Kedua, disiplin mengajar. Jangan banyak selingan/pidato. Harus serius/tidak banyak bergurau. Harus menyelesaikan batas pelajaran yang telah ditentukan pada waktunya. Harus mengetahui batas pelajaran. Semua guru selalu siap mengajar sewaktu-waktu sehingga sekira ada kelas kosong agar segera dimasuki dan diajar. Jangan ada kelas kosong.
Ketiga, disiplin bahasa. Harus selalu menggunakan bahasa Arab atau Inggris secara demonstratif sebagai pendidikan dan pengajaran diri sendiri dan pendidikan dan pengajaran orang lain.
Keempat, disiplin pakaian dan rambut. Selalu berpakaian sopan. Selalu mempunyai rambut yang sopan dan terpelajar. Guru harus bisa menjadi contoh “digugu dan ditiru” dalam segala bidang. Maka harus selalu sopan dan mendidik kesopanan, lebih-lebih dalam kelas: jangan memakai kata-kata yang kurang sopan, jangan memakai tingkah laku yang kurang sopan, dan jangan memakai pakaian yang kurang sopan.
Guru Harus Selalu Meningkatkan Diri
Pertama, peningkatan ilmiah. Dengan membaca buku-buku maraji’ dan lain-lain. Dengan membaca majalah-majalah. Dengan membaca surat kabar. Dengan bertukar pikiran. Dengan membaca medan dan suasana dengan tetap iman lillahi ta’ala. Dengan aktif kuliah.
Kedua, peningkatan bahasa. Dengan mempraktikkan tertulis, lisan dan mendengar dan membaca. Masuk syu’batul lughah, sorogan dan ada beberapa guru yang diwajibkan kursus dan sorogan. Aktif dengan mengikuti dan mendorong perkembangan bahasa anak-anak.
Ketiga, peningkatan cara mengajar. Diadakan naqd setiap kamisan (minimal). Membaca buku-buku metodik (Tarbiyah wa Ta’lim dan cetak-cetakan lain di Pondok Modern Gontor). Mengerti tujuan pengajaran masing-masing mata pelajaran (umum maupun khusus).
Keempat, peningkatan dalam hal-hal lain. Kontrol kelas-kelas. Kontrol cara mengajar di kelas. Pengawasan belajar malam dan pagi. Pengontrolan dan pengawasan kegiatan anak-anak, dalam organisasi, dalam pramuka dan sebagainya. Penertiban jalannya pelajaran, dan lain sebagainya.
Semua hal yang tersebut di atas tidak lepas dari niat ibadah lillahi ta’ala, dengan niat bagaimana anak-anak dan guru-guru setiap saat ada kemajuan. Sebesar keinsafanmu sebesar itu pula keuntunganmu. Semua harus mempunyai niat untuk menabung amal. Pondok Modern didirikan dan dilestarikan memang untuk tempat beramal, bukan tempat untuk mencari kekayaan materiil. Jika ada yang ingin membanggakan tabungan amal kebaikan tiada tara nilai bandingannya, maka menabunglah amal sebanyak-banyaknya, demi masa, waktu yang terus merangkak. Sungguh manusia akan merugi kecuali orang-orang yang tetap beriman, beramal shalih, saling ingat-mengingatkan dalam kebenaran dan kesabaran.
Adapun Mengenai Jadwal
Pertama, lebih dahulu diterima apa adanya dan dijalankan. Kedua, kalau ada tabrakan segera melapor ke kantor. Ketiga, jangan mengadakan perubahan jadwal sendiri.
Keempat, masing-masing guru hanya mendapat bagian sedikit dengan maksud: persiapan mengajar lebih masak dan mendalam, koreksi lebih banyak (koreksi insya’, tamrinat, berhitung, aljabar, imla’, ilmu ukur, ilmu alam, mahfudzat dan sebagainya), belajar dengan baik dan banyak, bisa berkhidmat kepada Pondok dengan sebaik-baiknya.
* Ditulis ulang dari pidato KH Imam Zarkasyi pada “Stabilisasi Pendidikan dan Pengajaran Tahun Ajaran: 1401–1402”, Gontor, 15 September 1981.





















