Rhoma Irama pernah berkunjung ke Gontor saat saya sudah tidak lagi menjadi santri di sana. Tepatnya di tahun 1987. Sementara saya menyelesaikan masa mondok saya di tahun 1984. Jadi, saya kurang tahu seluk-beluk dan liku kehadiran beliau. Menurut beberapa informasi, Rhoma disambut antusias oleh segenap jajaran pesantren, mulai dari kiai hingga para santri. Wajar, sebab secara spiritual, βBang Hajiβ ini sesungguhnya sudah lama βhadirβ di Gontor.
Secara resmi, saya menjadi santri Gontor pada tahun 1978 hingga 1984. Pada masa itu, Rhoma Irama dan grupnya, Soneta, sedang bertransformasi dengan berbagai eksperimen yang mengaduk dangdut dengan elemen musik lain seperti rock, aliran musik yang sebenarnya sangat melekat dalam jiwa Bang Hajii. Secara spesifik Bang Haji banyak dipengaruhi grup musik cadas Led Zeppelin dan Deep Purple.
Tak sekadar transformasi musikal, pada saat itu Bang Haji juga mendeklarasikan Soneta sebagai βVoice of Moslemβ, yang ingin menjadikan musiknya sebagai ajang dakwah.
Pilihan itu sempat menuai kontroversi lantaran memasukkan ayat suci dan kalimat tauhid dalam nyanyian dangdut. Bagi Bang Haji, ini merupakan perjuangan tersendiri. Bukan semata persoalan dakwahnya, tetapi juga bagaimana meyakinkan bahwa musik dangdut layak dijadikan media dakwah.
Saat itu, musik dangdut identik dengan hal-hal yang miring dan negatif. Di tengah citra seperti itu, Rhoma Irama bersama Soneta justru mampu membangun warna baru dan bertahan berkarya hingga 20 tahun. Sebuah rentang waktu yang menembus batas psikologis untuk disebut legenda, yang umumnya hanya bertahan di kisaran 10 tahun.
Jika mampu melewati 15 tahun saja sudah bisa disebut legendaris, maka 20 tahun merupakan capaian luar biasa. Bahkan, bisa disebut sebagai superlegenda yang hingga kini belum terpecahkan rekornya.
Awal 1978 menjadi titik penting dalam masa transformasi Soneta, setelah album βBegadang 2β dinyatakan sebagai album terakhir Soneta versi lama. Transisi dangdut menjadi βsuara muslimβ ini ditandai dengan penggantian gitar Sang Raja, dari Fender Stratocaster ke gitar buntung (headless) warna hitam merek Steinberger.
Perubahan ini cukup mengubah visual dan penampilan, baik Bang Haji maupun Soneta secara keseluruhan, di atas panggung maupun pada sampul album.
Selain itu, Soneta menambahkan brass section atau kumpulan musik tiup yang terdiri dari saksofon, trombon, dan terompet untuk melengkapi seruling sebagai alat musik tiup yang lazim dalam musik dangdut.
Tak kalah penting perubahan di sektor perkusi, dengan penambahan remo pada kendang untuk membuat musik lebih dinamis, dengan fill-in yang lebih variatif. Kelak, remo ini juga menjadi standar bagi grup dangdut lainnya. Bahkan, Soneta juga menambahkan cymbal dan timpani pada lagu-lagu tertentu.
Soneta sudah bukan orkes Melayu biasa lagi. Ia menjelma menjadi orkes simfoni bergenre dangdut.
Di masa inilah kemudian lahir lagu-lagu legendaris dengan aransemen musik yang terasa megah dan mewah, menyuarakan ajakan pada kebaikan sekaligus kritik sosial yang tajam.
Tak pelak, di halaman rayon-rayon Pondok Gontor mengalun lagu-lagu Rhoma yang ditransmisikan lewat amplifier milik bagian penerangan OPPM.
Salah satunya yaitu βModernβ. Yang paling fenomenal tentu βQuran dan Koranβ, yang sarat kritik terhadap fenomena umat Islam saat itu yang seolah lebih mementingkan bahasa Inggris daripada bahasa Arab.
