Depok, Gontornews — Pendidikan itu salah satu inti dari ajaran Islam. Salah satu bentuknya melalui belajar dan membaca apa pun, di mana pun, dan kapan pun. Seperti dalam ayat pertama dari Surat al-‘Alaq.
Dengan pendidikan manusia yang buruk bisa menjadi baik, namun juga sebaliknya. “Maka kunci pendidikan ada pada membaca, dan kunci membaca ada pada kejernihan hati yg disimbolkan oleh “bismi Rabbik“,” terang doktor muda berparas cantik ini kepada Gontornews.com.
Perempuan perlu belajar setinggi-tingginya karena beberapa hal. Pertama, karena belajar itu perintah agama. Kedua, manusia dikenal sebagai learning creature (makhluk yang senantiasa belajar). Maka, ketika kita tidak belajar sejatinya kita tengah berhenti menjadi manusia yang sebenarnya.
Ketiga, perempuan yang belajar saja masih sering dijadikan objek subordinat dalam masyarakat patrialkal. “Maka bisa dibayangkan bagaimana jika perempuan menolak untuk belajar,” jelas dosen Institut Ilmu Keagamaan Annuqayah (INSTIKA), Sumenep, Madura ini.
Doktor Ulya adalah salah seorang doktor muda alumnus Pondok Modern Gontor Putri yang berhasil lulus S3 pada usia 35 tahun. Peraih wisudawan terbaik program doktor UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Ampel tahun 2018 ini pun menyampaikan, “Motivasinya ya karena kangen belajar serius.”
“Saya terjeda lima tahun dari S2 karena ada kelahiran dua bayi marathon,” tambahnya. Jadi ketika mereka sudah bisa ditinggal, langsung gas lagi untuk sekolah. “Untuk saya sekolah itu hiburan. Saya bisa belajar tanpa beban rutinitas dunia kerja,” jawab Ulya, alumnus Gontor Putri tahun 2001.
Ketika wanita yang sudah menikah ingin melanjutkan sekolah, maka perlu kebesaran jiwa suami untuk menggantikan sementara fungsi dan peran ibu di rumah. Jika kondisi suami tidak memungkinkan, maka dia bisa belajar dengan cara lain, di tempat lain, dan waktu lain.
“Namun bagi yang belum menikah dan bertekad kuat untuk terus lanjut sekolah, maka coba carilah calon suami yang akan mengizinkan dan mendukung cita-citamu,” pesan wisudawan terbaik dengan predikat mumtāz, KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia), Kairo, tahun 2006 tersebut. <Edithya Miranti>



















