Berlin, Gontornews — Kementerian Luar Negeri Jerman memperingatkan kepada seluruh warga Jerman yang melancong ke Turki untuk berhati-hati dalam menulis apapun terkait dengan kritik pemerintahan Turki di sosial media, Selasa (23/10).
Sejak pemberontakan yang digelorakan oleh Fahtullah Gulen, Pemerintah Turki di bawah rezim Presiden Racip Tayyip Erdogan melakukan penelusuran pihak-pihak yang terkait dengan kasus percobaan kudeta Presiden Erdogan tak terkecuali warga asing.
Pemerintah Turki tidak akan segan dalam menangkap siapapun yang bersikap vokal untuk mengkritik kepemimpinan Erdogan. Jerman bahkan mencatata ada sekitar puluhan warga Jerman yang dipenjarakan pihak Turki sejak kudeta gagal yang terjadi pada tahun 2016 tersebut.
Peringatan ini dikeluarkan Jerman dalam rangka memperbaiki hubungan bilateral kedua negara. Sebagaimana diketahui, Jerman merupakan ‘surga’ bagi 3 juta imigran keturunan Turki.
Salah seorang punggawa tim nasional sepakbola Jerman yaitu Mesut Ozil jadi salah seorang pria kelahiran Turki yang ikut ambil bagian dalam perhelatan Piala Dunia 2014 silam di Brazil. Dalam hajatan 4 tahun tersebut, Jerman ditahbiskan sebagai Juara Piala Dunia 2014 sebelum akhirnya gelar tersebut lengser ke Prancis pada 2018 yang lalu.
“Penangkapan dan penuntutan sering dikaitkan dengan menyampaikan sebuah kritik terhadap pemerintah Turki,” kata pernyataan Kementerian Luar Negeri Jerman sebagaimana dilansir Reuters.
“Dalam beberapa kasus, sekedar menyukai (sebuah postingan pengkritik pemerintah) sudah dapat dijadikan bukti yang cukup,” tambah pernyataan tersebut.
Lebih lanjut, Turki menganggap bahwa penyebaran informasi yang disebarkan oleh kelompok oposisi dilakukan melalui media sosial karena media tradisional lainnya hanya memberitakan informasi positif tentang pemerintah maupun sosok Presiden Erdogan.
Jerman mengaku kewalahan dalam mengendalikan arus dan pengaruh Ankara terhadap komunitas Turki di Jerman. Pasalnya, Turki menyebut bahwa komunitas pengkhiatan pemerintah Erdogan berdomisili di Jerman dan jumlahnya terus berkembang pesat.
Tidak hanya itu, beberapa warga Turki di Jerman mengakui khawatir didieportasi dan dianggap sebagai teroris. Sebagian dari mereka bahkan mengakui mendapatkan pengawasan dari intlejen Turki. [Mohamad Deny Irawan]


















