Malaysia (USM) Penang Malaysia, Lingkar Studi Agama dan Filsafat (LISAFA), dan Fakultas Ushuluddin dan Pemikiran Islam (FUPI) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
“Kebersamaan lintas negara tersebut seolah ingin membuktikan soliditas dan merawat nafas serumpun Melayu agar dapat merespons tantangan teknologi digital dan perkembangan Akal Imitasi atau Kecerdasan Buatan (AI) yang tak terbendung,” terang Robby Abror.
Ia membahas materi yang sangat menarik tentang The Datafied Self and the Post-Human Conditions: Philosophical Investigations. Ia berbicara tentang nasib kemanusiaan vis a vis kecanggihan dan ancaman teknologi yang semakin nyata. “Era Akal Imitasi (AI) ini, kita menghadapi tantangan teknologi mutakhir yang tak mungkin lagi kita hindari dalam hidup kita sehari-hari,” tuturnya.
Kepada Gontornews.com, Robby juga mengingatkan bahwa hari ini manusia harus cakap menerjemahkan dan mengawal moralitas dirinya di hadapan teknologi, bersentuhan dengan kebutuhannya pada AI dan harus memiliki kemampuan kritis serta kesadaran atas mesin yang selalu dapat memperbarui dirinya.
Apa yang ia sebut sebagai The Datafied Self sebenarnya merepresentasikan bahwa identitas manusia itu tak lagi utuh sebagai subjek dan direduksi menjadi profil digital. Pada titik itulah, manusia masuk ke kondisi post-human yang menyamarkan batas antara nurani dan logika mesin.
Di akhir kegiatan, Robby berharap konferensi internasional tiga negara serumpun, yaitu Indonesia, Malaysia, dan Thailand Selatan ini dapat terus dirawat dan berkontribusi bagi perkembangan riset dan dialog keilmuan di Asia Tenggara.
Konferensi ini ingin merajut kembali kesadaran manusia, peran penting agama juga pemikiran Islam dalam mengembangkan sains.
Robby pun berpesan agar kita sebagai manusia harus punya kedaulatan berpikir, akal sehat selalu diasah, komunikasi empatik, profetik, dan ilahiah antaranak bangsa di Asia Tenggara dapat terus dibina serta dipupuk dengan sebaik-baiknya. “Tujuannya agar dapat maju bersama-sama untuk maslahat kemanusiaan,” tutup alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tersebut. [Edithya Miranti]





















