Dalam reuni alumni Gontor tahun 2000 (La Viola) yang membahagiakan itu, kami diberi waktu menyampaikan tausiyah.
Dulu memang saya wali kelas sebagian dari mereka. Itu sekitar 25 tahun lalu (antara 1996-2000). Tapi saat ini kalau mereka masih menyebut saya ‘wakil kelas’, agak ada perasaan ‘bagaimana begitu’. Kelas apalagi?! Wong di antara mereka sudah banyak yang jauh melampaui ‘wali kelas’-nya dalam banyak bidang. Alhamdulillah…
Misalnya, dalam keilmuan, banyak yang sudah doktor di Inggris, Malaysia dan kampus-kampus ternama dalam negeri. Ada yang sudah mendirikan pesantren dengan santri ratusan di wilayah Cianjur, dll., mengelola lembaga pendidikan yang berkembang pesat, atau majelis ta’lim. Ada juga yang jadi perwira militer, diplomat, anggota dewan, baik DPR RI maupun DPRD, pemilik travel haji umrah, pelaku bisnis, wartawan, politisi, dll. Orpol dan ormas keagamaannya pun beragam macamnya, tidak tunggal. Dari NU, Muhammadiyah, Persis, Wahabi, dll. Ada yang PAN, PKS, Gerindra, Gelora, dll. Komplit, tidak homogen.
Kok bisa?! Padahal mereka selama 4 sampai 6 tahun dididik kiai yang sama, makan dengan beras yang sama, minum dengan air yg sama…??
Dibanding dengan pesantren-pesantren atau lembaga pendidikan lainnya, di Gontor, kami tidak mempelajari banyak ilmu pengetahuan. Ilmu-ilmu alat (nahwu, sharaf, balaghah) yang kami pelajari tidak secanggih pesantren lainnya. Kedalaman ilmu-ilmu di bidang fiqh, mantiq, tafsir, aqidah, bahasa Inggris, matematika, dll. kalah jauh dibanding lembaga pendidikan lainnya.
Namun di Gontor kami diberi kunci-kunci kesuksesan. Kami dilatih ikhlas, leadership, percaya diri, mandiri, berkompetisi yang terbingkai dalam semangat persaudaraan. Pendidikan intelektual, ruhiyah, jasmaniyah, keterampilan dan seni diberikan secara bersamaan. Pintar di bidang akademik dan intelektual saja, tapi tidak bisa memimpin, ujung-ujungnya hanya akan “dipakai” orang, jadi staf kh*sus; atau kh*sus staf.
Memiliki pengetahuan yang banyak tentang agama, tidak otomatis menjadi agamis! Sebaliknya, bisa memimpin saja, tapi tidak punya ilmu, ujung-ujungnya akan jadi ketua preman. Maka harus “tafaqqahu qabla an tusawwadu” (Pahamilah ilmu sebelum kamu ditokohkan/menjadi pemimpin. [Umar bin Khattab RA]).
Itulah mengapa alumni Gontor terasa ada di mana-mana, dengan kekhasannya yang unik. Meskipun sudah ditokohkan di ranahnya masing-masing, tapi kalau sudah reuni dan tajammu’, jangan tanya betapa serunya. Panggilan masa lalu pun bermunculan lagi, tidak peduli sekarang sudah jadi apa, hehe…
Lhaaa.. baru-baru ini viral potongan ceramah ‘si bapak’, katanya: “Pondok Gontor hampir 90% Wahabi”. Padahal kalau dia datang ke Gontor, pasti akan mendapati 100% Wahabi, 100% Muhammadiyah, 100% NU, 100% Persis, dll, tergantung si bapak mau beri stigma apa.. indikator pendukungnya ada semua kok, hehe..
Gontor tidak mendidik santri-santrinya menjadi manusia sektoral dan sektarian. Sebagaimana kalau cuma belajar fiqh saja, maka yang diurusi cuma mencari-cari pendapat ulama yang sejalan dengan maunya. Fiqh dipersempit sebagai alat justifikasi.
Sebaliknya, kalau tidak belajar fiqh, masalah halal-haram pun dibawa ke ranah aqidah. Yang mestinya makruh atau mubah, malah dianggap bid’ah yang sesat. Lupa ber-ukhuwwah. Di situlah pentingnya budaya tajammu’ (reuni) bagi alumni Gontor.
Menyaingi, boleh.
Menyayangi, harus! []


















