Penang, Gontornews – “Ini berkah untuk pondok, kita harus meresponnya dengan positif,” papar Pimpinan Pondok Pesantren Mawaridussalam Medan, Sumatera Utara, KH Syahid Marqum.
Menjawab Gontornews.com di sela-sela kunjungan empat hari Forum Pesantren Alumni (FPA) Gontor ke Malaysia, pekan lalu, ia mengatakan kesepakatan antara FPA dengan HPA Industries Malaysia itu harus segera direspon.
“Kemandirian pondok pesatren bisa melalui pembuatan produk-produk yang dibutuhkan oleh para santri,” ujarnya.
Ditemui di Bandara Penang, Malaysia, Kamis (12/4), Kiai Syahid Marqum mengatakan, pembuatan produk secara mandiri oleh pesantren bisa menjamin kehalalan sebuah produk.
Tak cuma itu, masalah kesehatan juga menjadi perhatian pondok pesantren di Indonesia. Karena itulah pihaknya sangat mendukung rencana menghadirkan klinik pengobatan a la Nabi (Tibbun Nabawi) oleh HPA di pondok pesantren.
“HPA sudah mempunyai teknologi dari hulu sampai hilir. In syaa Allah pesantren bisa menghasilkan produk-produk yang halaalan thayyiban.”
“Kalau bahan buku, teknologi dan sumberdaya manusianya sudah ada, mengapa kita tidak membuat produk halal sendiri? Mawaridussalam sangat merespon kerjasama ini,” ujarnya sesaat sebelum terbang ke Medan.
Seperti diberitakan Gontornews.com, FPA Gontor menjalin kerjasama dengan HPA Industries Malaysia dalam Program One Pesantren One Product. Menurut Ketua FPA Dr KH Zulkifli Muhadli, kerjasama FPA dengan HPA mencakup empat hal.
Pertama, mewujudkan One Pesantren One Product, dan ini dimulai dari transfer teknologi, baik di bidang teknologi pertanian, teknologi industri, teknologi pengolahan dan lainnya.
Kedua, mendirikan klinik pengobatan cara nabi atau klinik Tibbun Nabawi di setiap pesantren anggota FPA.
Ketiga, mendistribusikan produk-produk halal buatan pesantren itu agar bisa sampai ke umat. “Melalui kerjasama ini, kita akan mewujudkan satu pesantren satu halal mart. Kita menjamin semua barang yang tersedia di dalamnya itu halal,” ujar Kiai Zulkifli.
Keempat, melalui kerjasama ini diharapkan akan ada trasfer atau alih teknologi dari HPA kepada pesantren-pesantren di Indonesia, khususnya anggota FPA. [Rusdiono Mukri]


















