Bogor, Gontornews — Dalam upaya melatih dan membentuk karakter siswa agar memiliki disiplin yang tinggi, tanggung jawab, ketangguhan, serta daya juang yang tinggi, Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Insantama Leuwiliang, Kabupaten Bogor, menggelar kegiatan latihan Peraturan Baris-Berbaris (PBB) bersama anggota TNI.
Pada kesempatan kali ini, Rabu (2/9/2026), SDIT Insantama Leuwiliang menghadirkan Pelda Jumadi Antoro sebagai instruktur latihan. Dengan mengenakan seragam TNI lengkap dan tampil penuh ketegasan, Pelda Antoro langsung mengambil posisi sebagai pelatih dan memberikan arahan kepada para siswa. Tentu saja ini memberikan pengalaman tersendiri bagi para siswa.
Suasana lapangan pun seketika berubah. Ratusan siswa yang sebelumnya dipenuhi keceriaan harus mengubah sikap menjadi lebih serius. Mata tertuju kepada instruktur. Telinga menyimak setiap aba-aba, dan tubuh bersiap mengikuti setiap gerakan.
“Siap!”
Suara lantang para siswa menggema di lapangan ketika mengikuti aba-aba. Mulai dari sikap sempurna, penghormatan, hadap kanan, hadap kiri, balik kanan, hingga gerakan berjalan dan berhenti dilakukan secara bersama-sama.
Bagi para siswa, PBB bukan sekadar belajar bagaimana berdiri tegak dan bergerak serempak. Lebih dari itu, latihan ini menjadi sarana untuk belajar mematuhi aturan, mendengarkan instruksi, menghargai waktu, mengendalikan diri, serta bertanggung jawab terhadap tugas yang diberikan.
Setiap gerakan memiliki makna. Ketika seorang siswa belajar berdiri dalam sikap sempurna, ia sedang belajar tentang kesiapan. Ketika mereka harus bergerak secara serentak, mereka belajar bahwa keberhasilan sebuah kelompok membutuhkan kerjasama dan kepedulian terhadap orang lain.
Di tengah latihan yang penuh ketegasan itu, Pelda Antoro menyampaikan bahwa PBB bukan sekadar latihan baris-berbaris. Ada pelajaran karakter yang jauh lebih besar di balik setiap aba-aba dan gerakan.
“Latihan PBB itu akan melatih kita dalam tiga hal. Pertama, melatih disiplin. Kedua, belajar bertindak tegas. Dan yang ketiga, belajar kompak atau kerjasama,” tutur Pelda Antoro saat melatih siswa kepanduan SDIT Insantama Leuwiliang. 
Pertama, disiplin.
Di lapangan, para siswa belajar bahwa disiplin dimulai dari hal-hal sederhana. Datang tepat waktu, memakai seragam dengan rapi, mengikuti instruksi, berdiri sesuai posisi, dan tidak bergerak sebelum mendapatkan aba-aba.
Satu orang bergerak lebih dulu, barisan bisa terlihat tidak rapi. Satu orang tidak memperhatikan instruksi, gerakan seluruh kelompok bisa menjadi tidak serempak.
Dari situlah para siswa belajar bahwa disiplin bukan sekadar aturan, tetapi kebiasaan untuk melakukan sesuatu dengan benar, tepat, dan bertanggung jawab.
Kedua, bertindak tegas.
“Hadap kanan!”
“Siap… grak!”
Para siswa bergerak cepat dan tegas. Tidak boleh ragu-ragu. Tidak boleh setengah-setengah.
Pelda Antoro mengajarkan bahwa ketegasan tidak berarti keras kepada orang lain. Ketegasan adalah kemampuan untuk mengambil sikap, berani menentukan pilihan, dan melaksanakan tugas dengan penuh keyakinan.
Gerakan demi gerakan terus dilakukan. Sesekali terdengar suara koreksi dari sang pelatih. Para siswa kembali memperbaiki posisi. Ada yang salah langkah, ada yang terlambat bergerak, ada pula yang kurang tepat dalam mengikuti aba-aba. Namun mereka kembali mencoba.
Tidak menyerah. Tidak mengeluh. Terus memperbaiki diri.
Ketiga, kompak dan bekerjasama.
Inilah salah satu hal yang paling terasa dari latihan PBB. Tidak mungkin sebuah barisan terlihat rapi jika setiap orang berjalan dengan sekehendaknya sendiri.
Ketika satu langkah dimulai, semua harus melangkah bersama. Ketika berhenti, semua harus berhenti pada saat yang sama. Ketika berbelok, seluruh barisan harus bergerak dalam irama yang sama.
Dari sini para siswa memahami satu pesan penting: “Kita tidak bisa hebat sendirian. Ada saatnya kita harus berjalan bersama, saling menyesuaikan, dan saling menguatkan.”
Suara langkah kaki pun terdengar semakin teratur.
Derap… derap… derap…
Barisan yang awalnya belum sempurna perlahan menjadi semakin kompak. Wajah-wajah siswa terlihat serius, tetapi di balik keseriusan itu terpancar semangat untuk menjadi lebih baik.
Pelda Antoro tidak hanya sedang melatih kaki mereka agar mampu melangkah dengan serempak. Ia sedang membantu menanamkan sesuatu yang jauh lebih penting.
Latihan PBB hari itu akhirnya menjadi lebih dari sekadar kegiatan kepanduan. Lapangan berubah menjadi ruang belajar tanpa papan tulis. Aba-aba menjadi pelajaran. Barisan menjadi media pembentukan karakter. Dan setiap langkah menjadi latihan untuk menghadapi kehidupan.
Karena dari langkah yang serempak hari ini, SDIT Insantama Leuwiliang sedang menyiapkan generasi yang disiplin, tegas, tangguh, dan mampu berjalan bersama menuju masa depan gemilang. [] Zaenal Mutakin























