Bogor, Gontornews — Puluhan santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Tahfizh Al-Bayan Lebak Jaya, Tamansari, Kabupaten Bogor, dengan penuh keceriaan mengikuti Kajian Motivasi Santri 2026. Kegiatan ini pun sukses menghadirkan seorang tokoh dai lintas negara, Ustadz H Mahir Mohamad Soleh Lc MA.
Mengangkat tema “Dari Santri untuk Dunia; Ilmu, Iman, Amal, dan Dakwah”, acara yang bertempat di Ponpes Tahfizh Al-Bayan tersebut dilaksanakan pada Kamis (16/7/2026) sekitar pukul 19.30 WIB. Tema itu diangkat mengingat besarnya peran para santri saat ini yang dengan ketaatan, ilmu, dan ketekunannya, kelak akan melahirkan para pemimpin dunia, pemimpin peradaban di masa depan.
Dalam paparannya, sang ustadz menegaskan bahwa siapa bilang santri tidak bisa mendunia? Siapa bilang santri tidak bisa mengelilingi berbagai belahan dunia? Sebab bisa jadi, dari ruang-ruang kelas pesantren inilah lahir para ulama, akademisi, diplomat, dai internasional, peneliti, pemimpin, dan tokoh-tokoh yang akan membawa cahaya Islam ke berbagai penjuru dunia.
Ustadz Mahir, Anggota Pokja Luar Negeri Komisi Dakwah Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu pun menekankan agar santri tidak pernah membatasi cita-cita hanya karena keadaan hari ini. Boleh jadi hari ini kita masih tinggal di pondok pesantren. Setiap hari mengaji, menghafal al-Qur’an, mempelajari kitab-kitab ulama, bangun sebelum subuh, hidup sederhana, dan terus menuntut ilmu. “Namun siapa yang tahu takdir Allah di masa depan?” ungkapnya.
Di hadapan para santri ia juga menjelaskan bahwa cita-cita tidak cukup hanya dengan angan-angan. Setelah Allah menganugerahkan kepada kita al-Qur’an sebagai pedoman hidup, jangan sampai kita lengah! Jangan pula pasrah tanpa usaha! Islam mengajarkan tawakal setelah ikhtiar.
Teruslah belajar! Teruslah meningkatkan kapasitas diri! Bekalilah diri dengan berbagai ilmu pengetahuan! Terutama kuasailah bahasa asing, khususnya Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
“Bahasa Arab akan membuka pintu khazanah keilmuan Islam yang begitu luas, sedangkan Bahasa Inggris akan membuka akses komunikasi dengan dunia internasional,” ujar alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor tahun 2001 tersebut.
Hari ini mungkin kita masih terbata-bata berbicara. Mungkin masih banyak salah dalam mengucapkan kosakata. Tidak apa-apa. “Jangan malu! Jangan gengsi! Orang yang tidak pernah salah biasanya adalah orang yang tidak pernah mencoba,” pesan Ustadz Mahir.
Urutan keberhasilan bukanlah benar terlebih dahulu, tetapi berani belajar terlebih dahulu. Kesalahan adalah bagian dari proses menuju kemampuan.
Malu itu ada tempatnya. Malulah ketika berbuat maksiat. Malulah ketika meninggalkan shalat. Tetapi untuk belajar, bertanya, mencoba berbicara dalam bahasa asing, menyampaikan pendapat, dan meningkatkan kapasitas keilmuan, tidak ada istilah malu.
Kepada Gontornews.com ia juga menyampaikan, “Beranilah mencoba! Beranilah gagal! Beranilah bangkit kembali!” Alhamdulillah, sambungnya, semua yang saya alami hanyalah karunia Allah SWT. Saya menyampaikan ini bukan untuk berbangga diri, tetapi sebagai tahadduts bin ni’mah, menceritakan nikmat Allah agar menjadi motivasi bagi para santri.
Dengan izin Allah, Ustadz Maher melanjutkan, bahwa dirinya telah diberi kesempatan melakukan safari peradaban ke beberapa negara, di antaranya Jordania, Palestina (Jalur Gaza), Uni Emirat Arab (Dubai dan Abu Dhabi), Malaysia (Kuala Lumpur), Turki (Istanbul), Tiongkok (Beijing dan Hong Kong), Australia (Sydney), serta Thailand (Bangkok).
Perjalanan-perjalanan tersebut mengajarkan satu pelajaran penting yakni Islam itu mendunia dan dakwah membutuhkan orang-orang yang siap berinteraksi dengan berbagai bangsa, budaya, dan peradaban.
“Mengapa saya sering berbicara tentang dunia?” tanya sang ustadz. Karena, tambahnya, saya ingin para santri memiliki wawasan global. Saya ingin santri mengenal dunia luar. Jangan sampai kita menjadi seperti katak dalam tempurung, merasa paling hebat hanya di lingkungan sendiri, tetapi tidak mengenal perkembangan dunia.
Santri harus memiliki cara pandang yang luas. Harus memiliki jaringan persahabatan lintas negara. Harus mampu berdialog dengan berbagai kalangan tanpa kehilangan jati diri sebagai muslim dan sebagai santri. Semakin luas pergaulan, semakin luas pula peluang dakwah dan pengabdian kepada umat.
“Jangan pernah meremehkan mimpi yang disertai doa dan usaha! Jalan hidup seseorang sering kali jauh lebih indah daripada yang pernah ia rencanakan,” tutup Sarjana Hadits di Fakultas Ushuluddin, Universitas Al-Azhar Cabang Zagazig, Mesir tersebut.
Ponpes Tahfizh Al-Bayan ialah lembaga pendidikan dan pembinaan Islam yang tumbuh dari semangat dakwah, pendidikan al-Qur’an, dan pelayanan sosial kepada masyarakat. Sebagai lembaga yang berorientasi pada pelayanan umat, Pondok Tahfizh Al-Bayan menerapkan konsep pondok berbasis sosial.
Berkat semangat perjuangan para guru, hingga saat ini jumlah santri yang dibina sudah mencapai sekitar 100 orang. Sedangkan untuk para santri dan santriwati yang berasal dari kalangan yatim, piatu, yatim piatu, serta dhuafa mendapatkan fasilitas pendidikan dan pembinaan tanpa dikenakan biaya apa pun. [Edithya Miranti]






















