Bogor, Gontornews — Keseruan pembukaan Hari Kreativitas Siswa (HKS) SDIT Insantama Leuwiliang Kabupaten Bogor yang berlangsung pada Rabu (19/8/2026) makin memuncak ketika giliran para guru turun langsung ke arena perlombaan. Jika sejak awal para siswa menjadi pusat perhatian, kali ini sorotan mata 712 siswa beralih kepada para guru yang siap mempertaruhkan kecepatan, kelincahan, dan tentu sajaβ¦ harga diri tim!
Sebanyak 20 guru, terdiri atas 10 guru ikhwan dan 10 guru akhwat, telah terbagi ke dalam dua kubu: Tim Merah dan Tim Putih. Seketika suasana lapangan berubah.
Para siswa yang mengenakan syal merah mulai berdiri dan mengangkat tangan. βMERAH! MERAH! MERAH!β Teriakan mereka menggema dari satu sisi lapangan.
Tak mau kalah, dari sisi lainnya terdengar suara yang tidak kalah keras. βPUTIH! PUTIH! PUTIH!β
Dua kelompok suporter muda itu saling bersahutan. Lapangan futsal yang sebelumnya dipenuhi ketegangan perlombaan siswa kini berubah menjadi arena dukungan yang luar biasa meriah.
Di tengah arena, para guru sudah bersiap. Wajah mereka tampak serius. Namun, beberapa di antaranya mulai tersenyum ketika melihat rintangan yang telah disiapkan. Tiga rintangan menanti.Β Rintangan pertama: lari menggunakan karung.
Begitu aba-aba diberikan… βSIAP…!β Para peserta mengambil posisi.
βTIGA… DUA… SATU… MULAI!β
Serentak para guru melompat dengan karung yang membungkus kaki mereka.
βAyo Pak! Ayo!β
βMERAH! MERAH! MERAH!β
βPUTIH! PUTIH! PUTIH!β
Suara siswa semakin menggila.
Ada guru yang melompat cepat dan mantap. Ada pula yang baru beberapa lompatan sudah mulai kehilangan keseimbangan.
Satu lompatan…
Dua lompatan…
Tiga lompatan…
Dan…
BRUK!
Salah seorang guru kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh. Seketika seluruh lapangan meledak dalam tawa.
Namun belum sempat tertawa lama, para siswa kembali memberikan semangat.
βBangkit Pak! Bangkit! Masih bisa!β
Guru tersebut pun segera berdiri dan melanjutkan perlombaan.
Inilah HKS.
Bukan sekadar tentang siapa yang paling cepat. Tetapi tentang siapa yang tetap mau bangkit setelah terjatuh.
Begitu berhasil melewati rintangan pertama, peserta langsung menghadapi rintangan kedua: tiarap! Para guru harus merendahkan tubuh dan bergerak cepat melewati lintasan yang telah disiapkan.
βAyo Pak! Merunduk! Merunduk!β
Para siswa semakin bersemangat memberikan βarahanβ.
Guru-guru pun berusaha melewati rintangan tersebut secepat mungkin. Ada yang bergerak dengan lincah, ada yang tampak kesulitan mencari posisi yang tepat.
Suasana benar-benar pecah.
Tidak ada lagi jarak antara guru dan siswa. Mereka menjadi satu tim. Satu perjuangan. Satu semangat. Dan satu tujuan: memberikan yang terbaik untuk timnya.
Namun perjuangan belum selesai. Di depan mereka masih ada rintangan ketiga yang tak kalah mengundang gelak tawa: melingkarkan hula hoop ke badan!
Begitu sampai di rintangan terakhir, para guru harus mengambil hula hoop kemudian memasukkan badan mereka untuk melewatinya sebelum melanjutkan perjalanan menuju garis akhir.
βAyo Pak! Masukkan! Masukkan!β
Gelak tawa kembali memenuhi lapangan.
Ada yang berhasil melewati hula hoop dengan cepat. Ada pula yang harus berputar-putar mencari posisi agar seluruh tubuhnya berhasil melewati lingkaran tersebut.
Sementara itu, para siswa terus memberikan dukungan.
Syal merah berkibar di udara.
Syal putih pun tak mau kalah.
βMERAH! MERAH! MERAH!β
βPUTIH! PUTIH! PUTIH!β
Suara mereka bersahutan seperti gelombang yang tidak pernah berhenti.
Setiap kali seorang guru hampir terjatuh, para siswa berteriak memberikan semangat. Setiap kali seorang guru berhasil melewati rintangan, sorak-sorai langsung pecah.
Dan ketika peserta terakhir melewati garis finis…
WOOOOOOO…!
Lapangan pun bergemuruh.
Para siswa bersorak, tertawa, bertepuk tangan, dan mengangkat tangan tinggi-tinggi.
Hari itu, para guru tidak hanya menjadi pendamping kegiatan. Mereka turun langsung memberikan contoh bahwa berani mencoba, tidak takut gagal, mau bekerjasama, dan pantang menyerah merupakan bagian dari karakter seorang juara.
Menariknya, persaingan Merah dan Putih berlangsung begitu sengit, tetapi tidak sedikit pun menghilangkan ukhuwah. Ketika perlombaan selesai, tawa dan kebahagiaan kembali menyatukan semuanya.
Karena sejak awal, HKS bukanlah tentang menciptakan permusuhan. HKS adalah tentang belajar berkompetisi dengan sehat, bersaing dengan sportif, saling menyemangati, dan tetap menjaga persaudaraan. 
Para siswa belajar dari guru-guru mereka bahwa keberanian bukan berarti tidak pernah jatuh. Keberanian itu mau bangkit ketika jatuh dan mencoba kembali.
Mungkin hari itu ada yang menjadi pemenang. Mungkin ada yang harus menerima kekalahan. Tetapi sesungguhnya, seluruh peserta telah memenangkan sesuatu yang jauh lebih berharga: pengalaman, keberanian, kebersamaan, dan kenangan yang akan terus mereka ingat. [Zaenal Mutakin]





















