Banda Aceh, Gontornews – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan jika angin monsun dari Australia bergerak ke Indonesia, khususnya ke Aceh dalam sepekan terakhir ini.
Kepala Seksi Data dan Informasi BMKG Blang Bintang, Aceh, Zakaria Ahmad di Aceh Besar, Jumat (20/4) menjelaskan, angin timuran telah membawa massa udara kering Australia. Hal Ini, selaras dengan awal periode musim kemarau di Aceh.
“Sirkulasi angin regional saat ini sudah didominasi oleh angin monsun Benua Australia, dan mengarah hampir ke sebagian besar wilayah di Indonesia terutama bagian Selatan khatulistiwa,” jelasnya, Antara.
Zakaria melanjutkan, pada saat bersamaan masih terdapat di beberapa wilayah, terutama bagian Barat dan Selatan di Aceh yang tidak mengenal musim namun terdapat massa udara basah cukup lembap.
Kondisi cuaca seperti ini, katanya akan mendukung tumbuhnya awan-awan konvektif di sebagian wilayah di Aceh. Akibatnya, hujan bersifat sporadis atau ekstrem akan cenderung terjadi.
Monsun merupakan sistem sirkulasi regional dan memiliki variasi musiman. Angin di Indonesia dipengaruhi udara bertekanan tinggi, dan rendah di Asia dan Australia.
“Namun cuaca ini, tidak begitu berpengaruh bagi yang melakukan aktivitas laut, seperti nelayan. Mereka sudah tahu kapan waktu terbaik melaut,” kata Zakaria.
Sementara itu, Humas BMKG, Hary T Djatmiko mengatakan awal musim kemarau dimulai April 2018 yang terjadi di sebagian wilayah. Daerah pertama memasuki musim kemarau, adalah Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Bali.
Hary melanjutkan, puncak musim kemarau diperkirakan akan berlangsung di Agustus dan September 2018. Terjadinya musim kemarau di Indonesia tidak merata di semua wilayah, dan akan terus meluas hingga Oktober 2018 mendatang.
Menurutnya, saat awal musim kemarau, curah hujan hanya mencapai 150 milimeter per bulan dan akan terus mengalami penurunan, seiring terjadinya puncak musim kemarau.
Pada puncak musim kemarau yang terjadi di Agustus-September, curah hujan berkisar antara 20-0 milimeter per bulan atau bahkan sama sekali tidak ada hujan.
Meski demikian, BMKG memperkirakan bila musim kemarau di tahun ini tidak akan separah musim kemarau pada 2015. Sebab, di pertengahan 2018 iklim di Indonesia masih dipengaruhi La Nina lemah.
“Sehingga kemarau tahun ini berimplikasi positif pada tanaman palawija, dan tanaman semusim yang tidak teralu memerlukan banyak air,” katanya. Devi Lusianawati
Sumber fhoto BMKG


















