Jakarta, Gontornews — “Saya sangat takut, akankah ada perang lagi? Akankah Amerika menyerang negara-negara Muslim lagi?” tanya aktivis Indonesia Alijah Diete ketika Donald Trump memenangi pemilihan presiden AS, Rabu (9/11).
Ketakutan Alijah tidak berlebihan. Sebab, Desember tahun lalu Trump membuat pernyataan paling kontroversial tentang Islam yang memicu kemarahan di kalangan 1,5 miliar umat Islam di dunia ketika ia menyerukan larangan Muslim memasuki Amerika Serikat setelah penembakan massal di California.
Di Indonesia, negara dengan umat Muslim terbesar di dunia, muncul kegelisahan tentang bagaimana nasib hubungan Indonesia dengan Amerika Serikat, dan bagaimana presiden Trump akan mempengaruhi hubungan antara Amerika dan dunia Muslim.
“Saya sangat khawatir bahwa hubungan antara AS dan negara-negara Muslim akan menjadi tegang lagi,” kata Alijah (47).
Sementara itu Nikken Suardini, karyawati sebuah firma hukum di Jakarta, khawatir dengan larangan Muslim memasuki AS seperti yang pernah diusulkan oleh Trump. “Jika dia terpilih sebagai presiden ia akan mencegah Muslim memasuki Amerika, dan itu tidak adil.”
Ada juga kekhawatiran bahwa kebijakan anti-Islam yang dibawa Trump bisa makin menyuburkan ekstremisme Muslim global.
“Ketika Amerika Serikat menggunakan kekerasan, maka ekstremisme mendapatkan momentum,” kata Zuhairi Misrawi, salah satu aktivis NU, seperti dikutip arabnews.com.
“Mereka yang senang dengan kemenangan Trump adalah ISIS,” katanya.
Sedangkan Munarman, jurubicara Front Pembela Islam (FPI), menggemakan kekhawatiran bahwa Trump kemungkinan akan melakukan diskriminasi terhadap Muslim Amerika. “Kebijakannya terhadap umat Islam akan diskriminatif,” katanya. [Rusdiono Mukri]






















