Jakarta, Gontornews — Aksi unjuk rasa pada Jumat (4/11) malam sempat diwarnai ketegangan di sekitar Istana Negara, Jakarta. Satu orang korban meninggal karena sesak nafas setelah kena tembakan gas air mata.
Korban wafat adalah Syahrie Oemar Yunan, warga BInong Permai Blok F14 no. 24 RT 07 / 07. Dia juga guru ngaji dan aktivis Masjid Al Amin Binong.
Keluarga korban sudah mengikhlaskan kepergian almarhum. Semoga wafat sebagai syahid karena berjuang membela agama dan kitab Allah. “Namun begitu, pihak keluarga menuntut penistaan agama yang dilakukan Ahok harus ditindak dengan hukum,” papar Gilang, putra sulung almarhum, seperti dikutip Republika.co.id.
Gilang menambahkan, pihak keluarga tidak menuntut penyelesaian dengan cara hukum Islam. “Tapi hukum negara yang berlaku,” ujarnya.
Menurut Gilang, almarhum ayahnya meninggal dunia karena tidak kuat menahan gas air mata yang ditembakkan sejumlah aparat keamanan di lokasi sekira pukul 19.00 WIB Jumat (4/11).
Kepastian penyebab kematian tersebut, kata Gilang, diperoleh ketika almarhum dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Di rumah sakit itu pula ayahnya menghembuskan nafas terakhir. Gilang mengaku tidak menyertai ayahnya berdemonstrasi.
“Kronologisnya, ketika jam tujuh malam, saat pembubaran paksa kena gas air mata. Saya tidak di lokasi. Ayah bersama tetangga. Sempat dibawa ke RSPAD Gatot Soebroto. Wafatnya dinyatakan di rumah sakit,” kata Gilang Sabtu (5/11).
Gilang menyatakan, keluarganya tak berkaitan dengan kelompok politik apa pun. Ayahnya berangkat bersama sejumlah tetangga ke lokasi unjuk rasa dengan niat pribadi.
Saat ini jenazah masih disemayamkan di rumah duka yang beralamat di Kelurahan Binong, Curug, Kabupaten Tangerang. Rencananya, pemakaman almarhum akan dilangsungkan hari ini.
“Orang tua saya bukan orang partai. Tidak membawa atribut. Semata-mata kehadiran ayah saya dalam aksi demo 4 November itu sebagai simpati dan umat kaum Muslimin,” pungkasnya. [DJ]



















