Di dalam lingkungan pondok, pendidikan sering kali tidak terdengar, namun terlihat. Ia hadir dalam langkah guru yang lebih dahulu menuju masjid. Dalam kedisiplinan yang tetap terjaga meski tidak ada yang mengawasi. Dalam kesederhanaan yang dipilih sebagai jalan hidup. Dalam pengabdian yang dilakukan tanpa banyak bicara. Semua itu menjadi pelajaran yang diam-diam direkam oleh para santri setiap hari.
Pendidikan formal memang berlangsung di dalam kelas dalam kurun dan jenjang waktu tertentu. Namun berbagai kegiatan dan aktivitas berlangsung di luar kelas yang melibatkan seluruh komponen di pondok — mulai dari pengasuh, guru-guru musyrif, pengurus organisasi, pengurus rayon, hingga santri. Di sinilah santri belajar sembari melakukan sesuai dengan tugas dan peran mereka.
Karena sesungguhnya, seorang santri tidak hanya belajar dari apa yang diajarkan, tetapi juga dari apa yang dicontohkan. Ia memperhatikan lebih banyak daripada yang kita kira. Ia melihat bagaimana gurunya bersikap, bagaimana para pengasuh menjalankan amanah, dan bagaimana nilai-nilai pondok diterjemahkan dalam tindakan nyata. Dari sanalah karakter tumbuh dan kepribadian dibentuk.
Sebagaimana jadwal harian dalam kehidupan di pondok: bangun pagi pukul 04.00 WIB, shalat Shubuh berjamaah, membaca al-Qur’an ba’da Shubuh, kegiatan ilqo’ mufrodat, disiplin belajar diruang kelas mulai pukul 07.00 – 12.30, Shalat Dzuhur berjamaah, kegiatan kursus sore hari, shalat Ashar berjamaah, membaca al-Qur’an ba’da Ashar, olahraga tepat pada waktunya, shalat Maghrib berjamaah, membaca al-Qur’an ba’da Maghrib, Shalat Isya’ berjamaah, belajar malam terbimbing, tidur malam tepat waktu dan kegiatan ekstrakurikuler lain seperti latihan pidato, Pramuka, kursus keterampilan dan kesenian, dan lain-lain yang merupakan kegiatan yang harus diikuti santri selama hidup di pondok.
Kegiatan-kegiatan di atas dapat dilaksanakan dengan tertib disiplin dan penuh kesadaran, tentu bukanlah suatu hal yang berjalan begitu saja tanpa proses pembiasaan, pengarahan dan pengawalan serta pengawasan yang bersifat continue. Dalam hal inilah kehadiran seorang pengasuh, guru, musyrif, pengurus organisasi dan pengurus rayon akan memberikan dampak dan pengaruh yang strategis dalam pembinaan santri.
Inilah keteladanan, dalam prinsip di Pondok Modern Gontor adalah keteladanan yang aktif, dinamis serta wujud kehadiran seorang pengasuh atau guru beserta komponen yang lainnya adalah sebuah visual yang akan dilihat dan dirasakan oleh santri.
Sesuai dengan definisi pendidikan menurut Mahmud Yunus;
التَّأْثِيرُ بِجَمِيعِ الْمُؤَثِّرَاتِ الَّتِي نَخْتَارُهَا قَصْدًا لِنُسَاعِدَ بِهَا الطِّفْلَ عَلَى أَنْ يَتَرَقَّى جِسْمًا وَعَقْلًا وَخُلُقًا، حَتَّى يَصِلَ تَدْرِيجِيًّا إِلَى أَقْصَى مَا يَسْتَطِيعُ الْوُصُولَ إِلَيْهِ مِنَ الْكَمَالِ لِيَكُونَ سَعِيدًا فِي حَيَاتِهِ الْفَرْدِيَّةِ وَالِاجْتِمَاعِيَّةِ، وَيَكُونَ كُلُّ عَمَلٍ يَصْدُرُ عَنْهُ أَكْمَلَ وَأَتْقَنَ وَأَصْلَحَ لِلْمُجْتَمَعِ.
“Pendidikan adalah memberikan pengaruh dengan berbagai faktor yang sengaja kita pilih, agar dengannya kita membantu anak untuk berkembang secara fisik, akal, dan akhlak, hingga ia secara bertahap mencapai tingkat kesempurnaan tertinggi yang mampu ia capai. Dengan demikian, ia dapat hidup bahagia dalam kehidupan pribadi dan sosialnya, serta setiap perbuatan yang lahir darinya menjadi lebih sempurna, lebih baik, dan lebih bermanfaat bagi masyarakat”
Salah satu rahasia keberhasilan pendidikan pesantren terletak pada kekuatan lisaanul haal. Santri hidup bersama pengasuh dan guru-gurunya selama dua puluh empat jam. Mereka tidak hanya mendengar apa yang diajarkan, tetapi juga menyaksikan bagaimana nilai-nilai itu dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Prinsip ini telah lama menjadi bagian dari sistem pendidikan Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagaimana termaktub dalam buku KMI Tarbiyah kelas 3:
إِنَّ تَنْفِيذَ التَّرْبِيَةِ الْخُلُقِيَّةِ وَالْعَقْلِيَّةِ لَا يَكْفِي بِمُجَرَّدِ الْكَلَامِ، بَلْ لَا بُدَّ أَنْ يَكُونَ بِالْقُدْوَةِ الصَّالِحَةِ وَإِيجَادِ الْبِيئَةِ، وَكُلُّ مَا يَرَاهُ التَّلَامِيذُ وَمَا يَسْمَعُونَهُ مِنْ حَرَكَاتٍ وَأَصْوَاتٍ فِي هَذَا الْمَعْهَدِ يَكُونُ عَامِلًا مِنْ عَوَامِلِ التَّرْبِيَةِ.
“Pelaksanaan pendidikan akhlak dan intelektual tidak cukup hanya dengan perkataan semata. Pendidikan harus diwujudkan melalui keteladanan yang baik serta penciptaan lingkungan yang mendukung. Segala sesuatu yang dilihat dan didengar oleh para santri di lembaga ini, baik berupa perilaku maupun suara, merupakan faktor-faktor yang berperan dalam proses pendidikan.”
Keteladanan sering kali lebih membekas daripada nasihat. Apa yang dilihat setiap hari lebih mudah ditiru daripada apa yang hanya didengar sesekali. Dari kesungguhan dalam beribadah, kedisiplinan dalam bekerja, kesederhanaan dalam hidup, hingga keikhlasan dalam mengabdi — semuanya menjadi pelajaran yang terus berbicara tanpa kata-kata.
Di sinilah para pengasuh, guru, dan pengurus memegang peran yang sangat penting. Mereka bukan sekadar penyampai ilmu atau pengelola kegiatan, melainkan teladan hidup yang menghadirkan nilai-nilai pendidikan dalam bentuk yang nyata. Santri tidak hanya mendengar nasihat dari mereka, tetapi juga menyaksikan secara langsung bagaimana nilai-nilai tersebut diwujudkan.
Dengan demikian, setiap sikap, tindakan, dan kebiasaan yang ditampilkan oleh pengasuh, guru, dan pengurus menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan. Melalui merekalah nilai-nilai pondok tidak hanya diajarkan, tetapi juga dicontohkan, dihidupkan, dan diwariskan dari generasi ke generasi. Karena sebagaimana nasihat kiai yang telah lama mengakar di Gontor, “Tidak ada kemajuan tanpa kedisiplinan, dan tidak ada kedisiplinan tanpa keteladanan.” []






