Masih banyak lagu lainnya, termasuk βAl-Ikhlasβ yang sempat menuai kontroversi karena didangdutkan. Terlepas dari itu semua, begitu fenomenalnya Rhoma hingga banyak orang menirukan gaya maupun suaranya.
Ada Asep Irama dan Marakarma. Jika Asep Irama tampil solo, Marakarma tampil lengkap dengan grupnya, bak Soneta. Dalam dunia musik, peniru seperti ini disebut impersonator. Biasanya, grup atau artis besar memang menjadi sasaran para impersonator.
Fenomena βPeniruβ Rhoma Irama di Gontor
Tak hanya dalam acara formal di panggung dengan menghadirkan orkes lengkap, acara semiformal seperti tasliyah muhadlarah pun menjadi ajang para impersonator. Di sinilah Rhoma hadir. Di setiap marhalah selalu ada Rhomanya. Di antara teman satu marhalah saya, ada beberapa yang menjadi impersonate Rhoma. Salah satunya almarhum Syakroni Zaini.
Suaranya cukup berat dengan vibrasi yang bagus, tetapi sayangnya power-nya kurang terasa. Karena itu, dia paling cocok menyanyikan lagu-lagu Rhoma di era sebelum transformasi, seperti βMalam Terakhirβ dan lain-lain.
Jika harus memakai suara keras dan menghentak seperti dalam lagu βJudiβ, rasanya kurang pas. Kritik terberat saya soal power ini, yang umumnya kurang menjadi perhatian para penyanyi di Gontor.
Selain Syakroni, yang ikut menjadi legenda βRhoma van Gontorβ, ada juga nama-nama yang cukup populer di panggung tasliyah muhadlarah, seperti Halimi dari Indramayu. Ia bahkan sempat dijuluki Halimi Irama. Ada juga Abduh dari Lampung yang membuat banyak mulahid tercengang.
Masih di marhalah saya, ada almarhum Zarkoni, konsul Pekalongan. Dia bukan penyanyi, tetapi gitaris yang menggawangi orkes dangdut marhalah.
Meski tidak mampu mengejar sound gitar Rhoma, permainannya boleh diacungi jempol. Maklum dengan gitar listrik buatan Solo. Meski sebenarnya sound gitar Rhoma itu tidak terlalu rumit. Konon hanya menggunakan efek treble booster dari Electro Harmonic. Selebihnya banyak mengulik efek dari amplifier.
Ada konsul saya (Bojonegoro) yang bukan penyanyi dan bukan musisi, tetapi menjadi rujukan Zarkoni soal βper-Sonetaanβ ini. Namanya Mahzun. Dulu dia wakil ketua konsul, tetapi sayangnya kemudian aladawam (pulang selamanya dari Gontor) lalu meninggal.
Keistimewaan Mahzun yaitu dia hafal semua lagu Rhoma dan Sonetanya, dari album pertama hingga album terakhir saat itu.
Bukan cuma hafal lirik, ia juga hafal seluruh musiknya, dari intro, pre-chorus, interlude, bridge, dan coda, hingga beat kendang dan bass line-nya secara detail. Bisa dibilang, dia merupakan Ensiklopedia Soneta.
Tiap sesi latihan, ia selalu hadir dan memberi arahan. Namun, perannya jarang terlihat, bahkan jarang yang tahu. Setiap marhalah punya Rhoma. Termasuk konsul saya juga. Syaik Abdillah yang menjadi kebanggaan marhalah 83.
βSiapa lagi βRhomaβ di marhalah antum semua? Ada yang bisa bercerita?β Begitulah kenangan tentang Rhoma dan Soneta di Gontor. Ia hadir dalam karya yang dijiwai oleh banyak santri Gontor.
Kini, puluhan tahun telah berlalu. Banyak nama mungkin sudah terlupakan, suara-suara itu tak lagi terdengar di halaman rayon, dan para pelakunya telah menjalani hidup masing-masing. Tetapi, setiap kali lagu Rhoma terdengar, kenangan tentang masa-masa itu seolah kembali hadir membawa kami pulang sejenak ke Gontor, ke masa ketika hidup terasa sederhana dan bahagia. Masa ketika sebuah gitar bolong, kotak di kamar serta piring seng mampu menghadirkan keceriaan ala Soneta. []






















