Sering guru-guru, lebih-lebih guru-guru sekolah negeri, sudah dibayar, tapi mengajar seenaknya. Tidak apa-apa muridnya tidak mengerti, salah sendiri katanya. Tanggung jawab kepada masyarakat, kepada orangtuanya tidak ada. Padahal, mengurusi pendidikan itu tidak bisa seenaknya, cari mudahnya, maunya jadi mandor.
Sesudah itu pun masih perlu tawasau “saling mengingatkan”. Mau diingatkan dan mau mengingatkan. Bilhaq yang betul bagaimana? Yang haq itu yang bagaimana? Sesudah itu watawasau bish-shabri. Ini memang berat, tetapi barang yang berat itu kalau disengaja, diniati, seperti orang bermain sepak bola, kalau sudah diniati senang. Kalau dilarang, ya merasa jadi hukuman. Padahal, capek-nya bukan main. Sampai ada yang kakinya patah tidak apa-apa. Tapi karena niat, kalau ada niat, itu ringan.
Kalau dalam syair-syair itu digambarkan sebagai orang yang senang kepada kekasihnya. Itu biasanya tidak memandang berat ringannya, apa pun yang akan saya lalui karena sudah senang. Seperti guru, senangnya itu kalau mengajar, bukan kalau menerima bayaran. Tidak. Tidak! Senangnya mengajar. Memimpin pondok begitu juga. Karena itu, saya katakan kepada Syukri (KH Abdullah Syukri Zarkasyi—red), banyak yang memimpin tok atau paling dipanggil orang sebagai kiai.
Mungkin dari keterangan-keterangan saya nanti ada yang mendapat, ya di dalam makan, di tengah-tengah makan kiranya ada lomboknya, ada cabainya. Saya nanti mungkin akan menyampaikan dalam satu dua hari ini, ketika mendengarkan pidato saya seperti kita tengah makan, tahu-tahu atau tiba-tiba di dalam ada lomboknya, ceplus! Ya rasakan begitu saja. Itu kami sengaja masangi lombok, ya tidak.
Ini yang perlu kami sampaikan kepada anak-anakku sekalian. Alhamdulillah, saya bisa menyampaikan ini, sudah sangat bersyukur. Kemudian saya ulangi sekali lagi, mari kita membesarkan hati kita, menguatkan hati kita, untuk perjuangan yang akan datang. Bahwa kedudukan orang dalam pondok pesantren yang mengajarkan agama atau tafaqquh fiddin itu tidak rendah.
Kata-kata tidak rendah ini karena saya khawatir kalau mengajar di sekolah ibtidaiyah atau tsanawiyah kelihatannya atau sajake kok kurang keren, kurang dihargai orang. Kalau sekolahnya itu sudah bernama SMP atau SMA, ujian negeri itu lulus, lantas dihargai. Ini intinya supaya dimengerti. Itu ukuran yang tidak benar.
Kemudian hal lain, KMI kita ini semua sudah tahu sejarahnya. Pondok Modern tahun 1926 itu, Pak Sahal betul-betul merintis, babat, mengislamkan anak-anak kampung, mulai betul-betul dengan modernisasi dalam segi metode. Itu banyak: ya metode pendidikan, metode pengajaran, yang sama-sama kita ketahui hasilnya bagaimana.
KMI dulu malahan lima tahun, itu pun yang pulang ke masyarakat tidak mengecewakan. Yang di Kalimantan banyak, di Jawa banyak, lebih-lebih sesudah disamakan enam tahun. Itu yang langsung pulang ke masyarakat, sudah bisa dikatakan orang siap pakai. Nah, akhir-akhir ini saya ditegur Bapak Letnan Jenderal Sudirman, “Eh, bagaimana Gontor ini. Dulu lima enam tahun siap pakai, kok sekarang tidak begitu?”
Apa yang saya jawab? Ya, karena anak-anak banyak yang meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi: ke IAIN dan sebagainya. Tapi orang yang meneruskan itu, Alhamdulillah tidak mengecewakan. Dari lulus KMI Gontor saja, tanpa harus melalui yang lain, sudah bisa meneruskan ke mana-mana. Ada yang ke luar negeri, di Mesir seperti Ustadz Subakir (KH Imam Subakir Ahmad—red), Ustadz Ghufron, dan kawan-kawannya. Itu semua saya anggap, Alhamdulillah dengan modal KMI tidak mengecewakan. []





















