Bogor, Gontornews – Dosen Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta dan Institut Agama Islam (IAI) Sahid Bogor berkolaborasi menggelar kegiatan pengabdian kepada masyarakat (PKM). Kegiatan berlangsung di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al Amin, Desa Cibening, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor.
Program PKM ini sebagai upaya meningkatkan kompetensi guru sekolah dasar (SD) dan madrasah ibtidaiyah (MI) dalam memanfaatkan aplikasi Doratoon sebagai media pembuatan video pembelajaran digital berbasis kearifan lokal.
Dr Hana Lestari dari UIN Jakarta menyebutkan, kegiatan ini dirancang untuk memperkuat kapasitas teknis sekaligus pedagogis guru, sehingga mereka tidak hanya mampu mengoperasikan fitur-fitur aplikasi seperti pengaturan karakter, penambahan teks dan audio, serta pengelolaan antarmuka, tetapi juga mampu menyusun storyboard, merumuskan tujuan pembelajaran, serta mengintegrasikan nilai-nilai budaya lokal ke dalam materi ajar.
“Pendekatan yang digunakan menempatkan guru sebagai subjek aktif pembelajaran, sehingga keterampilan teknis yang diperoleh langsung terhubung dengan praktik pengajaran yang kontekstual dan berorientasi pada penguatan karakter siswa,” ujarnya.
Pelaksanaan program mengikuti lima tahapan service-learning, yaitu pra-investigasi, investigasi, persiapan, tindakan, dan refleksi. Pada tahap pra-investigasi, tim pelaksana yang terdiri dari dosen dan mahasiswa melakukan identifikasi kesiapan sumber daya manusia, pembagian tugas, serta pembekalan mahasiswa sebagai fasilitator lapangan.
“Mahasiswa mendapatkan pelatihan mengenai konsep service learning, etika pendampingan, teknik komunikasi edukatif, serta praktik penggunaan Doratoon agar siap mendampingi guru secara teknis dan pedagogis,” lanjut Hana.
Sementara itu dari sisi mitra, sekolah menyampaikan kebutuhan pelatihan media digital yang mudah digunakan dan langsung dapat diterapkan dalam pembelajaran sehari-hari.
Ia menuturkan, tahap investigasi dilakukan melalui penyebaran kuesioner dan wawancara mendalam kepada guru-guru mitra di Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor. Hasil analisis menunjukkan bahwa sekitar 60% guru belum terbiasa menggunakan media video animasi dalam pembelajaran dan sekitar 70% masih mengandalkan metode ceramah serta bahan ajar cetak. Integrasi kearifan lokal dalam media pembelajaran digital juga masih terbatas.
Selain itu, guru menghadapi kendala berupa keterbatasan akses internet, perangkat keras, serta minimnya pelatihan terstruktur. Temuan ini menegaskan pentingnya intervensi berupa workshop bertahap yang dilengkapi modul praktis dan pendampingan intensif.
“Pada tahap persiapan, tim menyusun modul pelatihan berbasis learning by doing yang memuat panduan langkah demi langkah penggunaan Doratoon, penyusunan storyboard, integrasi muatan budaya lokal, serta panduan troubleshooting. Modul dilengkapi contoh visual dan template video agar guru lebih mudah mengembangkan konten,” papar Hana.
Selain itu, disusun rubrik penilaian yang mencakup aspek teknis, estetika, pedagogis, dan integrasi kearifan lokal untuk memastikan kualitas produk yang dihasilkan. Koordinasi logistik dilakukan bersama Kelompok Kerja Guru (KKG) dan Kelompok Kerja Madrasah Ibtidaiyah (KKMI) guna mengatur jadwal, tempat, fasilitas, serta mekanisme pendampingan lanjutan.
Hana mengatakan, tahap tindakan diwujudkan dalam pelaksanaan workshop yang terdiri atas tiga sesi utama. Sesi pertama berfokus pada pengenalan aplikasi dan penguasaan fitur dasar Doratoon. Sesi kedua menekankan integrasi kearifan lokal Pamijahan, di mana guru menggali cerita rakyat, adat istiadat, dan praktik sosial setempat untuk dituangkan dalam storyboard dan video animasi. Sesi ketiga mengembangkan keterampilan teknis lanjutan seperti pengaturan durasi scene, sinkronisasi audio, serta penggunaan transisi dan efek visual.
“Hasilnya, guru menunjukkan peningkatan signifikan dalam kemampuan teknis dan kreativitas. Produk video yang dihasilkan menampilkan unsur budaya lokal seperti pakaian adat Sunda, rumah tradisional, serta aktivitas masyarakat setempat, sehingga media pembelajaran menjadi lebih kontekstual dan bermakna bagi siswa,” sambung Dosen IAI Sahid Bogor, Dr Ima Rahmawati.

Ia menuturkan, program yang berlangsung pada 31 Oktober 2025 itu memberikan dampak positif dalam meningkatkan literasi digital guru sekaligus memperkuat identitas budaya dalam pembelajaran. Kolaborasi antara perguruan tinggi, sekolah mitra, serta jejaring profesional seperti KKG dan KKMI menjadi fondasi penting dalam memastikan keberlanjutan program.
“Melalui kegiatan ini, guru tidak hanya menjadi peserta pelatihan, tetapi juga agen inovasi yang mampu memadukan teknologi dan kearifan lokal untuk menghadirkan pembelajaran yang menarik, relevan, dan berakar pada budaya bangsa,” ujar Ima. []


















