Bogor, Gontornews — Suasana penuh semangat dan keceriaan mewarnai kegiatan Qurban untuk Pendidikan di SDIT Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, Kamis (28/5/2026). Mengusung tema “Iman yang Kuat Perlu Pengurbanan dan Kepatuhan”, kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran kontekstual bagi siswa untuk memahami makna ibadah kurban sekaligus mengenal ilmu pengetahuan tentang hewan kurban secara langsung.
Sejak pagi, para siswa tampak antusias mengikuti rangkaian kegiatan edukatif yang dikemas secara menarik dan menyenangkan. Tidak hanya memahami nilai spiritual dalam ibadah kurban, siswa juga mendapatkan pembelajaran tentang anatomi hewan, khususnya organ-organ bagian dalam hewan kurban beserta nama dan fungsinya.
Dalam sesi pembelajaran, guru menjelaskan secara langsung bagian-bagian organ dalam hewan kurban agar siswa memperoleh pengalaman belajar nyata yang terintegrasi antara pendidikan agama dan sains. Dengan bahasa sederhana dan interaktif, guru mengenalkan berbagai organ penting pada hewan.
“Anak-anak dikenalkan organ-organ dalam hewan seperti jantung yang berfungsi memompa darah ke seluruh tubuh, paru-paru sebagai alat pernapasan, hati untuk menetralisir racun dan membantu metabolisme, lambung untuk mencerna makanan, serta usus yang berfungsi menyerap sari makanan,” jelas Ustadz Sirojuddin S.Kom, guru kelas 6.
Selain itu, siswa juga diajak memahami fungsi ginjal sebagai penyaring zat sisa dalam tubuh serta mengenal bagian organ lainnya melalui pengamatan langsung yang dipandu guru. Pembelajaran ini disambut rasa ingin tahu tinggi dari para siswa yang aktif bertanya dan memperhatikan penjelasan.
Kepala SDIT Insantama Leuwiliang, Ade Mahfudin SPdI, menyampaikan bahwa kegiatan Qurban untuk Pendidikan dirancang sebagai pembelajaran bermakna yang menghubungkan nilai keislaman dengan ilmu pengetahuan dan pembentukan karakter.
“Tahun ini kami mengangkat tema ‘Iman yang Kuat Perlu Pengurbanan dan Kepatuhan’. Anak-anak belajar bahwa keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi perlu diwujudkan dalam kepatuhan kepada Allah dan kesediaan berkurban, sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail,” paparnya.
Keceriaan siswa semakin terasa ketika memasuki sesi kebersamaan setelah pembelajaran. Anak-anak dengan penuh gembira mengikuti kegiatan membakar sate bersama. Dengan didampingi guru, mereka menikmati proses memanggang sate dari daging kurban, kemudian menyantapnya ramai-ramai dalam suasana hangat, penuh kebersamaan, dan kekeluargaan.
Canda tawa anak-anak dan wajah ceria tampak menghiasi kegiatan tersebut. Momen makan bersama menjadi bagian yang paling ditunggu siswa karena selain menyenangkan, juga mempererat ukhuwah antarteman dan guru.

Melalui kegiatan ini, SDIT Insantama Leuwiliang berharap peserta didik tidak hanya memahami makna ibadah kurban secara teori, tetapi juga merasakan pengalaman belajar langsung yang membentuk karakter religius, rasa syukur, kepatuhan, kepedulian sosial, dan semangat kebersamaan.
Kegiatan Qurban untuk Pendidikan tahun ini pun menjadi pengalaman berkesan bagi siswa—belajar tentang iman, mengenal ciptaan Allah melalui sains, sekaligus menikmati kebahagiaan sederhana bersama teman-teman. Alhamdulillah. []


















