Jakarta, Gontornews — Politisi Partai Keadilan Sejahtera, Hidayat Nur Wahid, memastikan partainya akan tetap menjadi oposisi dari pemerintah. Baginya, kontestasi pemilihan presiden seharusnya menjelaskan sikap si pemenang dan si kalah.
Pernyataan ini menyindir kontestasi pemilihan presiden yang melibatkan dua pasangan Calon Presiden: Joko Widodo-KH Ma’ruf Amin dan Prabowo Subinato-Sandiaga Uno. Jika pasangan pertama yang disebut memenangkan kontestasi maka pasangan kedua kalah kontestasi.
Akan tetapi, Presiden Jokowi dikabarkan memanggil Prabowo Subianto, yang didampingi oleh Edhy Prabowo, ke Istana. Prabowo disebut-sebut akan menjadi menteri di kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin di bidang pertahanan.
“Mengapa kemarin kompetisi ada dua capres kalau ujung-ujungnya hanya satu juga. Berkompetisi itu ada konsekuensinya. Jadi kami ingin menyelamatkan demokrasi,” tutur Wakil Ketua Majelis Syuro PKS, Hidayat Nur Wahid, sebagaimana dilansir Kompas.
Lebih lanjut, Hidayat menegaskan bahwa partainya akan tetap menjadi oposisi dan tidak berniat untuk masuk ke dalam susunan kabinet di pemerintahan Jokowi-Ma’ruf Amin.
Ia menuturkan tiga alasan mengapa PKS tidak sudi menjadi koalisi pemerintah. Menurutnya, PKS ingin konsisten dengan rasionalitas berpolitik, konsisten terhadap sikap politik serta mempertimbangkan suara konstituen yang menginginkan adanya check and balance dalam pemerintahan.
“Rasional dalam berpolitik adalah ada kompetisi. Yang menang silahkan memimpin, yang kalah silahkan di luar (beroposisi),” jelasnya.
Terakhir, Hidayat memastikan bahwa PKS tidak akan sendiri menjadi oposisi. Ia memprediksi ada partai-partai yang juga akan menjadi oposisi ke depannya.
“(PKS) Tidak akan sendirian (menjadi oposisi),” pungkasnya. [Mohamad Deny Irawan]


















