Seratus tahun pertama Gontor telah berlalu dengan penuh keberkahan. Dari sebuah pondok sederhana yang berdiri pada tahun 1926, oleh Trimurti, anak-anak yatim, yang miskin harta tapi kaya gagasan. Kini telah lahir sekitar 1.500 pesantren anak, cucu, dan cicit yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebuah capaian yang tidak lahir dari kekuatan modal, tetapi dari kekuatan nilai, ide, dan keteladanan.
Namun pertanyaan besar yang kini muncul, yaitu: Apa agenda Gontor pada abad keduanya? Apakah cukup hanya mempertahankan warisan yang telah ada? Ataukah kita harus melangkah lebih jauh, membangun peradaban pendidikan Islam yang lebih luas, lebih kuat, dan lebih terintegrasi?
Di sinilah gagasan Ma’had Ashriyah Muttahidah (MAM) menemukan relevansinya.
Dari Pesantren yang Banyak Menjadi Jaringan yang Kuat
Keberadaan 1.500 pesantren alumni Gontor merupakan anugerah besar. Namun jumlah yang besar tidak otomatis menjadi kekuatan besar apabila berjalan sendiri-sendiri. Seribu lima ratus lembaga yang tidak saling terhubung hanya akan menjadi angka.
Sebaliknya, 1.500 lembaga yang memiliki visi, arah, komunikasi, dan kerjasama yang kuat akan menjadi kekuatan peradaban. Karena itu, tantangan abad kedua bukan hanya mendirikan pesantren baru, melainkan menghubungkan pesantren-pesantren yang telah ada dalam satu jaringan ukhuwah dan pemberdayaan yang kokoh—networking.
MAM dapat menjadi wadah strategis untuk memperkuat jaringan tersebut.
Ma’had Ashriyah Muttahidah: Persatuan Tanpa Menyeragamkan
Muttahidah berarti bersatu. Tetapi persatuan bukan berarti menyeragamkan (Dawuh KH Hasan Abdullah Sahal).
Setiap pesantren tetap memiliki sejarah, karakter, budaya lokal, dan kekhasan masing-masing. Namun seluruhnya dapat dipersatukan oleh nilai-nilai dasar yang sama:
– Keikhlasan.
– Kesederhanaan.
– Kemandirian.
– Ukhuwah Islamiyah.
– Kebebasan yang bertanggung jawab.
Nilai-nilai inilah yang menjadi DNA pendidikan Gontor dan telah terbukti mampu bertahan selama satu abad.
MAM bukanlah organisasi yang mengendalikan pesantren-pesantren tersebut, melainkan rumah besar yang mempertemukan, menguatkan, dan menyinergikan mereka.
Tantangan Abad Kedua
Memasuki abad kedua, terdapat beberapa tantangan besar yang harus dihadapi bersama. Pertama, Tantangan Kaderisasi Kepemimpinan. Banyak pesantren didirikan oleh generasi pertama alumni yang memiliki semangat perjuangan luar biasa. Kini estafet kepemimpinan harus berpindah kepada generasi kedua dan ketiga. Pertanyaannya: Apakah nilai perjuangan itu berhasil diwariskan?
Kedua, Tantangan Teknologi dan Digitalisasi. Pesantren tidak boleh tertinggal dalam penguasaan teknologi. Dunia berubah sangat cepat. Kecerdasan buatan AI, digitalisasi pendidikan, ekonomi digital, dan komunikasi global harus menjadi bagian dari kompetensi santri masa depan.
Ketiga, Tantangan Ekonomi Umat. Kemandirian pesantren tidak cukup hanya dalam bidang pendidikan. Abad kedua menuntut lahirnya jaringan ekonomi pesantren yang kuat sehingga umat tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan pelaku ekonomi.
Keempat, Tantangan Persatuan Umat. Di tengah polarisasi sosial dan politik, pesantren harus tetap menjadi perekat bangsa dan penjaga moderasi Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
Dari 1.500 Menjadi Ribuan
Jika dalam seratus tahun pertama Gontor yang bermula hanya satu melahirkan sekitar 1.500 pesantren, maka bukan sesuatu yang mustahil pada abad kedua akan lahir ribuan Ma’had Ashriyah Muttahidah baru. Bahkan setiap pesantren alumni dapat menjadi pusat lahirnya pesantren-pesantren baru di daerah masing-masing.
Satu pesantren melahirkan lima. Lima melahirkan dua puluh lima. Dua puluh lima melahirkan seratus dua puluh lima. Demikian seterusnya. Seperti pohon yang terus berbuah dan menebarkan benih.
Menanam untuk Seratus Tahun Mendatang
Para pendiri Gontor menanam pada tahun 1926 tanpa sempat melihat hasil besar yang kita saksikan hari ini. Kini kita berada pada posisi yang sama. Apa yang kita lakukan hari ini mungkin baru akan dipanen oleh generasi tahun 2126. Karena itu, tugas kita bukan hanya menikmati warisan para pendahulu. Tugas kita menanam kembali.
Menanam kader.
Menanam nilai.
Menanam jaringan.
Menanam peradaban.
Agar ketika anak-cucu kita berkumpul pada peringatan 200 Tahun Gontor, mereka dapat berkata: “Para pendahulu kami pada tahun 2026 tidak hanya merayakan satu abad Gontor. Mereka juga meletakkan fondasi kokoh bagi lahirnya ribuan Ma’had Ashriyah Muttahidah yang menerangi Indonesia dan dunia.” Aamiin. []




















