Jakarta, Gontornews — Soft Launching buku terbaru Direktur Utama Program Kaderisasi Ulama (PKU) Universitas Darussalam (UNIDA) Gontor, al-Ustadz Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, M.Ed., M.Phil. yang berjudul “Minhaj, Upaya Mencapai Kesalehan Intelektual”, bersamaan dengan Bedah Buku “Model Kebangkitan Umat Islam” yang disampaikan salah satu pengajar PKU, al-Ustadz Asep Sobari Lc.
Acara yang berlangsung di Gedung Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini dihadiri seluruh Peserta PKU XIII UNIDA Gontor. Dimoderatori langsung oleh Direktur Eksekutif INSISTS al-Ustadz Dr. Henri Sholehuddin MA yang juga salah satu pengajar di PKU. Agenda ini adalah satu rangakain dari perhelatan Akhir Tahun INSISTS yang ke-17
Pembicara pertama, Ustadz Asep menyampaikan bahwa banyak hal unik ketika mempelajari sejarah kebangkitan umat Islam. Kebangkitan dan kejayaan Islam akan diraih apabila lahirnya gerakan yang berjalan utuh disusun terencana dari berbagai aspek mulai dari pendidikan yang kemudian menumbuhkan gerakan ekonomi, politik, dan militer.
Pembicara kedua, Ustadz Hamid mengawali presentasinya dengan menceritakan latar belakang penulisan buku “Minhaj, Berislam dari Ritual hingga Intelektual”. Salah satunya adalah pernyataan Muhammad Abduh yang mengatakan “saya melihat Islam di Paris tapi tidak menemukan orang Islam, dan saya melihat umat Islam di negara Islam tapi tidak melihat Islam disana”. Ustad Hamid menilai bahwa umat Islam saat ini baru dalam tingkat berislam, belum beriman apalagi berihsan. Padahal hakekat berislam sebagai sebuah worldview yaitu dengan berislam secara sadar dengan cara berilmu, beriman, beramal, dan berfikir. Selain itu, umat Islam saat ini menghadapi tantangan pemikiran Barat yang memiliki paradigm sekuler.
“problem di Barat adalah mereka melihat realitas dan kebenaran terpaku pada empirisisme dan rasionalisme,” tutur ustadz Hamid yang juga menjabat sebagai Ketua MIUMI.
Ustadz Hamid menyatakan untuk bisa berislam dengan kualitas yang baik harus memenuhi tiga ciri. Pertama, Ibadah ritual harus berdampak pada kesadaran ilahiyah. Kedua, Keimanan harus berdampak pada kesalehan amal (akhlaq). Ketiga, Islam-iman-ihsan sebagai totalitas berislam harus berdampak pada kesalehan intelektual.
“Sholatnya mencegah kemungkaran, puasanya menambah ketaqwaanya, zakatnya membersihkan hartanya, hajinya menyempurnakan kebaikannya (birr). Syariahnya disertai aqidah, imannya berdampak pada amalnya. Perilakunya sejalan dengan pikirannya. Islam merupakan pandangan hidupnya,” pungkas Ustadz Hamid.
Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Selanjutnya, Acara Hamid selaku Direktur Utama INSISTS melantik Ustadz Asep Sobari sebagai Direktur Eksekutif INSISTS yang baru menggantikan Ustadz Henri Sholahuddin yang mana beliau dalam waktu dekat akan berangkat bersama keluarganya ke Turki. Wallahu a’lam. [Muhammad Kholid]


















