Berbicara tentang perguruan tinggi pesantren bisa melahirkan beberapa pertanyaan: Apakah perguruan tinggi yang memiliki pesantren? Ataukah pesantren yang memiliki perguruan tinggi? Menurut saya, kedua pertanyaan itu belum menyentuh persoalan mendasar. Pertanyaan yang lebih penting: Mungkinkah dibangun sistem perguruan tinggi pesantren?
Pertanyaan pertama melahirkan model administratif. Perguruan tinggi mendirikan pesantren sebagai unit pembinaan mahasiswa sehingga ruh lembaganya tetap perguruan tinggi. Pertanyaan kedua melahirkan model kelembagaan. Pesan tren mendirikan perguruan tinggi sebagai perluasan misi kaderisasi ulama dan profesional sehingga budaya akademiknya tumbuh dari tradisi pesantren. Kedua model ini memiliki kontribusi penting, tetapi belum menjawab persoalan paradigma.
Perguruan tinggi pesantren tidak cukup ditentukan oleh siapa yang memiliki siapa. Yang membedakannya bukan bangunan, asrama, seragam, atau kitab yang digunakan, melainkan sistem pendidikan yang melandasinya. Pesantren pada hakikatnya merupakan sistem pembentukan manusia melalui integrasi ilmu, adab, pembiasaan, dan keteladanan dalam kehidupan sehari-hari. Karena itu, perguruan tinggi baru layak disebut berparadigma pesantren apabila nilai-nilai tersebut menjadi sistem penyelenggaraan pendidikan, bukan sekadar pelengkap institusi.
Atas dasar itu, saya mengusulkan istilah “Sistem Perguruan Tinggi Pesantren” sebagai paradigma baru pendidikan tinggi. Fokus kajiannya bukan lagi institusi, melainkan sistem yang menggerakkan seluruh proses pendidikan. Sistem tersebut mencakup paradigma keilmuan, misi pembentukan manusia, budaya akademik, pola komunikasi antara dosen, mahasiswa, pengasuh, alumni, dan orang tua, pola pembinaan yang berlangsung sepanjang kehidupan kampus, serta ukuran keberhasilan yang tidak berhenti pada output lulusan, tetapi berlanjut hingga outcome dan dampaknya bagi masyarakat.
Dengan perspektif sistem, unsur-unsur seperti asrama, masjid, kitab, atau berbagai tradisi kepesantrenan dipahami sebagai bagian dari instrumen pendidikan, bukan tujuan itu sendiri. Yang menjadi perhatian, bagaimana seluruh komponen tersebut bekerja secara terpadu membentuk karakter, kompetensi, dan kepemimpinan lulusan.
Pendekatan sistem juga membuka peluang yang lebih luas. Perguruan tinggi negeri, swasta, maupun internasional tidak harus berubah menjadi pesantren secara kelembagaan untuk mengadopsi nilai-nilai kepesantrenan. Mereka cukup mengadaptasi sistem yang terbukti efektif membangun budaya akademik sekaligus karakter. Sebagaimana dunia mengenal sistem pendidikan Finlandia tanpa harus menjadi sekolah di Finlandia, demikian pula Sistem Perguruan Tinggi Pesantren dapat menjadi model pendidikan tinggi yang dipelajari, dikembangkan, dan diterapkan secara lebih luas.
Dengan demikian, masa depan perguruan tinggi pesantren tidak lagi ditentukan oleh bentuk institusinya, melainkan oleh kekuatan sistem yang melahirkan ilmu, adab, dan kebermanfaatan secara utuh. Jadi, Perguruan Tinggi Pesantren bukanlah nama sebuah institusi, melainkan nama sebuah sistem.
Sejalan dengan kesuksesan Gontor dalam membangun sistem pesantrennya, terutama untuk pendidikan level menengah, maka UNDA Gontor level di atasnya diharapkan dapat membentuk sistem perguruan tinggi pesantren. Mungkin dengan modal sistem pesantren yang dimiliki tidak begitu sulit, sisanya tinggal penyelarasan budaya pesantren dan budaya akademik untuk mengurai subsistem di bawahnya sehingga terbebas dari “universitas rasa boarding school.”
Pada akhirnya kita bisa menyaksikan mahasiswa yang berkelompok berdis ku si tentang persoalan tertentu, buku tertentu, sesuai minat pengembangan kelompok masing-masing. Kelompok yang tumbuh sendiri dari mahasiswa, dengan memohon bimbingan dari do sen tertentu. Sebagaimana kita juga menyaksikan pola Orientasi Pengenalan Kampus yang lebih konstruktif dan membedakannya dengan kegiatan yang sama di kampus-kampus lain. Terbentuknya kelompok-kelompok peminatan dan profesi serta keilmuan mahasiswa bukan karena pendekatan kegiatan wajib kampus, melainkan karena mental dan semangat pencarian. []




















