Ponorogo, Gontornews — Universitas Darussalam Gontor (UNIDA Gontor) mengukuhkan Syamsuddin Arif sebagai Guru Besar Filsafat Islam Abad Pertangahan. Rektor UNIDA Gontor, Prof Dr Hamid Fahmy Zarkasyi MA MPhil, secara khusus mengakui ‘bakat’ Syamsuddin Arif dalam mempelajari bahasa, khususnya kemampuan untuk memahami bahasa Latin.
“Dia ini orang yang luar biasa. Dia mudah belajar bahasa. Dia hanya membutuhkan satu semester saja untuk mempelajari bahasa Latin. Nilainya bagus sekali,” ungkap Prof Hamid saat memberikan pidato rektor saat menghadiri Rapat Senat Terbuka dalam rangka Pengukuhan Guru Besar UNIDA Gontor, Ahad (27/9/2026).
“Dia murid dari (Profesor) Paul Lettinck, seorang Belanda pengajar logika. Beliau juga menguasai betul (ilmu) logikanya,” sambungnya mengenang pengalaman belajar di International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC-IIUM) bersama Syamsuddin Arif.
Prof Hamid menambahkan, Syamsuddin juga menghasilkan sejumlah karya tulis yang ia kerjakan secara mandiri tanpa join research. “Tulisannya terbit bukan di jurnal sekelas Sinta tapi Scopus luar negeri. Bahasa Inggris beliau bagus sekali,” jelas Prof Hamid.
Selain Syamsuddin, UNIDA Gontor juga mengukuhkan tiga guru besar lain, yaitu: Prof Dr Sujiat Zubaidi Saleh MA sebagai Guru Besar bidang Ulumul Qur’an, Prof Dr Nur Hadi Ihsan MIRKH sebagai Guru Besar Ilmu Tasawuf, dan Prof Dr Akhmad Affandi Mahfudz MEc sebagai Guru Besar Ekonomi dan Keuangan Islam.
Prof Hamid melanjutkan, pengukuhan guru besar di lingkungan UNIDA Gontor merupakan bagian dari penguatan tradisi keilmuan alih-alih sekedar pencapaian administrasi akademik semata. Pengukuhan ini pula juga berfungsi sebagai pondasi pengembangan pendidikan dan penelitian di lingkungan UNIDA Gontor di masa mendatang.
Salah satu hal menarik dalam pengukuhan guru besar UNIDA Gontor yaitu bahwa keempat guru besar tersebut berlatar belakang lulusan Kulliyyatul Mu’allimin Al-Islamiyah Pondok Modern Darussalam Gontor (KMI Gontor).
“Empat-empatnya ini alumni KMI Pondok Modern Gontor,” ungkap Prof Hamid.
Profil Syamsuddin Arif
Dalam prosesi pengukuhan Guru Besar, Syamsuddin Arif menyampaikan pidato berjudul: On Islamic Philosopy, Mind (‘Aql), and Question of Originality. Pidatonya tersebut secara khusus membahas tentang konsep akal dan persoalan orisinalitas dalam tradisi filsafat Islam.
Pria kelahiran Jakarta, 19 Agustus 1971, ini merupakan alumnus PMDG 1989. Usai menyelesaikan studinya di Gontor, Syamsuddin lantas melanjutkan pendidikannya di Darul Huffadh Tuju-tuju Bone Sulawesi Selatan pimpinan KH Lanre Said. Dari Bone, ia melanjutkan studi di International Islamic University Malaysia (IIUM) hingga memperoleh gelar Doktor (S3) di ISTAC Malaysia.
Syamsuddin juga tercatat pernah mengikuti kajian di Orientalisches Seminar, Johann Wolfgang Goethe-Universität Frankfurt, Jerman. Pengalaman tersebut mempertemukan dirinya dengan tradisi kajian Timur dan Barat, sekaligus memperluas perspektifnya dalam membaca sejarah pemikiran Islam.
Sementara karier akademiknya juga berkembang di sejumlah institusi, mulai dari IIUM Malaysia hingga menjadi Associate Professor di Centre for Advanced Studies of Islam, Science and Civilization (CASIS), Universiti Teknologi Malaysia. Dia juga pernah menjadi Visiting Research Fellow di Oxford Centre for Islamic Studies, Inggris dan menjadi Executive Director INSISTS Jakarta. [Mohamad Deny Irawan]





















