Teheran, Gontornews — Aksi protes yang berlangsung di Iran telah menewaskan 106 korban, kebanyakan warga sipil. Ratusan korban tewas tersebut berasal dari 21 wilayah di Iran.
Amnesty Internasional atau Hak Asasi Manusia mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa angka korban tewas diperoleh dari pengumpulan data yang dilakukan langsung di lapangan, mulai dari saksi, keluarga korban hingga petugas Hak Asasi Manusia di wilayah yang dilanda aksi protes.
Organisasi yang bermarkas di Inggris itu juga mengatakan jika jumlah korban tewas kemungkinan bertambah dan melebihi jumlah yang sudah ada dan menuduh pasukan keamanan Iran telah menggunakan kekuatan yang berlebihan dan mematikan dalam menghadapi para demonstran.
“Setidaknya 106 pemrotes di 21 kota telah tewas, menurut laporan yang dapat dipercaya. Jumlah kematian sebenarnya mungkin jauh lebih tinggi dengan beberapa laporan menunjukkan sebanyak 200 telah terbunuh,” kata pernyataan itu seperti dikutip dari Aljazeera.
Tidak ada reaksi langsung dari Pemerintah Iran memgenai jumlah korban tewas. Sebab, Otoritas Iran belum menawarkan laporan pasti tentang berapa banyak orang yang terluka atau terbunuh dalam protes tersebut.
Tetapi kantor berita ISNA melaporkan Senin (18/11) malam bahwa tiga anggota pasukan keamanan Iran dibunuh oleh perusuh di dekat ibukota, Teheran.
Sementara itu, Peneliti Amnesty dan Hak Asasi Manusia di Iran, Raha Bahreini mengatakan jumlah kematian para korban didasarkan pada informasi yang diterima dari akun saksi di lapangan, aktivis hak asasi manusia di dalam negeri, serta jurnalis dan sumber terpercaya di luar negeri.
“Informasi yang kami peroleh menunjukkan adanya pola mengerikan dan pembunuhan tidak sah di seluruh negeri,” katanya dari London.
Ia juga menjelaskan bahwa pihak keamanana Iran meminta keluarga korban untuk segera menguburkan jasad keluarga mereka tanpa harus dilakukan otopsi.
“Ini tentu saja bertentangan dengan hukum dan standar internasional,” tegasnya.
Sejak Jumat, Iran telah diguncang aksi protes nasional yang dipicu oleh kemarahan dan frustrasi masyarakat akibat dari naiknya harga bahan bakar dan pemangkasan subsidi yang membuat harga meningkat hingga 50 persen.
Meskipun Presiden Iran, Hassan Rouhani telah berjanji kenaikan harga akan digunakan untuk mendanai subsidi baru bagi keluarga miskin. Namun keputusan itu justru memicu kemarahan yang meluas di kalangan warga Iran.
Salah satu warga Iran yang juga seorang akuntan, Maryam Kazemi (29) yang tinggal di pinggiran selatan Teheran di Khaniabad, mengatakan harga bahan bakar terbaru itu justru telah menekan masyarakat awam.
“Itu adalah keputusan yang buruk di tengah kondisi ekonomi negara yang buruk.Masyarakat telah lama mengalami kesulitan ekonomi dan Rouhani tiba-tiba mengimplementasikan keputusan tentang bahan bakar,” katanya.[Devi Lusianawati]


















