Oleh KH Syamsul Hadi Abdan SAg
Pimpinan Pondok Modern Gontor
Sering kita dengungkan dan selalu kita ingatkan bahwa kebanyakan generasi memiliki beberapa masa, yaitu; Generasi pertama, sebagai generasi perintis, yang merintis pondok ini dari awal; Generasi kedua, sebagai generasi pejuang, yang telah meneruskan dan memperjuangkan apa-apa yang telah diwariskan oleh generasi perintis; Generasi ketiga, dikatakan generasi penikmat; Generasi keempat, dikatakan generasi penghancur.
Dalam hal ini, Trimurti sebagai generasi pertama telah merintis pondok ini hingga wafat. Telah banyak pengalaman Trimurti mengatur Pondok dan KMI. Maka kita tidak perlu ragu dengan kurikulum yang selama ini kita gunakan.
Tidak perlu kita mengambil kurikulum lain, kurikulum selain Gontor. Nyatanya, setelah sekian tahun pondok ini berjalan dengan kurikulum KMI-nya, Pondok terus maju dan berkembang, Alhamdulillah. Kita tinggal meneruskan
estafet perjuangan ini.
Setelah Trimurti wafat, generasi kedua maju meneruskan perjuangan, tidak mengubah, selalu meneruskan langkah-langkah yang sudah dimulai oleh para Trimurti. Santri perdana KMI berjumlah 16 orang.
Tahun 1951 bertepatan dengan peringatan seperempat abad, santri Gontor ketika itu berjumlah kurang lebih 500 orang.
Tahun diwakafkannya PMDG, tahun 1958, ketika itu santri gontor berjumlah 800-an orang.
Pada tahun 63, ketika Kiai Syamsul masuk dan mulai belajar di Gontor, santrinya berjumlah 1300 orang.
Ketika Trimurti terakhir, Pak Zar berpulang, santri Gontor ketika itu berjumlah 2.352 orang. Saat itu, Gontor belum memiliki cabang putra maupun putri.
Generasi kedua masih melanjutkan perjuangan Trimurti hingga sekarang. Tapi ingatlah bahwa, generasi kedua tidak selamanya memegang estafet ini.
Tongkat estafet perjuangan akan segera diserahkan kepada generasi ketiga. Tinggal menunggu waktu, masa perjuangan generasi kedua akan segera habis. Maka bersiaplah para pejuang, para penerus, para pemegang tongkat estafet. Bersiaplah generasi ketiga.
Jalan masih panjang dan terjal. Jangan sampai generasi ketiga hanya merupakan generasi penikmat. Gontor pada saat ini jangan sampai seperti Gontor lama, yang mati karena kemunduran periode kedua serta wafatnya kiai
generasi ketiga yang saat itu masih muda.
Asatidz kita, yang pernah hidup bersama Trimurti tinggal segelintir orang. Bisa dihitung dengan jari. Kebanyakan kalian, masuk ke Pondok ini sudah dalam masa majunya. Kalian tidak merasakan bagaimana perih dan pedihnya mereka berjuang merintis pondok ini.
Kita harus insyaf dan sadar, bahwa kita adalah penerus perjuangan. Kita mendapat warisan berupa nilai dan jiwa pondok. Mempertahankan warisan ini tidak gampang, kita harus terus berjuang.
Jangan mudah-mudah untuk mengubah apa-apa yang telah dirumuskan. Apa mungkin nilai-nilai pondok berubah?
Mungkin sekali! Di zaman hidupnya Trimurti beberapa oknum orang berusaha mengubah nilai-nilai itu.
Fanatiknya beberapa orang terhadap golongannya, suatu ketika ada oknum yang berusaha untuk mengarahkan IKPM kepada golongannya. Ada guru yang ingin mengubah sistem pelaksanaan ujian kelas enam. Dia mengatakan bahwa,
materi ujian kelas enam seharusnya materi kelas enam saja.
Tidak perlu menguji seluruh materi dari kelas satu hingga kelas enam. Sangat menguras waktu dan tenaga.
Apa yang ditugaskan oleh Pimpinan kepada kalian, kerjakan dengan sebaik mungkin, seinsyaf mungkin, seikhlas mungkin. Sehingga kalian mendapatkan suatu yang tidak terkira sebelumnya. Entah apapun itu. Insya Allah dengan nilai-nilai yang sudah ada dipondok ini, generasi penerus bukan hanya menjadi generasi penikmat
ataupun na’udzubillah sebagai generasi penghancur.
Bahkan pondok akan lebih maju lagi dan berkembang pesat, asalkan generasi yang akan datang tetap berpegang teguh kepada nilai-nilai yang sudah digariskan oleh pendiri pondok ini.
Gontor maju karena nilai-nilai yang ditanamkan Trimurti, terutama nilai-nilai keikhlasan. Gontor sampai seperti ini adalah karena jasa banyak orang, juga karena pola kebersamaan yang kuat.

















