Jerussalem, Gontornews — Sehari setelah pemindahan kantor Kedutaan AS dari Tel Aviv ke Jerussalem, Puluhan ribu pemukim Yahudi, yang dikelilingi oleh perlindungan polisi, telah berbaris mengelilingi Kota Tua, merayakan Hari Yerusalem. Namun hal itu tidak akan merubah semangat Warga Palestina untuk berjuang melindungi Masjid al-Aqsa dan tanah air mereka, Palestina.
Dikutip laman Aljazeera, Seorang Aktivis Palestina, Osama Barham mengatakan, saat ini Warga Palestina telah diserang dari berbagai penjuru. Minggu (13/4), Tentara Israel telah melakukan menutup jalan dan mendirikan barikade untuk membatasi Warga Palestina yang hendak mengakses jalan menuju Gerbang Damaskus, salah satu pintu masuk ke Kota Tua.
“Langkah relokasi Kedutaan AS bukanlah masalah yang paling penting di sini,” jelasnya.
Burham yang berdiri berdiri di salah satu sisi dekat Gerbang Damaskus, bersama awak media Palestina dan Arab menyatakan jika ia bersama Rakyat Palestina lainnya mengaku tidak terkejut dengan pemberitaan soal pemindahan Kedutaan oleh Presiden AS Donald Trump serta pengakuannya atas Yerusalem sebagai ibu kota Israel.
“Yerusalem berada di bawah pendudukan sehingga kami tidak merasa bahwa tiba-tiba kami dalam kesulitan karena lokasi baru kedutaan di Yerusalem barat,” kata Barham.
Namun menurutnya, hal yang lebih berbahaya adalah serangan dari orang-orang Yahudi, Israelifikasi Masyarakat Palestina, Pengasingan warga Palestina, Penghancuran rumah-rumah Palestina dan penyerbuan Masjid al-Aqsa.
Tepat di bawah Burham berdiri, sebuah jemaat besar berwarna putih dan biru telah mengumpulkan di tangga batu. Beberapa orang diantara mereka menari-nari dengan nada hingar-bingar, sementara yang lainnya meneriakkan slogan dengan semangat.
Nyanyian-nyanyian para pemukim Yahudi telah menenggelamkan drum dan terompet dari marching band di tengah mereka. Gemuru besar naik ketika polisi Israel menyingkirkan barikade dan membiarkan para pemukim untuk memasuki Kota Tua. Devi Lusianawati
Sumber foto Reuters


















