Jakarta, Gontornews – Bagi sebagian orang, masalah kewarganegaraan adalah tugas negara. Tapi bagi islam, isu kewarganegaraan adalah isu penting. Pun begitu dengan pemahaman tentang filantropi yang hanya dianggap memberian uang atau membangun masjid juga menjadi isu penting perihal sisi sosial umat islam.
“Kajian tentang kewarganegaraan dapat ditinjau dari 3 aspek: politik, hak sipil dan sosial. Pembahasan yang saya lakukan mengacu pada 2 aspek terakhir saja,” terang Dekan Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, Asep Saepudin Jahar dalam diskusi dwimingguan bertema ‘Islamic Philanthropy And Citizenship In Contemporary Muslim Society’ yang diadakan oleh Insitute for Islamic Tought and Civilization (INSISTS), di Jakarta, Sabtu (19/11).
Menurut Asep, prinsip kewarganegaraan dalam islam mengacu pada beberapa kejadian dalam sejarh kenabian seperti penerapan piagam Madinah (623 H); hubungan antara Anshar dan Muhajirun serta penggunaan istilah Ummah dan Qawm dalam Al-Qur’an.
Selain membahas tentang prinsip kewarganegaraan dalam islam, Asep juga menjabarkan tentang potensi filantropi yang dimiliki umat muslim di Indonesia. Baginya, istilah filantropi tidak melulu dikaitkan dengan pemberian uang maupun sekedar membangun masjid.
“Bahkan, ketika anda memberikan tenaga untuk kemaslahatan bersama, itu juga bagian dari filantropi,” kata pria berkaca mata tersebut.
“Wakaf tanah yang dimiliki oleh masyarkat Indonesia mencapai 4,5 miliar meter persegi,” paparnya.
Meski filantropi yang dikumpulkan terbilang besar, masyarakat Indonesia, sebut Asep, belum dapat dirasakan manfaatnya secara luasnya. Meski demikian, peran filantropi di Indonesia juga tidak dapat dikesampingkan seiring dengan kontribusi yang terdistribusikan untuk pembangunan nasional.
“Di Indonesia, kedatangan islam telah memberikan kontribusi dalam hal pembangunan masyarakat baik di sektor agama, sosial dan pendidikan,” ucapnya sambil menyebut zakat, wakaf dan sedekah sebagai 3 komponen penting filantropi dalam Islam. [Mohamad Deny Irawan]



















